GuidePedia

0


Banten – Lili Supriyadi (75), kakek asli Betawi yang merupakan relawan “Toilet Revolution”, program bersih-bersih toilet di masjid dan mushollah yang digagas oleh DPW PKS Banten. Lili adalah relawan yang paling rajin dan konsisten. Bersama relawan lainnya, ia telah membersihkan lebih dari 100 toilet yang tersebar di Kota Tangerang Selatan sejak Ramadhan tahun lalu.

Selama ini ada kesan toilet di masjid dan mushola itu identik dengan bau, kotor, dan gelap. Padahal masjid dan mushola itu rumah Allah yang harus selalu terjaga kebersihannya. Sementara sebagian ummat Islam sendiri kurang peduli terhadap masalah kebersihan. Lili menuturkan itulah yang membuatnya tergerak untuk menjadi relawan “Toilet Revolution”, sebuah gerakan untuk mengubah kondisi toilet yang tadinya bau, kotor, dan gelap menjadi wangi, bersih dan terang.

Setiap pagi kakek enam cucu ini menenteng tas berisi cairan pembersih, sikat, amplas, dan gerindra kemudian berkeliling mendatangi masjid-masjid dan mushola di sekitar Kota Tangerang Selatan.

“Tiap hari saya datangi masjid-masjid atau mushola kemudian saya ijin ke pengurus (masjid/mushola) untuk membersihkan toilet,” ujar Lili saat menularkan semangat dihadapan kader-kader PKS Serpong Utara dalam acara LT3B yang di gelar di Pondok Aren, akhir pekan lalu.

Menurutnya, dalam satu hari, dia dan timnya bisa memberihkan 3 - 5 toilet. Selain itu, jika dia menjumpai lampu mati di masjid atau mushola, dia segera mengganti lampu tersebut sehingga menjadi terang.

“Yang saya lakukan itu ikhlas, dan kebersihan itu adalah sesuatu yang mulia, apalagi yang dibersihkan itu rumah Allah, kan kita jadi seneng kalau bersih,” ungkap simpatisan PKS ini.

Dari sekian banyak masjid dan mushola yang ia singgahi, sebagian besar pengurus masjid dan mushola menerimanya. Para pengurus mengaku senang serta berterima kasih dengan gerakan toilet bersih.

“Ada yang meminta dibersihkan lagi toiletnya,” imbuh pria yang tinggal di RT 06/04 Kebon Kopi, Kelurahan Pondok Bentung, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan ini.

Walau dia tidak memungut tarif dari setiap membersihkan toilet, namun masih ada kendala yang dihadapi di lapangan, seperti penolakan sebagian pengurus masjid atau mushola namun jumlahnya tak seberapa.

“Saat minta ijin ke pengurus saya ditanya, ini dari mana? Saya jawab, ini dari PKS. Mereka tidak terima, tapi setelah dijelaskan akhirnya mereka menerima juga. Masa toiletnya mau dibersihkan mereka tolak? Akhirnya mereka mikir juga,” beber Lili.



Ide Toilet Revolution

Ide “Toilet Revolution” itu merupakan gagasan segar dari Arif Wahyudi, Anggota Fraksi PKS DPRD Kota Tangerang Selatan.

“Ide itu muncul karena problem selama ini, kebanyakan toilet mushola itu kotor, bau dan gelap. Maka perlu adanya perubahan cepat (revolusi) toilet-toilet tersebut sehingga menjadi toilet yang bersih, wangi dan terang cahayannya,” ujar Calon Legislatif DPR RI nomor urut 6 untuk Dapil Kota Tangerang, Kab Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan ini.

Arif menjelaskan, ide “Toilet Revolution” merupakan ide sederhana untuk membangkitkan kesadaran bersama. Kalau kesadaran bersama ini sudah terbentuk maka mudah untuk menyelesaikan problem tersebut.

Arif juga menekankan bahwa diperlukan kerjasama atau sinergi dengan berbagai pihak sehingga ide “Toilet Revolution” akan menjadi gerakan seluruh warga Kota Tangerang Selatan dan menumbuhkan budaya cinta kebersihan.

“Percontohan “Toilet Revolution” dimulai dari Kelurahan Pondok Betung dan Pondok Karya. Cakupan gerakan ini berkisar 300 toilet se-Tangerang Selatan. Toilet tersebut secara periodik selama setahun akan dibersihkan oleh relawan ini,” jelas bapak tujuh anak ini.

Arif berharap ide ini bisa menginspirasi daerah lain sehingga gerakan “Toilet Revolution” ini menjadi gerakan nasional.

“Kami berharap program ini berkembang ke kelurahan dan desa di Indonesia,” tutur Arif yang berharap toilet masjid dan mushola bisa setara dengan toilet hotel berbintang yang bersih, wangi dan terang.




Post a Comment

 
Top