GuidePedia

2

KabarPKS.com - Depok - Lima tahun lalu, berbekal sedikit pengetahuan dari internet, pasangan suami-istri Baron Noorwendo (44) dan Sri Wulan Wibiyanti (42) merintis pengembangan bank sampah bersama warga sekitar rumah mereka. Sempat dicemooh sejumlah orang, upaya pasangan suami istri itu kini menginspirasi banyak pihak di Kota Depok, Jawa Barat, untuk ikut mengolah sampah demi kelestarian lingkungan.

Sejak 2001, Baron dan Wulan tinggal di Kampung Pitara, Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Saat mulai bersosialisasi dengan warga sekitar, mereka terusik dengan banyaknya keluarga kurang mampu di wilayah itu. Sebagian besar laki-laki di kampung tersebut bekerja sebagai kuli bangunan dan tukang ojek.

”Waktu itu, kebanyakan orang dewasa di sini hanya lulus SMP. Anak mudanya juga ada yang putus sekolah,” ujar Baron, beberapa waktu lalu. Melihat kondisi itu, Baron dan istrinya tergugah melakukan sesuatu untuk memberdayakan warga Kampung Pitara.

”Kami sebagai orang yang merasa beruntung bisa mendapat pendidikan lebih tinggi dan pekerjaan memadai ingin mengajak para tetangga menjadi lebih maju,” tutur Baron yang sehari-hari bekerja sebagai pengembang perumahan.

Jauh sebelum mengembangkan bank sampah, sejumlah program pemberdayaan pernah dibuat Wulan dan Baron, misalnya usaha laundry, pembuatan telur asin, dan pengembangan taman bacaan. Namun, semua program itu gagal di tengah jalan.

Tak putus asa, mereka coba mengembangkan usaha pengolahan sampah pada 2008. Upaya itu terbilang nekat karena kala itu keduanya sama-sama tak berpengalaman mengolah sampah. ”Saya ini sarjana teknik mesin, istri kuliah antropologi. Setelah baca-baca di internet, kami nekat aja mulai,” ujar Baron.

Mulanya, Wulan sekadar mengajak ibu-ibu sekitar rumahnya untuk memilah sampah disesuaikan dengan jenisnya. Mereka kemudian mencari orang yang mampu mengajari pembuatan kerajinan dari sampah.

”Saya sempat menelepon seseorang yang biasa jadi trainer daur ulang sampah, tetapi dia minta bayaran mahal, sampai jutaan rupiah. Untungnya setelah itu kami bisa dapat orang yang bersedia mengajar dengan bayaran ala kadarnya,” tutur Wulan.

Akhirnya, pelatihan pembuatan kerajinan berbahan baku sampah terlaksana pada 20 Desember 2009. Acara yang diikuti sekitar 70 warga itu berhasil membangkitkan antusiasme masyarakat Kampung Pitara untuk mengolah sampah. ”Dalam satu rumah biasanya ada pembagian peran. Sang ibu yang bikin kerajinan, bapak dan anaknya yang ngumpulin sampah,” kata Baron.

Mulanya, barang hasil kerajinan para ibu Kampung Pitara itu hanya berupa tas, dompet, dan tempat pensil. Belakangan, mereka juga membuat tas laptop dan bermacam-macam mainan anak. Bahan yang dipakai bukan hanya wadah plastik bekas kopi, deterjen, atau sampo, tetapi juga kardus dan botol plastik.

Diejek
Baron menuturkan, sesudah produksi kerajinan berjalan, ia dan istrinya mulai berpikir soal pemasaran. Awalnya, barang-barang daur ulang itu dijual di sela-sela acara kampung. Namun, cara pemasaran itu ternyata tak cocok. ”Waktu itu ada warga yang mengejek, ngapain sih beli barang dari sampah?” tutur pria yang menyebut dirinya sebagai garbagepreneur itu.

Pengalaman tersebut menyadarkan Baron dan Wulan bahwa barang- barang daur ulang belum bisa diterima semua kalangan. Oleh karena itu, pemasaran barang-barang tersebut harus dilakukan pada mereka yang sudah bisa menghargai kerajinan berbahan sampah. ”Untungnya setelah itu kami diminta mengisi pelatihan daur ulang sampah oleh suatu organisasi masyarakat. Sesudah pelatihan, barang-barang kami diborong,” kata Baron. Mereka tidak mematok harga yang terlalu mahal untuk barang-barang itu. Sebuah dompet berukuran 10 cm x 5 cm, misalnya, dijual Rp 25.000 atau tas laptop berukuran 14 inci dijual Rp 65.000.

Baron memaparkan, nilai barang daur ulang tidak bisa diukur dari bentuk fisik atau fungsinya. Proses pembuatan yang rumit dan kontribusinya pada kelestarian lingkungan juga harus diperhitungkan. ”Untuk membuat sebuah dompet ukuran sedang dibutuhkan 200 saset bekas kopi. Pembuatannya rumit dan lama karena harus dicuci, dijemur, lalu dirajut,” tuturnya.

Wulan mengatakan, hasil penjualan barang daur ulang tersebut dibagi dua. Sebesar 70 persen masuk ke para perajin, sementara 30 persennya dipakai untuk membeli bahan baku. ”Kami enggak dapat bagian karena memang hanya ingin membantu,” ungkapnya.

Bank sampah

Pada tahap selanjutnya, Baron dan Wulan juga mengembangkan bank sampah. Warga sekitar diminta menyetor sampah anorganik, lalu dibayar sesuai nilai sampah yang mereka setorkan. Saat ini, nasabah bank sampah tersebut tidak hanya berasal dari Kampung Pitara, tetapi juga dari wilayah lain di Kecamatan Pancoran Mas.

Baron mengatakan, bank sampah yang dikelolanya memiliki sekitar 30 kelompok pengumpulan sampah dengan nasabah berjumlah ratusan orang. Kelompok pengumpulan sampah itu bermacam-macam bentuknya. ”Ada yang satu RW, ada yang sekolahan, atau komunitas. Sebagian kelompok itu sudah membentuk bank sampah sendiri,” katanya.

Saat ini, bank sampah yang dikelola Baron dan Wulan bisa mengumpulkan 200 ton sampah anorganik. Sebagian sampah itu dijual, sementara sebagian lainnya diolah menjadi barang kerajinan.

”Yang kami pentingkan bukan bank sampah kami jadi besar, melainkan bagaimana supaya semangat membentuk bank sampah menular ke wilayah lain,” kata Baron.

Kini, komunitas yang dikembangkan Baron dan Wulan terus membesar dan memiliki banyak kegiatan, termasuk memberikan kredit mikro tanpa bunga kepada pedagang kecil. Sejumlah anggota komunitas yang dinamai Warga Peduli Lingkungan itu juga sering diundang untuk memberikan pelatihan ke sejumlah tempat.

Tahun lalu, Wulan bahkan berkesempatan mengikuti pelatihan pengolahan sampah di kota Osaki, Jepang, dengan dibiayai Pemerintah Kota Depok.

Meski tak mendapat keuntungan materiil, Baron dan Wulan mengaku bahagia mengelola bank sampah. ”Membantu orang lain itu cita-cita bersama kami,” ujar Baron.

Baron Noorwendo

♦ Lahir: Jakarta, 14 Juli 1969
♦ Alamat: Kampung Pitara, Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat 
♦ Pendidikan: - SD Negeri Menteng 02 Pagi (1981)- SMP Negeri 1 Jakarta (1984)
- SMA Negeri 4 Jakarta (1987)
- Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia (1993)
♦ Pekerjaan: Pengembang properti dan garbagepreneur

Sri Wulan Wibiyanti

♦ Lahir: Jakarta, 7 September 1971 
♦ Pendidikan: - SD Negeri Kelapa Gading 01 Pagi (1984)
- SMP Negeri 2 Surabaya (1987)
- SMA Trimurti Surabaya (1990)
- Jurusan Antropologi, Universitas Indonesia (lulus 1997)
♦ Anak: Ishma F Karimah (17), M Fatih Abdulbari (16), Syahidah Sumayyah (13), Inas Mardiyah (10), Nurshafa Tsurayya (8), Azka Nurfaiza (3) 

Penulis: Haris Firdaus 

Post a Comment

  1. Mantap, teruslah berjuang. Indonesia butuh orang-orang yang kreatif dan berjiwa sosial.

    ReplyDelete
  2. Sampah plastik kian berterbaran dimana-mana, sebaiknya Anda muali menjadi salah satu yang memulai menggunakan produk ramah lingkungan. Contohnya, mulai dengan menggunakan Packaging makanan yang terbuat dari kertas.

    ReplyDelete

 
Top