GuidePedia

0
Jakarta -- Satu orang ayah lebih berharga daripada 100 guru di sekolah! Demikian dikatakan oleh George Herbert, penulis puisi terkenal asal Inggris di abad 15-16. Anis Byarwati, Ketua Bidang Perempuan DPP PKS mengajak seluruh ayah Indonesia untuk kembali ke rumah, memberikan waktu lebih bagi keluarga, mendengarkan cerita dan curahan hati anak, serta memberikan mereka pelukan mesra yang membesarkan hati anak.

"Para ayah Indonesia, jadilah pahlawan bagi anak-anak", kata Anis di Jakarta, 10 November 2013. Anis mengungkapkan hal tersebut didasari penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang tidak tersentuh oleh kasih sayang ayah akan tumbuh dengan kelainan perilaku, kecenderungan bunuh diri dan memiliki sifat kriminal. Data statistik juga menunjukkan 70% narapidana dengan hukuman seumur hidup adalah orang yang tidak tersentuh kasih sayang seorang ayah pada masa tumbuh kembangnya.

Lebih lanjut Anis mengatakan, "Figur seorang ayah yang selalu memberikan motivasi sangat dirindukan anak. Ketika seorang anak tidak nyaman dengan kondisi rumah karena kehilangan figur ayah yang dibutuhkan maka mereka cenderung mencari kelompok di luar rumah yang dapat menerima dirinya. Alih-alih memberikan dampak positif, seringkali kelompok yang diikuti adalah kelompok yang memunculkan perilaku-perilaku negatif pada anak, seperti tawuran, kebiasaan merokok, penyalahgunaan narkoba, mengutil, maupun perilaku membolos sekolah".

Sebaliknya, jika seorang ayah menjalankan fungsi keayahannya dengan baik, anak akan menjadikan ayah sebagai pahlawannya, menjadikannya sebagai sosok yang layak ditiru, bahkan tak sedikit anak yang bercita-cita ingin seperti ayahnya jika dewasa kelak.

"Tak mengherankan memang jika ayah adalah tokoh sentral dalam keluarga. Figur ayah dalam keluarga bagaikan seorang nakhoda dalam sebuah kapal. maju mundurnya kapal tersebut di lautan tergantung nakhodanya. Baik buruknya kualitas keluarga, termasuk kualitas generasi yang dilahirkan keluarga tersebut juga tergantung bagaimana ayah sebagai nakhoda keluarga menjalankan perannya", ujar Anis lagi.

Namun demikian, kehilangan figur seorang ayah memang bukan satu-satunya penyebab kenakalan remaja, faktor lingkungan eksternal, seperti keteladanan dari para pemimpin bangsa juga mempengaruhi. Anak yang sejak kecil ditanamkan nilai bahwa mencuri adalah perbuatan tidak baik, ketika remaja akan mempertanyakan mengapa dunia di sekitarnya membiarkan korupsi tumbuh subur. Jika remaja ini tidak menemukan jalan keluar dari konflik tersebut, bukan tidak mungkin, mereka tidak lagi mempercayai nilai-nilai moral yang sudah ditanamkan orangtuanya sejak kecil.

Melalui kondisi demikian, menjadi wajar jika generasi muda kita kini banyak mengalami degradasi moral, mereka mengenyam pendidikan tanpa keteladanan. Akibatnya, kasus kenakalan remaja makin merebak, kasus penyalahgunaan narkoba semakin tinggi, tawuran antar sekolah sering terjadi, dan yang mengenaskan video porno/seks yang diperankan oknum siswa pun bermunculan.

Jika situasi tersebut tidak disikapi sebagai sebuah kedaruratan yang perlu dikelola segera dan dengan penanganan baik, bukan tidak mungkin cita-cita dan mimpi besar para pendiri dan pahlawan bangsa yang sudah mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan dan pembangunan bangsa Indonesia ini masih jauh untuk diwujudkan.

"Oleh karena itu, kami juga menghimbau kepada para pemimpin Indonesia di level manapun, tebarkanlah pesona kebaikan setiap saat, berikan remaja keteladanan yang baik, tampilkan figur kebapakan yang dirindukan, jadilah pahlawan bagi anak Indonesia", tegas Anis mengakhiri perbincangan.

Post a Comment

 
Top