GuidePedia

0


MEDAN - Kepala BKKBN Pusat Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D mengakui sejak 2002 seiring berjalannya Otonomi Daerah isu-isu kependudukan cenderung diabaikan bahkan dilupakan para kepala daerah di seluruh Indonesia. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan, karena dapat memicu ledakan penduduk dan menurunkan kualitas penduduk Indonesia.
Menyadari kondisi ini, Pemerintah Pusat kemudian kembali menggiatkan program keluarga berencana, dan  keluarga sejahtera. Apalagi menurut prediksi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) penduduk Indonesia pada tahun 2050 akan mencapai 340 juta jiwa.
“Tapi kita tidak sedang berbicara jumlah, kita ingin keluarga berkualitas. Keluarga yang bisa menyediakan bagi anak-anaknya kesempatan sekolah setinggi-tinggi, bisa menyediakan kesehatan, rumah memadai, makanan yang sehat yang pada akhirnya memunculkan generasi kuat berkualitas,” kata Fasli Jalal saat membuka Temu Nasional Pembinaan Program Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Regional I yang diikuti para Kepala Bidang BKKBN dari 16 provinsi di Sumut, di Emerald Hotel, Senin (30/9).
Dalam pertemuan yang juga dihadiri Gubernur Sumatera Utara H Gatot Pujo Nugroho, ST, MSi ini, Kepala BKKBN Pusat tersebut tak lupa menerangkan sejarah panjang BKKBN. Sebuah lembaga yang lahir seiring lahirnya Orde Baru.
Menurutnya, kala itu Pemerintah langsung memikirkan bagaimana caranya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui keluarga-keluarga berkualitas. Saat itu jumlah penduduk Indonesia 125 juta jiwa, dengan perkiraan rata-rata pasangan usia subur memiliki anak 5-6 orang.
Kondisi ini jika tidak dimanajemi secara cermat akan memunculkan ledakan penduduk. Keluarga yang tidak terencana dengan baik akan memunculkan masalah social. Apalagi berdasarkan prediksi, jika kependudukan tidak ditangani secara bijak  maka pada tahun 2010 penduduk Indonesia akan meningkat menjadi 340 juta jiwa.
“ Alhamdulillah, berkat kerja keras kita semua, menurut sensus 2010 penduduk kita hanya 237 juta jiwa,” ujar Fasli Jalal.
Kini tantangan serupa kembali di depan mata. PBB memprediksi Indonesia pada tahun 2050 akan mencapai 330 juta jiwa. Jumlah dan potesi SDM yang sangat besar, meski juga mengandung kerawanan social yang besar juga.
Tidak ingin ledakan penduduk terjadi, Pemerintah Pusat pun kembali menggeber program-program keluarga sejahtera. Pemerintah menargetkan jumlah penduduk Indonesia paa tahun 2050 tidak lebih dari 330 juta jiwa. Indonesia dengan penanganan keluarga yang baik berharap memiliki generasi-generasi yang lebih kokoh, sehat dan berkualitas.
Gubernur Sumatera Utara menyambut antusias kembali digiatkan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera. Sumut yang bercita-cita menjadi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia bagian barat, menurutnya memandang penting manajemen demografi.
“Untuk mewujudkan itu, tentu akan lebih mudah dengan SDM-SDM yang berkualitas. Pertumbuhan ekonomi tentu juga tidak jauh-jauh dari ketahanan ekonomi dan kesejahteraan tiap-tiap keluarga,” tegas Gubsu.

Temu Nasional Pembinaan Program Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Regional I  ini digelar bertujuan untuk meningkatkan komitmen Operasional  PK3 di tingkat provinsi, kabupaten, kota, secara luas dengan melibatkan mitra kerja Kegiatan ini dibagi dua regional,  yakni regional I di Medan dan regional II di Surabaya.  Untuk Regional I temu nasional ini diikuti 238 peserta dari 16 provinsi.

Post a Comment

 
Top