GuidePedia

0

KabarPKS.com - Aktivis Muslimah harus pandai membagai waktu untuk berbagai kegiatan. Termasuk untuk membimbing putra-putrinya.

Perempuan muda itu menginginkan lembaga pendidikan dan sosial yang dikelolanya bekerja secara profesional dan amanah. Karena itu ia sejak awal telah menanamkan sistem agar orang-orang bergabung dalam lembaganya itu memiliki dedikasi yang tinggi.

“Tanpa dedikasi yang baik akibatnya jadi pincang. Salah satu cara untuk menciptakan SDM-SDM yang berdedikasi tinggi adalah dengan memberikan otonomi kepada mereka untuk berinovasi dan berkreativitasnya,” kata Suryanti, perempuan itu.

Yayasan Pendidikan dan Sosial Al-Qudwah (Depok) yang berdiri sejak tahun 1992, dimana Ustadzah Yanti–panggilan akrabnya–duduk sebagai Asisten Manajer, berupaya untuk mengimplementasikan dakwah secara adil. Semangat dedikasi para staf dan karyawan begitu diperhatikan. “Kita selalu memikirkan masalah kesejahteraan sesuai dengan keadaan yayasan saat ini,” katanya.

Pihak yayasan, kata Utadzah Yanti, memberikan otonomi kepada penyelenggara pendidikan, baik tingkat TK, SD, dan Perguruan Tinggi (STAI Al-Qudwah). Cara demikian, lanjutnya, dapat meningkatkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan dalam mencapai tujuan. “Alhamdulillah para pengajar di sini menikmati kekeluargaan yang sangat dalam di antara mereka,” ujarnya.

Ustadzah Yanti meyakini untuk mengelola lembaga pendidikan secara profesional tidaklah gampang. Dibutuhkan pemahaman, pengetahuan, dan kebijakan yang baik sesuai dengan kaidah-kaidah profesionalitas. Merasa berlatar belakang pendidikan syariah, ia mendalami studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Tinggi Agama Islam At-Taqwa di Bekasi, yang ia selesaikan pada tahun 2000.

“Hal-hal yang sebelumnya tidak saya ketahui, misalnya tentang manajemen pendidikan, jadi tahu. Sehingga, dengan ilmu yang praktis itu lebih mudah menjalankan yayasan pendidikan ini,” akunya.

Kegiatan mengurus Yayasan Al-Qudwah yang didirikan tahun 1993 ini merupakan salah satu dari sekian banyak kegiatan dakwah Ustadzah Yanti. Agenda rutinnya sebagian besar diisi dengan memberikan materi tarbiyah dan pengajian pada sejumlah majelis taklim. Setiap hari nyaris waktunya disisihkan untuk itu. Sementara di hari Kamis ia secara rutin menghadiri rapat Departemen Kewanitaan DPD PKS Depok. Di tempat ini ia duduk sebagai Deputi Kebijakan Kewanitaan.

Kali lain wanita kelahiran Depok, 19 September 1965 itu menjadi narasumber untuk kegiatan seminar dan diskusi keislaman. “Kadang-kadang saya diminta berbicara tentang pendidikan anak, masalah keluarga, fikih, dan masalah remaja,” ujarnya.

Meski begitu padat kegiatannya di luar rumah, Ustadzah Yanti tidak melupakan kewajiban mendidik 4 putra-putri, buah pernikahannya dengan Ustadz Amang Syafruddin, Lc. Bahkan, katanya, secara rutin keluarganya menyediakan waktu untuk kegiatan bersama untuk rihlah. “Paling tidak dua pekan sekali saya dan suami mengajak anak-anak jalan-jalan sambil makan ke luar rumah,” tandasnya.

Cara seperti itu, katanya, dilakukan demi menjaga kehangatan dan pendidikan keluarga kepada anak. Kegiatan ini juga terbukti dapat menunjukkan keterbukaan antaranggota keluarga. Misalnya, kala putra sulungnya yang tahun ini akan memasuki dunia perguruan tinggi secara terang mengemukakan keinginannya untuk melanjutkan ke Fakultas Kedokteran karena keinginannya untuk menjadi seorang dokter.

Keterbukaan menjadi salah satu bagian penting dalam mendidik anaknya. Orang tua, katanya, memberikan qudwah (teladan) yang tidak hanya memberikan instruksi-instruksi semata, namun juga contoh. Tidak pula memberikan perintah pada mereka dengan cara “menggurui”.

Ia memahamkan kepada buah hatinya tentang tanggung jawab sesuai jenjang perkembangan jiwa dan raganya. “Ketika dia sudah menginjak usia remaja, dia ibaratnya sebagai partner saya. Tugas saya adalah membimbing dan mengarahkan mental mereka. Misalnya, saya katakan, ‘Keberhasilan belajar ada di tangan kamu, jadi tergantung usaha kerasmu’,” katanya. Dan nyatanya, keempat anaknya yang sudah bersekolah mendapat prestasi yang tak mengecewakannya.

Komunikasi bersama anak selalu dievaluasi. Sehingga pada akhirnya tidak ada masalah yang ditutupi mereka. Sebab, sedikit saja terdapat masalah itu dia anggap berbahaya. “Satu hal lagi, saya selalu mengajak anak-anak supaya kelak dapat berkiprah di masyarakat. Caranya misalnya dengan terlibat dalam organisasi sekolah sebagai sarana pembelajaran,” paparnya.

Di sisi lain, tugas sebagai istri seorang utadz yang memiliki jadwal kegiatan dakwah padat, ia juga membantu sang suami dengan baik. Misalnya, mengingatkan dan mengatur jadwal kegiatan suami. Baginya tugas-tugas dakwah suami harus dipersiapkan sebaik mungkin agar berjalan sesuai dengan rencana.

Semua kiprahnya, baik di rumah maupun di luar rumah menjadi komitmen hidup Ustadzah Yanti. Ini sebagaimana motto hidupnya, yakni berguna untuk orang banyak dan hari ini lebih baik dari hari kemarin. RKI)

Post a comment

 
Top