GuidePedia

0

ilustrasi
Anda punya anak? Hem, kalau saya sih belum. Atau setidaknya, Anda punya adik atau keponakan, atau sepupu atau malah anak tetangga? Ya, yang penting anak kecil lah. Lalu, ada apa dengan mereka?
Nah, sangat banyak penelitian di luar sana yang menyatakan pentingnya pendidikan di masa kecil seorang manusia, masa kanak-kanak. Pada masa itu mendidik anak ibarat melukis di kertas putih pun di batu yang maknanya kurang lebih betapa mudahnya memberikan mereka input. Terbayang kan? Maka input (pendidikan) baik positif atau negatif akan dengan mudah terserap sang anak. Masa emas, demikian tersebutkan.
Pertanyaan selanjutnya. Pernahkah Anda membohongi anak? Misalkan, mengatakan bahwa mainan atau makanan ringan itu tidak dijual demi menjadikan anak diam saat merengek memintanya. Atau menjanjikan ini itu agar anak tak lagi menangis? Ingat ingatlah. Kalau saya pernah dan saya sangat menyesal atas itu.
Dalam perjalanan tadi siang dengan seorang sahabat, saya menyaksikan fenomena tersebut. Sebuah fenomena yang sangat biasa dan mungkin sering kita temui atau bahkan lakukan. Seorang ibu melarang putri kecilnya untuk menyentuh sebungkus makanan ringan yang dijual di warung kecil. “Jangan, itu tidak dijual,” kata sang ibu. Anak manis yang semula ingin meraih bungkusan itu dengan menjinjit mengurungkan tangannya yang telah menjulur ke atas.
Hemm. Bagi kita orang dewasa, hal ini nampak biasa saja. Biarlah, atau apapun yang terbersit dalam pemikiran kita. Tapi, entah saya yang lebai atau bagaimana, tiba-tiba di otak saya mengaitkan peristiwa ini dengan kasus AM, seorang ketua Mahkamah Konstitusi yang tengah berkemelut atas kasus dugaan korupsinya itu. Hehe, jauh banget ya.
Bukan soal apa-apa. Kasus korupsi sudah bukan barang ‘wah’ dalam perguliran kehidupan negara kita. Atau malah saking seringnya kita melihat di media, mendengar, dll hal itu menjadikan kita apatis terhadapnya. “Ah, ujung-ujungnya korupsi! Gak ada tuh pejabat yang ‘bersih,” dan ungkapan jenis lainnya yang demikian.
Apa kaitannya dengan kisah anak yang menjadi pengantar tadi?
Perihal korupsi erat kaitannya dengan berbohong, kebohongan, di samping hal lain yang juga menjadi pendukungnya. Nah, saya hanya membayangkan saja. Apa ada kaitannya dengan pendidikan berbasis kebohongan (jika saya boleh menyebutnya demikian) dengan korupsi yang menggurita kini? Jangan-jangan kita yang mengakunya orang dewasa ini justru menjadi kontributor besar dalam mendidik generasi yang tak jujur?
Ya, mungkin sangat sederhana. Kita hanya ingin anak diam, tidak merengek. Tapi, apa iya harus dengan berbohong? Berbohong yang mungkin kita anggap sederhana dan seringkali kita abaikan ini jangan-jangan menjadi penyumbang besar bagi mental tak jujur yang terpatri di generasi kita. Katakanlah kita ‘sekadar’ berbohong menyatakan kalau balonnya tidak dijual, atau permennya pahit, atau hal lain. Nah, hal itu terpatri kuat di memori sang anak. Bahwa berbohong itu sah sah saja, bahwa dalam keadaan terpepet alias terpaksa kita tidak jujur, tak menjadi masalah, maka saksikanlah bagaimana generasi yang terbentuk atas pendidikan kita yang demikian.
Saya tidak dalam kapasitas untuk menyatakan bahwa pendidikan demikian menjadi faktor yang berpengaruh besar bagi mental koruptor anak pada saat dewasa nanti. Saya hanya ingin mengajak diri saya dan Anda untuk sebisa mungkin jujur dalam mendidik anak. Sulit? Memang. Jujur pada anak bukan berarti mengatakan semua-muanya tanpa penyaring. Bukan. Jujur mendidik anak mengarahkan kita untuk menjadikan anak partner dalam kehidupan. Jujur mendidik mereka akan mendewasakan sekaligus mengapresiasi keberadaan mereka. Mungkin kita berdalih, ah, kan mereka masih kecil, masih anak-anak. Tau apa mereka?
Eh, jangan salah. Di masa anak-anak seperti mereka, kemampuan serap dan daya ingat mereka beribu kali lipat lebih baik dari kita. Kemampuan merekam maupun mengeksplorasi mereka sangat tajam. Memang, logika dan daya pikir abstrak mereka belum sepenuhnya terkativasi. Tapi dengan jujur terhadap mereka, mendidik mereka untuk mulai bertanggung jawab, perlahan akan memberikan makna mendalam pada mereka akan berharganya sebuah kejujuran dan kebenaran. Mereka tidak akan mudah menggadaikan harga diri dengan nilai mata uang karena sebuah kejujuran itu lebih mahal dari itu semua, meski pahit.
Maka jika kita memang peduli dengan bangsa ini, mari bersama upayakan untuk jujur pada anak kita, anak-anak di sekitar kita. Kita meyakini merekalah penerus kita untuk negeri tercinta ini. Maka dengan keyakinan itu, mulailah untuk benahi input yang kita berikan untuk mereka. Mereka (anak-anak) memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang jujur.
Wallahu a’lam bish showab. []

Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra
rumahkeluargaindonesia.com

Post a Comment

 
Top