GuidePedia

0

sumber foto: facebook
Lalu mengapa kita perlu bertakwa? Sebab manakala di akhir hayat (kehidupan) kita tidak memiliki derajat takwa, kita tidak akan bisa memasuki surga Allah subhanahu wata’ala. Karena surga Allah hanya diberikan dan disediakan bagi orang-orang yang bertakwa sebagaimana dalam firman Allah

 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” [QS. Ali Imran (3): 133]

Ayat ini tidak hanya menyuruh kita untuk bersegera dalam melakukan istighfar, akan tetapi ada makna yang lebih luas dari itu. Imam Sayuti dalam kitab Fawa’idnya, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wa saari’uu ilaa maghfiroh adalah bermakna wa saari’uu ila sababil maghfiroh, bersegera menuju pada ampunan Allah dengan cara bersegera menuju pada sebab-sebab ampunan Allah. Sebab-sebabnya adalah:

Pertama, Bertaubat pada Allah dengan memperbanyak istighfar

Dalam satu hadits, Rasulullah bersabda, “Alangkah beruntungnya bagi orang yang memperbanyak istighfar sehingga di hari kiamat nanti dia akan mendapatinya dalam catatan-catatan shohifahnya.” Tidak ada yang pernah luput, baik itu yang kecil maupun yang besar kecuali semuanya telah tercantum dalam kitab catatan amal tersebut. Rasulullah adalah orang yang maksum (terbebas dari dosa), akan tetapi beliau beristighfar dalam sehari semalam mencapai seratus kali.

Kedua, Memperbanyak ketaatan kepada Allah

Ramadhan ini adalah sayidus syuhuur (penghulu bulan). Dengan momentum ini, kita isi dengan memperbanyak dzikir, tilawah, qiyamul lail, dan ibadah-ibadah tathowwur (sunnah) lainnya. Kalau sudah seperti ini akan lahir atau memiliki visi Ramadhan yang menghasilkan manusia yang bertakwa, dan dengan bertakwa menghasilkan jannah (surga).

Orang yang visioner itu adalah orang yang memahami apa yang hendak ia capai, dan bagaimana cara mencapainya. Kadang-kadang kita ini menginginkan surga Allah dengan ingin berkumpul dengan isteri dan anak-anak di Surga, akan tetapi anak kita dari pagi sampai malam-malam bermain video game terus. Apakah begitu karakteristik dari ahlil jannah? Tentu tidak.

Ikhwan-akhwat sekalian, jadi visi dari hidup dan kehidupan kita ini adalah ingin mencapai mardhotillah (ridho Allah). Kita tidak ingin di akhir dari kehidupan kita ini tidak memperoleh mardhotillah. Karena ia tidak dapat diganti dengan pangkat dan jabatan apapun. Kalau Allah sudah ridho pada kita, maka Allah menyediakan bagi kita surga yang mengalir di dalamnya surga-surga dan kenikmatan yang lainnya. Dalam satu ayat Allah berfirman;
    
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” [QS. Al-Baqarah (2): 207]

Ada satu kisah seorang sahabat yang bernama Hanzholah. Di saat-saat dia  menikmati indahnya malam pertama dari pernikahannya, tiba-tiba ia mendengar panggilan jihad, tanpa berpikir panjang ia pun menyambut seruan itu, padahal beliau belum sempat mandi junub. Dalam perjalanan Rasulullah melihat Hanzholah, kemudian beliaupun bertanya, “Wahai Hanzholah, gerangan apakah yang membuat engkau terburu-buru?” Lallu dijawabnya, “Wahai Rasulullah, aku mendengar seruan jihad, lalu akupun menyambut seruan itu karena aku rindu akan surga Allah.” Kemudian peperangan berkecamuk, maka beliaupun syahid.

Dalam riwayat lain disebutkan, ada seorang sahabat yang sedang makan kurma. Pada saat itu peperangan sedang berkecamuk, lalu dia bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa balasan bagi orang yang berjihad di jalan Allah?” Rasul menjawab, “al-Jannah (Surga).” Kemudian kurma yang belum dihabiskan itu dia letakkan, lalu ia pun masuk dan bergabung dengan pasukan muslimin, kemudian ia pun meraih syahadah yang diinginkannya itu.

Mungkin begitu pula yang memotivasi terjadinya bom syahid pada setiap peperangan seperti di Palestina, Afghanistan, dan di belahan dunia lainnya. Rasulullah pernah bersabda, “Jihad itu akan terus dan terus berlangsung sampai hari kiamat.”

Abu Bakar ash-Shiddiq ketika mengomentari ayat Watazawwadu fa inna khoirozzaadi at-taqwa (dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik perbekalan adalah takwa), beliau mengatakan, “Barangsiapa yang masuk kubur tanpa ada perbekalan bagaikan seorang yang ingin mengarungi samudra tanpa kapal.” Kemudian ia melanjutkan, “Ini adalah suatu hal yang mustahil, bagaimana kita bisa mengarungi samudra tanpa kapal?”

Oleh karena itu, hendaklah kita di dalam Ramadhan ini meningkatkan diri kita dengan:

1. BERJIWA KARIIM (KEDERMAWANAN)

Kedermawanan seseorang di bulan Ramadhan, di beberapa negara Islam seperti Turki dan Mesir, pada saat menjelang berbuka puasa, para pemilik toko sudah mempersiapkan makanan untuk ifthor, ini bukan untuk pemilik toko saja, tetapi untuk umum bahkan mereka rebutan untk menawarkan kepada orang yang lewat di depan tokonya untuk menikmati apa yang disediakan oleh mereka. Gerangan apakah yang memotivasi mereka untuk melakukan semua itu? Yang memotivasi mereka adalah karena mereka paham betul akan makna hadits Rasulullah yang berbunyi, “Barangsiapa yang memberi makan untuk orang yang sedang berbuka maka niscaya dia diampuni segala dosa-dosanya oleh Allah, dan dibebaskan lehernya dari api neraka, dan diberikan kepadanya pahala sebesar pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”

Ada salah seorang sahabat yang memprotes Rasulullah karena dia tidak mampu untuk memberikan pada orang lain untuk berbuka, lalu ia pun berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.” Lalu Rasul bersabda, “Pahala yang tiga itu akan diberikan oleh Allah, kalaulah (meskipun) orang itu memberikan sebutir kurma untuk orang lain untuk berbuka.” Jadi marilah kita tingkatkan jiwa kariim kita kepada orang yang membutuhkan.

2. TA’YIINUL IRODAH (MELURUSKAN KEINGINAN-KEINGINAN)

Bulan Ramadhan adalah momentum besar bagi kita untuk melatih diri dari keinginan-keinginan syahwat syaithoniyah kita. Makanya, Ibnul Qoyyim dalam kitabnya, beliau mengatakan bahwa pokok dari kemaksiatan itu ada tiga. Pertama, takluknya hati manusia kepada selain Alalh yang berujung pada berbuat syirik kepada-Nya. kedua, dorongan kemarahan kita yang berujung pada pembunuhan. Ketika, kekuatan syahwaniyyah yang berujung pada perbuatan zina. Dari semua ini, kita kendalikan dengan bershiyam dan dengan bershiyam akan meluruskan keinginan-keinginan kita yang bengkok seperti itu.

Ikhwan-akhwat sekalian, sesungguhnya dalam diri kita ini mengandung dua potensi, yaitu potensi untuk berbuat fujur (dosa) dan potensi untuk bertakwa, nah shiyyam Ramadhan inilah mendominankan potensi takwa di atas potensi fajir tadi, sehingga potensi-potensi fujur atau keinginan-keinginan untuk berbuat fujur tidak muncul ke permukaan.

3. TAZKIYATUN NAFSI (MEMBERSIHKAN JIWA)

Marilah kita pada bulan Ramadhan ini banyak melakukan tazkiyatun nafsi (membersihkan jiwa), dengan memperbanyak melakukan amalan-amalan sunnah untuk merontokkan bintik-bintik hitam yang ada pada hati kita. maka alangkah berbahagialah bagi orang yang selalu membersihkan hatinya, dan merugilah orang yang selalu mengotorinya.

Ikhwan-akhwat sekalian, marilah pada bulan Ramadhan kita memperbanyak dzikir, doa, tilawah, qiyamul lail, dan berdialog dengan-Nya di saat-saat manusia terlelap dalam tidurnya seraya mengemukakan segala hajat kita agar Allah menjaga diri kita, keluarga kita dan menjaga bangsa ini daripada kesesatan dan lain-lainnya.

4. MENGHIDUPKAN HATI

Mari kita hidupkan hati dengan memperbanyak bertaubat, karena Rasulullah bersabda, “Setiap anak adam itu memiliki dosa dan kesalahan dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang selalu bertaubat.”

5. BERDAKWAH

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan, bahwa pada bulan Ramadhan ini jangan sampai kita hanya mementingkan diri kita sendiri. Karena ada amal jariyyah seperti berdakwah, mengajak orang lain untuk berbuat baik. Kita manfaatkan potensi diri kita ini untuk naafi’ah lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain). Ramadhan suasananya mendukung bagi kita untuk bisa berdakwah, maka seharusnyalah kita lebih aktif lagi berdakwah, karena dakwah itu harus dimulai dan jangan sampai berhenti. Ishlah nafsaka wad’u ghoiroka (perbaiki diri dan ajak orang lain).

Dalam satu riwayat, diceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tatkala dihadapkan seluruh manusia di hadapan Allah, ada seorang laki-laki diseret di tengah-tengah padang masyhar yang bergelantungan di tangan kanan dan tangan kirinya istri dan anak-anaknya. Ketika sang anak dan istri dihisab dia tidak memiliki bekal di hadapan Allah Swt, kemudian ketika divonis masuk neraka mereka berkata: Ya Robb kami, ambillah hak kami darinya karena sesungguhnya dia dulu sewaktu di dunia tidak  pernah mengajarkan kepada kami tentang apa yang kami tidak ketahui, lalu isterinya berkata aku dinikahi karena cantik rupaku dan merasa senang kepadaku, demikianlah aku bergaul dengannya, tetapi aku tidak pernah diajari tentang apa-apa yang aku tidak ketahui, maka ambillah hakku kepadanya.”

Mari kita ajak masyarakat kita, dengan mujtama’ (masyarakat yang baik), dengan ciri-ciri dan dengan gaya berpakaian yang baik, dan dengan berhubungan baik antartetangga, kita perbaiki daulah (pemerintahan), insya Allah kriminalitas akan menurun, keamanan terjamin.

Ikhwan-akhwat sekalian, jadi peran da’i harus kita teruskan. Karena da’i mendapatkan satu kemuliaan di sisi Allah Swt. Kalau saya mengibaratkan, da’i itu bagaikan seorang insinyur pertanian, di mana dia selalu memperhatikan para petani, lalu kemudian dia tingkatkan intesifikasi dan ekstensifikasi, lalu dia menyelidiki bibit-bibit yang cocok sesuai dengan iklim daerah, dia berikan penuluhan untuk para petani dan masyarakat tentang bagaimana tata cara untuk bercocok tanam yang baik, agar hasilnya lebih baik. wallahu a’lam bishshowaab.
_______________________

*) Tulisan ini diambil dari buku Panduan Ibadah Ramadhan yang diterbitkan Data Press tahun 1427 H.

Post a Comment

 
Top