GuidePedia

0


KabarPKS.com - Jakarta - Komisi V DPR RI mendesak pemerintah dan pemerintah daerah menyetop operasional bus-bus yang tidak laik jalan. Hal itu mendesak dilakukan untuk mencegah terulangnya kecelakaan maut seperti yang terjadi di Cisarua, Rabu (21/8). Ketua Kelompok Komisi (Kapoksi) V Fraksi PKS Sigit Sosiantomo mengungkapkan hal itu menyusul terjadinya kecelakaan bus Giri Indah yang masuk ke dalam sungai di desa Cisarua, Bogor yang menewaskan 18 penumpangnya.
“Dugaan sementara penyebab kecelakaan maut ini adalah rem bus yang blong. Ini menunjukan bahwa bus ini dalam kondisi tidak laik jalan. Tapi tetap dipaksakan dan akhirnya berujung maut. Karena itu, sekali lagi kami menghimbau pemerintah dan pemerintah daerah serta aparat yang memiliki kewenangan untuk menguji kelaikan untuk lebih care. Jangan masalah uji kelaikan hanya dijadikan formalitas saja,” jelas Sigit, politisi PKS asal Jawa Timur ini.
Sigit menegaskan, berdasarkan pasal 48 UU No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan harus memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Dan salah satu tolok ukur kelaikan jalan kendaraan bermotor, kata Sigit, adalah system rem berfungsi dengan baik.
“Bagaimana kendaraan bermotor bisa dikatakan laik jalan kalau remnya blong? Padahal UU LLAJ sudah secara tegas menyebutkan kendaraan dikatakan laik jalan apabila kendaraan tersebut memenuhi 11 kinerja minimal kendaraan seperti rem berfungsi baik, akurasi pengukur kecepatan, kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban, dan kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat Kendaraan,” tegasnya.
Untuk itu, Sigit mendesak pemerintah dan aparat terkait menegakan implementasi UU LLAJ dengan menyetop operasional kendaraan umum yang tidak laik jalan. Menurut Sigit, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk tidak membiarkan bus-bus tidak laik jalan berkeliaran di jalan raya dan bebas menaikan penumpang.
Disisi lain, Sigit juga mendesak pemerintah untuk mewajibkan perusahaan otobus untuk melakukan peremajaan armadanya yang sudah tidak laik jalan. “Harus ada upaya dari pemerintah untuk mendorong peremajaan armada busnya. Pemerintah juga harus membantu dan memberikan solusi kepada pengusaha-pengusaha bus agar bisa mendapatkan kemudahakan kredit, perijinan dan memberikan insentif lain yang bisa memdorong pengusaha mau melakukan peremajaan armadanya,” imbuh Sigit.
Dalam kesempatan itu, Sigit juga meminta perusahaan bus Giri Indah untuk bertanggung jawab terhadap semua korban kecelakaan. “Pasal 188, 234 dan 235 UU LLAJ sudah mengatur mengenai kewajiban perusahaan angkutan umum dan pengemudi untuk bertanggung jawab atas kerugian yang diderita akibat terjadinya kecelakaan. Jadi, tidak ada alasan bagi perusahaan angkutan untuk tidak menanggung seluruh biaya perawatan dan santunan bagi korban yang meninggal. Apalagi, UU LLAJ juga sudah mewajibkan setiap perusahaan angkutan umum untuk ikut asuransi,” urai Sigit.
Berdasarkan pasal 234 dan 235 UU LLAJ, Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/atau Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh Penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga karena kelalaian Pengemudi. Jika korban meninggal dunia akibat Kecelakaan Lalu Lintas,Pengemudi, pemilik, dan/atau Perusahaan Angkutan Umum wajib memberikan bantuan kepada ahliwaris korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana.
Jika terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban akibat Kecelakaan Lalu Lintas, pengemudi, pemilik, dan/atau Perusahaan Angkutan Umum wajib memberikan bantuan kepada korban berupa biaya pengobatan dengan tidak menggugurkan
tuntutan perkara pidana.
Selain berhak mendapatkan santunan dan biaya perawatan dari perusahaan angkutan, korban kecelakaan juga berhak mendapatkan pertolongan dan biaya perawatan dari pemerintah dan santunan dari asuransi, sebagaimana diatur dalam pasal 240 UU LLAJ.

Post a Comment

 
Top