GuidePedia

0
Orang-orang dewasa, berkeluh kesah, berkata: betapa busuknya politik di Indonesia. Bahwa negara ini diurus komplotan koruptor. Bahwa kepentingan kita ada di tangan manusia-manusia jelmaan tikus berperut buncit berkepala tandus. Kerat uang rakyat. Timbun, tambun. Ubah tabungan jadi vila-vila besar di Puncak. Mobil-mobil mentereng di jalanan. Baju-baju bermerek sengau. Perhiasan kilau. Kasarnya: apa yang bisa kita harapkan dari mereka? 

Mungkin mereka bahkan tidak berpikir tentang kita. Mereka hanya mau pusing soal pribadi—meski jabatan yang mereka emban berteriak, menjerit, memaki sebaliknya. Wakil rakyat harusnya mewakili rakyat. Jika tidak, lebih baik ganti nama saja; wakil nafsu, wakil keinginan pribadi, atau tetap bernama wakil rakyat—tapi harus ditambahi embel-embel pengkhianat. 

Tapi semua hal itu tidak terjadi; tidak ada wakil rakyat yang harus ganti nama jabatan, rakyat menderita dikibuli terus-terusan. Sesuatu yang seolah-olah tidak tergambar menjelang Pemilu seperti sekarang. 

Hey, tiba-tiba semua parpol tampil bak malaikat. Tiba-tiba para aleg incumbent dan caleg yang ingin jadi incumbent memajang foto-foto terbaik di seantero trotoar, tiang listrik, jembatan penyeberangan, bahkan sampai menjarah ruang rumah orang. Entah sudah izin atau belum—menyebalkan. Sebegitu raksasakah keinginan mereka mewakili kita di parlemen negara? 

Mengeluarkan sekian dana untuk mengiklankan diri. Mengerahkan tenaga-tenaga lepas untuk mondar-mandir wara-wiri memasang baliho warna-warni. Dan berbohong dengan kata-kata yang terlalu percaya diri. Apa tidak salah? Jika bualan itu punya bukti, mungkin efeknya tidak akan sememuakan ini. Tapi, mana buktinya? Dasar malaikat kesiangan. Senyum imitasi. Pose menggelikan. 

Berujar, “Pilihlah saya!”

Apa mereka tidak malu sama sekali?

Mungkin itu yang berdentam-dentam di dalam dada. Di dalam kepala. Sepanjang arteri, denyut nadi, degup jantung pompa darah-darah berliter jumlahnya. Tidak ada yang berani menyalahkan korban-korban politik di ranah ini. Mereka terlalu banyak. Mereka terlalu sengsara. Bertahun. Berdekade. 

Ujung-ujungnya, setelah memilih, atau diimbali beberapa ratus ribu di fajar hari pemilihan, rentang panjang kemelaratan. Mereka salah pilih. Mereka dibayar untuk menutup mata. Dan mereka mau. Bodohnya. Tapi lapar telah menutup akal mereka. Apa mau dikata? Kurang gizi berarti kurang pertimbangan. Ada lambung yang harus disempal. Dan itu tidak tertambal dengan umbar orasi kebangsaan. Masyarakat berpikir pendek. Lapar hari ini, makan hari ini. Peduli hari ini adalah pemilihan umum untuk pemerintahan lima tahun ke depan, dan ada yang mau memberi dana segar untuk mencontreng satu nama tertentu, walau itu sangat mencurigakan, peduli setan! Makan, ya makan. Hidup harus disambung dengan suapan. Besok urusan belakangan.

Sungguh logika sederhana dari otak-otak yang merana.

Siklus yang sama terjadi berkali-kali. Seperti tradisi. Lingkaran yang tak pernah putus. Wah, basi. Namun nyaris sebagian besar dari kita tetap memeliharanya dalam hari-hari. Seperti Lebaran, tapi bukan. Seperti tujuh belasan, tapi bukan. Pesta rakyat murahan. Siapa yang pesta, siapa yang rakyat. Tidak jelas. Remang. Buram. Nihil penerangan. Jelaga, seperti sinetron—tak ada selesainya. Judul-judul beda, tapi isinya sama saja. Sudah ini, ada lagi. Sudah itu, muncul lagi. Habis gelap, gelap lagi. Terbit terang? Itu Kartini. Bukan bangsa ini.

Benarkah?

Sangat mungkin di dunia ini ada orang-orang yang masih menyediakan sedikit kepalanya untuk berpikir. Mencari jawaban dari renungan yang menuntut jawaban. Masih adakah harapan untuk bernapas? Di mana-mana lumpur. Di mana-mana hampa udara. Kita simalakama; tidak bisa mati, tapi tidak ada alasan paru-paru bekerja kembali. Menghadapi hari ini dan esok dengan analogi ini. Sakit, sakit sekali. Mayat, tapi belum tamat. Belum tamat, tapi mayat. Seburuk itukah imbas perilaku politikus bangsa kita? Ya, bahkan lebih buruk lagi. Jika ada ungkapan yang lebih pas, beritahu saja pakai TOAC masjid sebelah. Yang berampli hitam kusam bersarang labah-labah. Dikunci, marbotnya tidur telentang di atas sajadah.

Ingin hati ini untuk pesimis, tapi Tuhan melarang jauh sebelumnya. Lewat Jibril, sabda rasulNya. Tidak pantas orang beriman berputus asa. Kenapa? Karena kita punya Tuhan yang mampu melakukan apa saja. Karena Allah Mahakuasa. Mungkin hari ini bangsa kita tak ada bedanya. Tapi, kita harus tetap percaya: harapan itu selalu ada. Itulah satu-satunya yang kita punya sebagai jelata. Sebagai hamba. Allah jaminannya. Allah tidak akan membiarkan bangsa ini terpuruk selama kita mau berprasangka, berencana, dan berusaha. Betul kita harus yakin, tapi keyakinan butuh kerja. Konkret nyata. 

Berhentilah mengucapkan doa yang buruk-buruk. Tanpanya, keadaan sudah cukup buruk. Mengatakan yang buruk tidak akan menjadikan segalanya jadi lebih baik. Mulailah dari diri sendiri untuk perbaiki kondisi negara ini. Berhentilah punya keyakinan yang jelek. Hangatilah hati kita dengan kata-kata yang baik. Harapan yang indah. Tidak peduli seberapa tidak mungkin kelihatannya, tidak peduli seberapa mustahil prosentase terwujudnya. Mimpi seperti itu. Jangan merusaknya dengan mengatakan tidak mungkin, sebab mimpi ditakdirkan terbang sampai ke langit—meski ia tidak bersayap. Dia akan terbang, melawan realita. Entah bagaimana caranya, ia akan tetap terbang. Dan realita pun tercengang. Parasnya tertegun, benar-benar tercengang. Lalu mimpi lantang berkata padanya dari angkasa, “Bukan aku yang harus mengikutimu, tapi kamulah yang harus mengikutiku!”

Betul politik telah memiskinkan kita. Betul politik telah kelabui kita. Tapi dengan tidak mengacuhkan, apatis, membiarkannya, bukan jawaban. Politik akan terus bergerak, tidak peduli kita diam atau mengutuknya sampai Kiamat. Dia akan terus punya prajurit. Dia akan terus punya penguasa. Dia akan terus merusak. Dia akan terus menjajah. Politik hidup? Tidak, tapi pelakunya iya. Politik adalah kata. Politik adalah keadaan. Politik adalah situasi yang harus direbut. Siapa yang merebut kemudian adalah penentu seperti apa wajah politik di depan. 

Di hadapan kita, kini telah tampil orang-orang yang siap merebut politik dari tangan penguasa sebelumnya. Memang tidak semua dari mereka bisa kita harapkan, tapi salah bila kita berkata tidak ada dari mereka yang bisa kita harapkan. Di dunia ini tidak ada satu negeri yang benar-benar tanpa harapan. Di mana ada orang jahat, pasti ada orang baik. Itulah pertarungan abadi. Setan ada di mana-mana, tapi malaikat juga ada di mana-mana. Harapan akan terus hidup selama Tuhan ada—dan itu selamanya. Percaya atau tidak, itu menentukan akan seperti apa hati kita selanjutnya: penuh asa dan keinginan memperbaiki bangsa atau sekadar menonton, mencaci, harus siap jadi korban selanjutnya. 

Tidak ada jaminan ke depan politik Indonesia akan lebih baik dari sekarang, tapi setidaknya kita berusaha. Usaha itu banyak artinya di hadapan Sang Pencipta. Dia menghargai orang-orang yang mau berikhtiar dan membenci para pecundang yang selalu berkata, “Tidak ada gunanya berusaha.” Apa yang para pecundang itu tahu soal “tidak ada gunanya”? Apa berkata “tidak ada gunanya” itu ada gunanya? Apa usaha sama sekali tidak ada artinya kecuali ia berhasil? Berusaha lambang kemanusiaan kita. Bukan bagian kita menulis takdir yang akan terjadi. Bukan sesuatu yang terhormat pula menakdirkan usaha sebelum takdir sesungguhnya berkata. Berhentilah jadi Tuhan! 

Kita bukan Tuhan. Kita tidak berhak menilai usaha apa pun untuk memperbaiki bangsa ini tidak ada gunanya. Kita tidak berhak mengatakan tidak ada orang baik. Kita tidak berhak menuding semua politikus itu busuk. Siapa yang tahu hati orang? Tembus mata kita ke dalam dada mereka? 

Belajarlah menghargai yang sedikit, sesedikit apa pun itu. Jika ada orang yang bilang kecil harapan Indonesia untuk bangkit, itu melambangkan caranya berpikir. Itu melambangkan sempitnya hati. Melambangkan betapa ia tidak percaya Allah bisa berbuat apa saja. Lalu kita percaya? Betapa bodohnya. Lebih bodoh dari pencetusnya.

Yakinilah apa pun bisa terjadi. Bahwa hidup penuh dengan kemungkinan. Tidak ada yang tidak mungkin. Pelajarilah orang-orang yang siap merebut bangku kekuasaan. Di antara mereka, ada yang beda. Tidak sama. Punya kesadaran. Punya harapan. Punya iman. Punya rencana. Punya tekad. Punya hati untuk mendengar dan memperjuangkan kita. Bila engkau telah menemukannya, pilihlah ia. Jangan ragu. Istikharah bila perlu. Kita harus memperjuangkan hidup kita sendiri, bukan? 

Ini masalah keyakinan memang. Benar-benar masalah keyakinan....

Sumber : Asa Muchias

Post a Comment

 
Top