GuidePedia

0
Menjelang tahun pemilu 2014, berbagai cara dan strategi digencarkan parpol-parpol peserta pemilu. Moment idul fitri tidak luput menjadi peluang dalam melakukan sosialisasi dan pendekatan pada simpul-simpul masyarakat. Saya melihat banyak kegiatan sosial dan sebagainya. Lebaran kurban pun dijadikan sarana para caleg dan parpol dalam menarik simpati dan dukungan masyarakat.

Spanduk-spanduk ucapan selamat dengan foto dan logo partai bertebaran di jalan-jalan. Sebagai anggota masyarakat Jakarta yang berlatar pendidikan komunikasi penyiaran islam, membaca kalimat dan simbol serta pesan yang tertuang dalam media itu memiliki nilai penting. Media-media tersebut tampil dengan gambar, bahasa, kata dan simbol dengan maksud menyampaikan pesan tertentu dimana pesan itu diharapkan mampu menarik, memberi informasi dan mempengaruhi pembaca (masyarakat). Dan media spanduk itu masih laris dan gencar digunakan di Indonesia. Jadi mari kita tidak menyepelekan spanduk-spanduk yang masih ampuh dan bertahan sebagai media sosialisasi ini.

Seperti yang diketahui masyarakat indonesia, media massa selalu memiliki ‘tema’ bagi partai bernama PKS. Apapun kejadian yang terjadi pada PKS senantiasa menjadi tema-tema berita yang menarik sekecil apapun masalah yang dimiliki partai islam tersebut. Sedangkan tema-tema besar selalu susah terjejer di headline-headline berita lebih lama daripada berita-berita tidak ‘laku’ yang lagi-lagi PKS. Seakan-akan media sedang mencoba mengarahkan mata publik dari kenyataan-kenyataan kompleks di negeri ini selain bombastisnya masalah PKS. Kali ini saya ingin menyorot tema dan pesan apa yang ingin disampaikan PKS. Kalau biasanya masyarakat menilai dari framing (bingkai) berita yang telah diolah sedemikian hingga dan tertata bagian-bagian yang patut diberitakan atau di-skip seperti kasus bocornya ‘pesanan’ berita live TV One yang minta ‘golkarnya jangan disebut ya’. Saya ingin mengajak masyarakat mampu membaca dan menilai secara langsung dan jujur dari media melalui sarana kampanye parpol sebagai subjek tanpa perantara dan editorial berita.

Kembali ke spanduk. Ada pesan yang berbeda ketika masyarakat melihat dan membandingkan tema-tema yang menyiratkan pesan dan tujuannya. Segalanya berbicara. PKS pernah mengucapkan permintaan maaf atas salah dan khilaf melalui medium spanduk massalnya. Saya rasa ini wajar mengingat PKS saat itu sedang panas-panasnya ditimpa badai politik. Dan setiap manusia yang terlibat di dalam politik pasti memiliki kesalahan dan ketidaksempurnaan maka sepatutnya tokoh-tokoh publik indonesia meminta maaf. Termasuk PKS dan parpol lainnya.

Uniknya PKS selalu ada tema tak kalah dari besarnya hantaman badai yang menimpanya. Diantara sekian banyak spanduk idul adha parpol, PKS menyampaikan pesan dan makna mendalam serta sarat makna. Bayangkan pesan apa yang ingin disampaikan PKS dengan kalimat “Kurban Menguatkan. Menguatkan Keimanan dan Cinta sesama”. Disaat parpol dan tokoh publik lain sekadar “selamat idul adha”. PKS memiliki tema sarat makna.

Coba hubungkan tema PKS ini dengan bertubi-tubinya masalah dan pemberitaan media yang gencar dalam ‘menyerang’ PKS. Ya.. spanduk idul adha itu menegaskan posisi PKS dalam panggung politik. Dimana kurban baik secara tekstual (penyerahan hewan kurban sebagai bukti pengabdian terhadap Rabb Semesta alam) dan kontekstual (pengorbanan PKS dalam pengabdian terhadap kesejahteraan bangsa) benar-benar menguatkan. PKS menjadi semakin kuat dan bertahan. Masalah ada tidak ada tidak membuat PKS surut dan lemah. Kekuatan ini pun dijabarkan dengan dua keyword yang luar biasa yaitu kuat keimanan (keyakinan) dan kuat dalam cinta sesama (kerja sosial). Pesan ini disampaikan di setiap jalan-jalan strategis tentu dengan pesan dan tujuan kurang lebih seperti itu. Semoga menambah pengetahuan kita.

Sumber : Suryadi Firdaus

Post a Comment

 
Top