GuidePedia

0
KabarPKS.com - Jakarta - APA artinya menjadi warga DKI Jakarta, Ibukota Republik Indonesia yang kaya-raya? Apa kita harus berfoya-foya dengan segala fasilitas yang ada? Atau berhura-hura di tengah penderitaan rakyat jelata?
Pertanyaan seperti itu yang menghantui Muhammad Idrus, pemuda kelahiran Betawi, 28 Maret 1978. Idrus tinggal di Kalibaru Barat, Cilincing, sehingga tahu betul dinamika warga dari beragam latar belakang.
Ada warga yang bekerja sebagai nelayan atau kuli pelabuhan, ada yang berprofesi pegawai negeri/BUMN atau karyawan swasta, ada pedagang kaki lima dan pasar tradisional atau penjaga toko di mal. Ada pula yang kurang beruntung: belum dapat pekerjaan, dan akhirnya mengamen atau mengemis di jalanan.
Semua kelompok masyarakat itu disapa Bang Idrus. "Saya lahir di tengah keluarga bersahaja, maka saya bertekad untuk membela kepentingan rakyat yang selama ini terpinggirkan,” ujar Idrus yang menamatkan Sekolah Dasar Negeri 07 di Kalibaru.
Setamat SD, Idrus melanjutkan ke SMP Negeri 53 Jakarta dan selanjutnya SMA Negeri 13 Jakarta. Saat kuliah, Idrus memilih Fakultas Teknik Metalurgi, Universitas Indonesia, lulus tahun 2001. “Saya ingin jadi insinyur seperti BJ Habibie, kebetulan orangtua saya berdarah Sulawesi Selatan. Disamping itu, saya mau jadi wirausahawan agar tidak membebani orangtua,” ungkap Idrus mengenang masa kuliah penuh tantangan.
Karena itu, Idrus belajar bisnis di usia muda. Segala macam usaha dilakoninya, yang pentinghalalan thoyiban. Antara lain, usaha persewaan (rental) dan kursus komputer dengan nama keren: X_Baru.Com. Selain itu, Idrus membuka toko besi bernama PD Insan Gemilang. Penghasilannya lumayan, alhamdulillah, dapat mencukupi nafkah keluarga secara mandiri. Yang lebih penting, Idrus dapat merekrut dan memfasilitasi kawan-kawannya agar tak malu terjun ke dunia bisnis.
“Titel sarjana bisa dicari kapan saja. Namun, menciptakan lapangan kerja itu ibadah yang lebih utama karena membantu orang banyak,” jelas Idrus sambil menyitir pesan Nabi Muhammad. Rasulullah Saw memang bersabda, “Sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada di perniagaan.”
Berdasarkan pengalaman bisnis yang jungkir-balik itulah, Idrus mendirikan perusahaan Kinan Group yang bergerak di bidang pertukaran valuta asing, manufaktur serta pengembang perumahan dan pemukiman asri. Idrus tetap akrab dengan rekan kerja dan para pegawainya, walaupun kini sudah menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer).
Idrus sangat peduli dengan kesejahteraan kaum pekerja, antara lain, mereka yang berdagang valuta asing (money changer). “Baik mereka yang bekerja di gerai resmi atau pinggir jalan, asal mereka jujur, itu bagian dari mencari rezeki halal,” papar Idrus. “Dalam konteks ekonomi makro, peredaran valuta asing ini yang turut menentukan stabilitas moneter nasional, karena APBN kita ditopang cadangan devisa negara.”
Berkat kepedulian dan keuletannya, Idrus diberi amanat sebagai Sekretaris Umum APVA (Asosiasi Pedagang Valuta Asing) DKI Jakarta. Bahkan, kemudian didaulat selaku Ketua Umum APVA Indonesia untuk periode 2012-2015. Tak cuma itu, aktivitas Idrus dalam organisasi juga pernah menduduki Ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Jawa Barat. Dan, saat ini menjalankan tugas sebagai Ketua Departemen Infrastruktur Laut dan Sungai di DPP HIPMI.
Didorong oleh keprihatinannya terhadap kondisi rakyat Indonesia yang belum sejahtera, terutama warga DKI Jakarta yang masih terabaikan, Idrus siap menerima tugas sebagai Calon Anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan nomor urut 4 (empat), untuk daerah pemilihan DKI Jakarta 3 (Jakarta Barat dan Utara).
“Saya tak mencalonkan diri, tapi diminta pengurus PKS untuk memperbaiki negeri ini. Insya Allah, jika diberi kepercayaan oleh rakyat, saya tak akan mengambil gaji untuk keperluan pribadi. Alhamdulillah, penghasilan saya saat ini sudah lebih dari cukup. Gaji dan fasilitas anggota DPR RI akan saya optimalkan untuk pemberdayaan dan advokasi konstituen serta masyarakat marjinal,” tutur Idrus dengan nada merendah, apa adanya.
Pengalaman berorganisasi sejak SMP (pengurus OSIS) dan SMA (Wakil Ketua Rohis) serta bermasyarakat (anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Karang Taruna) telah membentuk karakter Idrus yang “Bersih, Peduli dan Profesional”.
Sementara pengalaman hidup dan perjalanan karir Idrus menanamkan kesadaran akan nilai-nilai penting (basic values) yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia: “Cinta, Kerja, Harmoni”. “Saya memang orang kampung Cilincing, tapi saya punya mimpi untuk mewujudkan Indonesia yang Adil, Sejahtera dan Bermartabat,”cetus Idrus dengan senyum optimis.
Visi itu memantapkan Idrus untuk maju sebagai kandidat Wakil Rakyat, dengan Misi utama menjalankan tugas “Legislasi, Penganggaran, dan Pengawasan” sebaik-baiknya. Disamping itu, Misi khusus untuk “Advokasi, Pelayanan dan Pemberdayaan Konstituen serta Masyarakat Indonesia”, terutama di daerah pemilihan.
Masyarakat Jakarta yang cerdas tentu paham: kandidat mana yang layak dipilih sebagai Wakil Rakyat?

(Inilah)

Post a Comment

 
Top