GuidePedia

0
KabarPKS.com - Jakarta - Ditemukannya pabrik ekstasi dan sabu di LP Cipinang Jakarta adalah tamparan telak untuk Presiden SBY, karena masyarakat akan semakin mempertanyakan komitmen pemerintah untuk melakukan pemberantasan narkoba.


"Lapas tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, lembaga ini tidak lagi sesuai dengan peruntukannya. Bila selama ini publik meyakini bahwa lapas kerap dijadikan markas untuk mengendalikan bisnis narkoba, namun sekarang lebih parah lagi, lapas dijadikan tempat produksi narkoba," jelas Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS, Aboe Bakar Al-Habsyi, di Jakarta, Rabu (7/8).
Selama ini masyarakat diyakinkan, seolah lapas telah diawasi dengan ketat dengan berbagai sidak yang dilakukan. Itu utamanya dilaksanakan oleh Wamenkumham Denny Indrayana.
Namun berbagai fakta terungkap bahwa lapas digunakan untuk berpesta narkoba, mengendalikan bisnis narkoba, bahkan kini digunakan untuk produksi narkoba.
"Hal ini menunjukkan bahwa persoalan narkoba di lapas sudah sistemik, bagaimana mungkin produksi sabu dan ekstasi di Lapas Cipinang hanya diketahui satu atau dua orang," tambahnya.
"Bagaimana mungkin bahan dan alat produksinya bisa masuk lapas tanpa ada kontrol dari pihak lapas?"
Karena itulah dia menilai keadaan itu membuktikan ada mafia hukum yang harus ditindak tegas di lapas.
Bila Presiden memiliki komitmen dalam pemberantasan narkoba, maka harus segera mengambil langkah strategis.
"Lapas kita telah gagal dikelola, tempat ini bukan lagi sebagai sarana pertaubatan, malah menjadi markas narkoba. Ini sudah darurat dalam penegakan hukum, maka presiden harus turun tangan dan mengevaluasi Kemenkumham," kata Aboe Bakar.
Sebelumnya, Kemenkumham dan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri menggerebek LP Narkotika Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (6/8) malam. Dalam penggerebekan yang dipimpin langsung oleh Menteri Hukum dan HAM, Amir Syamsuddin dan Direktur Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri, Brigjen Pol Arman Depari ini, petugas menemukan berbagai barang yang diduga prekursor atau bahan pembuat narkoba jenis shabu, yakni sekitar tujuh bungkus berisi bubuk berwarna merah, enam bungkus berisi bubuk berwarna kuning.
Selain itu, petugas juga menemukan beberapa kaleng berisi cairan yang diduga merupakan residu atau sisa dari produksi sabu, sebuah benda yang diduga alat pencetak narkoba, satu buah jeriken berisi cairan bening, dua buah buku tabungan, lima unit handphone jenis CDMA (Code Division Multiple Access), charger dan headset handphone, serta beberapa buah simcard. Berbagai barang bukti tersebut ditemukan petugas di beberapa titik yang ada di dalam area Bengkel Kegiatan Kerja para napi bernama 'Kayna Workshop'.
"Dari bentuk fisiknya, ini merupakan zat jenis red posfor yang biasanya digunakan sebagai bahan pencampur atau katalisator dalam proses pembuatan narkotika jenis sabu. Saya lihat ada cairan yang kemungkinan residu atau sisa dari diproduksi, tetapi ini belum dapat kita pastikan. Untuk memastikan barang-barang ini prekursor atau bukan akan dilakukan Puslabfor Mabes Polri," kata Arman Depari saat ditemui di Lapas Narkotika Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (6/8) malam.

Menurut Arman, berbagai temuan ini merupakan bahan yang tidak lengkap untuk dapat menghasilkan narkoba jenis sabu. Berbagai bahan lain yang diduga digunakan memproduksi sabu masih terus dicari.

(beritasatu/pks.or.id)

Post a Comment

 
Top