GuidePedia

0
Oleh: Deddy Sussantho

Kenapa beli gadget begitu mudah menyenangkan,tapi untuk beli hewan qurban begitu sulit dan banyak banyak perhitungan?

Kenapa buat hangout ke mall-mall rasanya kaki begitu ringan melangkah,tapi buat ke masjid untuk shalat atau ke pengajian rasanya sangat berat?

Kenapa nonton bola malam-malam bisa sangat semangat sekali,tapi buat qiyamul lail atau berlama-lama tilawah rasanya sangat malas?

Kenapa? Mungkin, karena memang begitulah tabiatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
”Surga diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai, dan neraka diliputi oleh kenikmatan syahwat.” (HR. Tirmidzi)

Dalam kitab al-Hikam, Ibnu ‘Athoilah radhiyallahu’anhu pernah bertutur,

إذا التبس عليك أمران فانظر أثقلهما على النفس فاتبعه فإنه لا بثقل عليها إلا ما كـــان حقا
“Apabila ada 2 perkara yang samar bagimu, maka lihatlah yang paling berat menurut nafsu kemudian ikutilah. Karena sesungguhnya tak ada yang berat bagi nafsu selain perkara yang benar.”

Di fase akhir zaman seperti sekarang ini, mengikuti nafsu sudah terlalu mainstream. Kebatilan dikemas begitu menarik sehingga menjadi pembiasaan dan seolah suatu kebenaran. Mereka yang terjebak pada arus keburukan dan menjadi bagian di dalamnya, merasakan kenikmatan dalam bermaksiat. Orientasi mereka adalah materi dan pemenuhan hawa nafsu. Pun begitu, di sisi lain, masih ada oarng-orang yang memutuskan menjadi terasing dan berbeda dari biasanya. Mereka berbeda, karena di saat yang lain  tenggelam di jalan yang hina, mereka tetap teguh di jalan takwa. Mereka memahami tujuan hidup, memiliki keyakinan atas kebenaran, dan beraksi dengan totalitas dalam menggapai ridho Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa.

Inilah cinta. Tingkat tertinggi keimanan sekaligus buah dari ma’rifatullah (mengenal Allah). Dan sebagaimana biasa, cinta selalu menuntut pembuktian ketulusan melalui pengorbanan segala hal demi yang dicinta. Kalau kata orang-orang yang jatuh cinta, “Apa sih yang enggak buat Kamu?”

Allahu Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imron: 92)

Semoga cinta itu merasuk pada jiwa kita, sehingga menggerakkan hati dan meringankan langkah kita untuk berkorban.

Kuantitas yang kita korbankan mungkin penting, karena menunjukkan kekuatan dalam mempersembahkan yang terbaik, tapi itu bukan yang terpenting, karena yang terpenting adalah ketulusan, ketakwaan, atau kalau saya boleh menyebutnya sebagai responsifitas iman dalam menyambut seruan kebaikan (ruhul istijabah).

Lihatlah para sahabat Rasul dan salafush shaleh, sejarah mencatat betapa kehidupan mereka diisi oleh aktivitas berlomba-lomba dalam kebaikan, seolah tak mau tertinggal dalam mengambil bagian. Apa yang mereka punya, mereka infakkan di jalan Allah.

Kita ingat dengan perang Tabuk, di mana saat itu kondisi paceklik, panas, dan secara nafsu mungkin lebih baik memilih menetap di rumah dengan keluarga. Tapi apakah para sahabat berlemah hati saat itu? Tidak! Mereka mengorbankan apa yang mereka punya; raga, harta, hingga jiwa.

Sejarah mengabadikan ketulusan cinta mereka di jalan Allah.
  • ‘Utsman bin Affan menyumbang 1000 dinar dan memasok 300 unta beserta muatannya untuk keperluan para pasukan.
  •  ’Umar bin Khaththab menginfakkan 50% hartanya. Ketika ia ditanya Rasul tentang apa ia sisakan untuk dirinya dan keluarganya, beliau menjawab, “Aku menyisakan sejumlah yang kusumbangkan untuk aku dan keluargaku.”
  • Abu Bakar ash-Shiddiq justru menginfakkan 100% hartanya. Dan ketika mendapat pertanyaan yang sama, beliau menjawab, “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk aku dan keluargaku.”
  • Abdurrahman bin ‘Auf mengorbankan 2000 dirham, yang itu merupakan separuh dari hartanya saat itu.
  • Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Apakah ia lantas urung berkontribusi? Tidak! Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam. Hal ini sampai Allah abadikan dalam surah al-Baqarah ayat 274.
  • Lalu bagaimana dengan mereka yang faqir, yang tidak memiliki harta untuk diinfakan? Mereka menemui Rasul sambil menangis, kuatir tidak disertakan menjadi pasukan. Mereka menangis karena takut tidak bisa berbuat taat! Allah pun melihat ketulusan mereka, hingga Allah jadikan mereka pasukan Tabuk. Hal ini terabadikan dalam surah at-Taubah ayat 92.
Ya, ketulusan itulah yang Allah lihat. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Qs. Al Hajj: 37)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. (HR. Muslim.)

Allahu a’lam…


Post a Comment

 
Top