GuidePedia

0


Rusli Menunjukkan Foto Kalender Calon Favoritnya


Cerita ini bukan narasi, bukan juga non fiksi tapi reaksi. Reaksi seorang warga Samarinda Seberang, yang 100% bukan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), bukan juga partisan. Dia hanya seorang warga yang tinggal di kawasan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, dan kebetulan sedang bertamu di rumah yang saya datangi. Saya sendiri saat itu sedang bersilaturahmi dengan pemilik rumah, di Jalan Hasan Basri (eks Jalan Merak), Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Minggu (26/1) siang lalu.

Awalnya agak cangung. Bukan karena tamu tadi seorang pria dan saya perempuan. Namun rokok di tangannya benar-benar membuat saya kurang nyaman berada di sekitarnya. Apa mau dikata, pintu sudah dibuka dan saya tidak mungkin buru-buru pergi tanpa dapat kepastian, apakah keluarga yang saya datangi ini menerima PKS di tengah-tengah keluarganya atau tidak.

Dengan perasaan campur aduk, saya membuka percakapan dengan sang empunya rumah. Di tengah obrolan kami, tiba-tiba dia ikut nimbrung. Akhirnya dari sana saya tahu tamu tersebut bernama Rusli. Dari logat bicaranya saya bisa menebak kalau ia bersuku Bugis.

“Saya tinggal di Simpang Pasir Palaran,” katanya memperkenalkan diri.

Lama kelamaan saya merasa nyaman berbincang dengan Rusli dan keluarga, yang baru saya kenal beberapa menit yang lalu. Bahkan kami terlibat obrolan panjang, sampai akhirnya dia membanding-bandingkan PKS dan partai lain.

Bagi-Bagi Duit
“Ada caleg dari Partai X (sensor), masuk ke daerah saya dan mau bagi-bagi uang Rp 250 ribu per orang. Dia minta agar dipilih,” kata Rusli dengan sesekali menghisap rokok di tangannya.
Bukannya menerima tawaran tersebut, Rusli justru melarang warga menerima uang itu. Sebab suara yang akan diberikan warga pada Pemilu Legislatif (Pileg) April tahun ini, dinilai terlalu murah jika dibandingkan nasib mereka lima tahun mendatang. Sebaliknya, Rusli menilai pemberian itu sebagai bentuk sogok dan merendahkan harga diri warga.

“Jangan mau pilih caleg yang ngasih uang dimana-mana. Setelah terpilih mereka bakal setengah mati balikin modal yang sudah dibagiin, termasuk menghalalkan segala cara,” ujar Rusli.

Harus Milih PKS
Rusli pun berpesan kepada saya dan kader-kader PKS yang lain agar rajin turun ke masyarakat dan mendengarkan keluh kesah mereka. Tidak perlu jualan wajah di baliho. Asalkan sering menemui warga dan bersilaturahmi, Rusli yakin PKS akan mendapat banyak dukungan suara. 

“Masyarakat itu maunya di dengar keluhannya. Kalau masyarakat puas, mereka pasti nyoblos PKS. Seperti saya, pokoknya saya hidup mati pilih PKS lah biar bisa nyapres (mencalonkan presiden) sendiri,” lanjutnya.

Agak eskstrem sebenarnya mendengar penuturan Rusli. Namun rupanya ada yang lebih ekstrem, yakni seluruh warga yang menyewa rumah kontrakannya harus memilih PKS. Kalau tidak pilih PKS, Rusli akan minta warga mencari tempat kontrakan yang lain. 

“Gak usah nyewa kalau gak pilih PKS,” ucapnya bernada canda.

Semakin jauh dia bercerita, semakin penasaran saya dibuatnya. Karena itu, saya tanya siapa orang di PKS yang dia sukai. Tanpa ragu Rusli mengatakan dia suka Ustadz Hadi Mulyadi. Katanya, Ustaz Hadi, panggilan akrab Hadi Mulyadi, mirip Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Tifatul Sembiring. 

“Ramah dan humoris. Tipe pemimpin idaman deh. Masyarakat itu maunya pemimpin yang Islami, paham agama dan malu berbuat dosa. Ini sepertinya yang punya cuma PKS,” ungkapnya serius.

Yang membuat Rusli benar-benar salut dengan PKS dan politisi-politisinya, ketika Bahan Bakar Minyak (BBM) akan dinaikkan. PKS dinilai benar-benar pro pada rakyat dengan tegas menolak kenaikan harga BBM bersubsidi, dan tidak takut dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Padahal SBY bisa kapan saja mencopot mentri yang sekarang menjabat di kabinetnya. 

“Salut, PKS tidak takut jabatannya dicopot,” tambahnya.

Pertemuan dengan Rusli benar-benar membuatku bangga, berada dalam barisan dakwah bersama PKS. Apalagi keluarga yang saya datangi termasuk Rusli menyatakan menyambut PKS dan siap memilih PKS. Karena itu, saya sangat yakin masih banyak Rusli-Rusli yang lain, yang punya pandangan cerdas meski tampak seperti orang awam di luar sana.

“Terus berjuang”


Itulah kata penutup pertemuan itu yang benar-benar membuat air mataku hampir tumpah. Saya melihat ada segudang harapan warga terhadap PKS. Harapan yang selama ini tumpul akibat kelakuan para pemimpin negeri ini yang tidak amanah. “Doakan dan dukung kami. Insya Allah bersama PKS, harapan warga akan terwujud,” terangku lalu pamit dan salam. 

(Kiriman dari Nastarita)

Post a Comment

 
Top