GuidePedia

0
Oleh: Deddy Sussantho*

Suatu hari, seorang guru ngaji memerintahkan salah seorang muridnya untuk membelikan suatu benda di sebuah Supermarket.

“Anakku, tolong belikan aku benda seperti ini.” ujar Sang Guru lembut sembari menyodorkan contoh benda yang hendak dibeli. Tak lupa ia memberikan selembar uang Rp 50.000,- kepada Sang Murid.

“Baik, guru. Aku akan membelikannya untukmu.”

Tetiba Sang Murid di Supermarket, ia segera mencari benda tersebut. Tak perlu waktu lama untuk ia menemukannya. Lantas ia kemudian membawanya ke tempat Kasir. Namun ternyata, setelah diperiksa sejenak, penjaga kasir menolak mentah-mentah uang Rp 50.000,- yang baru saja ia terima dari Sang Murid. Dengan tegas penjaga kasir mengatakan bahwa uang tersebut adalah palsu!

Sang Murid tak bisa berbuat apa-apa. Dengan perasaan kecewa, malu, dan marah yang bercampur menjadi satu, ia segera kembali kepada Sang Guru dan menceritakan semua yang baru saja ia alami.

“Guru, aku tak dapat membawa barang yang engkau inginkan. Uang yang guru berikan adalah palsu!”

Mendengar hal itu, Sang Guru justru menangis. Sang Murid yang merasa heran kemudian bertanya kepada Sang Guru.

“Mengapa engkau menangis, guru?”

“Tidak anakku… aku hanya membayangkan… apa jadinya jika tiba saatnya kita berhadapan dengan Allah, dengan seluruh perhitungan amal-amal kita, namun semua itu ditolak hanya karena keimanan yang kita bawa adalah palsu!”

Mendengar jawaban tersebut, Sang Murid pun ikut menangis.

***

Saudaraku, apa jadinya bila keimanan yang kita bawa saat ini adalah palsu? Sehingga seluruh amal yang kita bawa pun terasa palsu. Shalat kita, tilawah kita, sedekah kita, kerja kita, dan lainnya, menjadi tak berharga karenanya. Palsu. Karena sejatinya ada sekerat kedustaan pada semua itu. Ada perasaan sombong, riya’, atau ujub, yang menyembul pada setiap amal-amal kita. Palsu. Sebab bukan karena Allah lagi kita berbuat, melainkan karena lainnya kita semangat.

Saudaraku, mari kita beristighfar… Rasakan getaran iman itu. Hidupkan kembali nyalanya pada jiwa. Karena boleh jadi, tumpukan noktah hitam dari kemaksiatan-kemaksiatan telah merampas cahaya itu dalam hati kita. Karena boleh jadi, tertutupnya hati menjadi penyebab hilangnya kepekaan kita dalam mengendarai dua kendaraan menuju barokah: sabar dan syukur. Maka wajar apabila kita selalu merasa sulit, semua urusan menjadi rumit, hidup pun terasa sempit.

Saudaraku, Ramadhan sebentar lagi meninggalkan kita…

Bagaimana perasaan kita? Senangkah? Sedihkah? Atau justru biasa-biasa saja? Kita ingat, para sahabat nabi jurstu menangis tatkala berada di penghujung Ramadhan. Mereka berharap seluruh hari dalam setahun adalah Ramadhan. Begitu besar cinta mereka kepada Ramadhan. Mereka sadar, Ramadhan adalah bulan yang memiliki banyak keutamaan yang mampu mendekatkan diri mereka kepada Allah.

Saudaraku, Ramadhan sebentar lagi meninggalkan kita…

Sudahkah kita memaksimalkan bulan ini guna meraih ampunan-Nya, cinta-Nya, surga-Nya? Atau justru diri ini seperti seorang atlet atletik yang tampak kepayahan di akhir putaran menuju garis finish? Mari sejenak kita tengok kembali perjalanan yang telah kita tempuh, adakah kepalsuan itu? Atau dengan bangganya kita merasa puas dengan prestasi ibadah yang masihlah sedikit itu? Astaghfirullah…

Mari kita beristighfar, Saudaraku…

Istighfar, apabila mulutnya masih suka dipakai mencela, menghina, atau berdusta…
Istighfar, apabila telinganya masih senang mendengar ghibah, atau hal-hal tak berguna…
Istighfar, apabila matanya masih sering melihat apa-apa yang tak semestinya dilihat…
Istighfar, apabila tangannya masih ringan dalam menyakiti orang-orang…
Istighfar, apabila kakinya masih saja bergerak ke tempat-tempat maksiat…
Istighfar, apabila pikirannya masih suka terlintas hal-hal kotor dan buruk…
Istighfar, apabila hatinya masih suka menyimpan umpatan, menyisakan rutukan, sulit ikhlas…
Istighfar, apabila kualitas hidup kita di bulan Ramadhan, selama ini, ternyata tak jauh berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Tak jauh berbeda lalainya. Tak jauh berbeda kemalasannya. Tak jauh berbeda kemaksiatnya.

Mari kita bersama beristighfar, saudaraku. Adalah sangat menakutkan bila Ramadhan berlalu kita, namun dosa-dosa kita belum diampuni-Nya. Istighfar… Hadirkan kembali lantunan nasihat itu… Bayangkan Saudaraku, siapkah jikalau ternyata ini adalah Ramadhan terakhir kita?

***

Astaghfirullah robbal barooyaa
Astaghfirullah minal khotooyaa

Hidup di dunia sebentar saja
Sekedar mampir sekejap mata
Jangan terpesona jangan terpedaya
Akhirat nanti tempat pulang kita
Akhirat nanti hidup sebenarnya

Astaghfirullah robbal barooyaa
Astaghfirullah minal khotooyaa

Barang siapa Allah tujuannya, Niscaya dunia akan melayaninya
Namun siapa dunia tujuannya, Niscaya kan letih dan pasti sengsara
Diperbudak dunia sampai akhir masa

Astaghfirullah robbal barooyaa
Astaghfirullah minal khotooyaa

Kasih sayang alloh maha mempesona
Betapapun kita menghianatinya
Tiada terputus curahan nikmatnya
Selama dinanti kembali padanya
Selama dinanti bertobat padanya

Allah melihat Allah mendengar
Segala sikap dan kata kita
Tiada yg luput satupun jua
Allah takkan lupa selama-lamanya
Allah takkan lupa selama-lamanya

Ingatlah maut pasti kan menjemput
Putuskan nikmat dan cita-cita
Tak dapat ditolak tak dapat dicegah
Bila waktu hidup berakhir sudah
Bila waktu hidup berakhir sudah

Astaghfirullah robbal barooyaa
Astaghfirullah minal khotooyaa

Tubuhpun kaku terbungkus kafan
Tiada guna harta pangkat dan jabatan
Tinggallah ratapan dan penyesalan
Menanti peradilan yang menetukan
Menanti peradilan yang menetukan

Astaghfirullah robbal barooyaa
Astaghfirullah minal khotooyaa

Wahai sahabat cepatlah taubat
Karena ajal kian mendekat
Takutlah siksa yang menghancurkan
Azab jahanam sepanjang zaman
Azab jahanam sepanjang zaman

Astaghfirullah robbal barooyaa
Astaghfirullah minal khotooyaa

Allah pengampun penerima taubat
walaupun dosa sebesar jagad
Wahai sahabat cepatlah taubat
Karena ajal kian mendekat

[Nasyid Aa' Gym ~ Istighfar]

***

Saudaraku, jika saatnya tiba… waktu di mana kita kembali ke haribaan-Nya… pernahkah kita mengira kemana muara kita bersua?

Kita sadar, bekal yang kita kumpulkan tak cukup untuk ‘membeli’ Surga-Nya. Namun kita pun tahu, panasnya Neraka tak mampu kita derita.


 "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’Raf: 23)
________________________________
*) Adaptasi muhasabah jelang sahur pada I'tikaf Masjid Baitul Hikmah, dengan beberapa penambahan dan pengurangan.


Post a Comment

 
Top