GuidePedia

0

KabarPKS.com - Jayapura - Dalam setiap momentum aksi pelayanan ada saja hal menarik yang dijumpai. Seperti dalam aksi kali ini, para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Papua menjumpai seorang perempuan yang oleh warga setempat sangat dihormati. Dialah Sara Indey, salah satu cucu dari Bapak Marthen Indey yang merupakan pahlawan nasional dari Papua.

Sara Indey ikut bersama warga lainnya turut memeriksakan kesehatannya. Dari pemeriksaan ini, diketahui bahwa asam uratnya sudah sangat tinggi.

“Pantas saja saya sering merasakan nyeri yang sangat di tungkai bagian belakang,” ujarnya menanggapi hasil pemeriksaan, Ahad (8/12/2013) kemarin.

Sakit ini sebenarnya sudah lama dirasakannya, tapi ia enggan memeriksakannya. Sementara kata Mama Sara Indey, begitulah ia biasa disapa memang biasa meredakan sakitnya dengan memperbanyak jalan dengan bertelanjang kaki. Bahkan ketika sakitnya bertambah-tambah, ia akan berjalan dengan tanpa beralas kaki menapaki jalan aspal yang panas di siang hari. Dan kini Sara pun berterima kasih setelah ia diberikan obat atas penyakitnya itu secara cuma-cuma.

Di usianya yang telah memasuki tahun ke-61, Sara Indey masih nampak sehat dan energik meski sebenarnya asam uratnya sudah sangat tinggi. Ia pun dengan semangat menceritakan masa kanak-kanaknya yang penuh kenangan.

Ia dilahirkan di sebuah kampung bernama Dormena yang berada di Distrik (Kecamatan) Depapre, Kabupaten Jayapura pada 1 Maret 1952. Ayahnya bernama Simon Indey, dan ibunya bernama Marthina Indey. Ia adalah anak ke-4 dari 11 bersaudara. Hingga kini empat saudara kandungnya telah terlebih dahulu menghadap Ilahi.

Ia masih ingat benar, bahwa keluarga besarnya yang berjuang untuk mengembalikan Papua (saat itu bernama Irian Jaya) ke pangkuan ibu pertiwi Indonesia, sangat dibenci oleh Belanda dan juga warga pribumi yang telah menjadi aparat dari pemerintahan kolonial Belanda.

Masih jelas dalam ingatannya bagaimana ia ditempeleng oleh kepala sekolahnya, saat ia masih duduk di kelas 5 Sekolah Rakyat, karena pilihan politik kepala sekolah berbeda dengan keluarga besarnya. Peristiwa itu terjadi beberapa saat setelah pengumuman hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang menyatakan Irian Jaya bergabung dengan NKRI. Sang kepala sekolah yang meskipun penduduk pribumi, tetapi karena menjadi pegawai yang diangkat oleh pemerintahan kolonial Belanda, menyalahkan sikap keluarga besar Marthen Indey yang berjuang untuk NKRI. Hal ini merupakan salah satu suka duka menjadi cucu dari pahlawan bangsa.

Di usia tuanya ini, ia menitip pesan kepada setiap anak bangsa terutama masyarakat Papua agar menghargai jasa-jasa para pahlawan bangsa.

Post a Comment

 
Top