GuidePedia

0


KabarPKS.com - Jakarta - Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengunjungi kampung pemulung di tempat pengolahan limbah Lebak Bulus, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu. Kunjungan tersebut akan menjadi masukan dalam penanganan pemulung di masa depan.
"Penanganan pemulung tidak bisa dikerjakan sendirian oleh Kementerian Sosial, tetapi harus bersinergi dengan instansi lain agar mereka lebih berdaya," kata Salim Segaf Al Jufri, seraya menyebutkan, di Jakarta saja saat ini ada sekitar 1.031 pemulung yang mengais rezeki dari limbah.
Mensos terkesan dengan kerja para pemulung di daerah itu yang mengolah limbah sampah botol plastik minuman kemasan menjadi serbuk plastik. Produk tersebut kemudian dijual ke perusahaan pembuat bijih plastik untuk selanjutnya diolah kembali menjadi produk plastik kresek.
Salim Segaf menegaskan, penanganan pemulung berbeda dengan pengemis. Sebab, mereka memiliki pekerjaan yaitu memungut dan mengumpulkan barang bekas atau limbah rumah tangga, seperti besi bekas, plastik bekas dan lainnya.
Hingga kini, lanjut Mensos, para pemulung mendapat perhatian dari pemerintah. Sebagian difasilitasi oleh mitra Kementerian Sosial (Kemensos) di sejumlah lembaga kesejahteraan sosial.
"Meski memiliki pekerjaan, para pemulung mereka tinggal di gubuk-gubuk darurat di pinggiran kali dan pinggir rel kereta api, lahan-lahan kosong terlantar. Mereka berpindah-pindah tempat dengan membawa anak dan istrinya. Hal semacam ini kan harus dipikirkan bagaimana mereka bisa tinggal di hunian yang layak," ujarnya.
Mensos menuturkan, ada 26 permasalahan kesejahteraan sosial termasuk kebencanaan, keterlantatan, ketunaan, kemiskinan, kecacatan, keterpencilan, serta tindak kekerasan.
Kondisi demikian sangat mengkhawatirkan, karena makin maraknya masalah sosial berupa tawuran atau konflik sosial antar warga sudah menimbulkan banyak korban fisik, psikologis, maupun harta benda.

Jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) menyebar seluruh Indonesia. Data Kemensos 2012 menunjukkan, ada 230 ribu anak jalanan, 1,8 lanjut usia (lansia) terlantar, 7 juta penyandang cacat (1,7 cacat terlantar), 270 ribu kepala Keluarga (KK) korban bencana sosial (konflik sosial), gelandangan serta pengemis. (suarakarya/pks.or.id)

Post a Comment

 
Top