GuidePedia

0

JEDDAH, ARAB SAUDI - Tinggal di luar negeri tidak membuat kepedulian kader perempuan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terhadap nasib anak-anak dan perempuan Indonesia berkurang. Selasa (11/2) bertempat di Gedung Darul Ulum (KB, TK dan SDIT Indonesia di Jeddah) kader perempuan PKS Hijaz mengadakan Silaturahim Tokoh Perempuan Indonesia dengan anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Ledia Hanifa Amaliah.
wakil ketua Komisi VIII DPR RI yang membawahi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak itu mengatakan betapa pentingnya sosialisasi Undang-Undang perlindungan anak, melihat semakin maraknya kasus pelecehan, eksploitasi dan kekerasan terhadap anak baru-baru ini. Hanya saja, wadah yang tepat untuk sosialisasi dirasa masih kurang.
Padahal anak, menurut Ledia adalah aset bangsa, selayaknya mendapat perhatian besar. "Teknologi dan media sewajarnya tetap memperhatikan dampak baik buruknya terhadap anak. Disinilah fungsi orang tua begitu penting, yang bisa memberikan filter agar anak tetap terjaga, bukan Sekolah, karena sekolah hanyalah pendamping. Ditambah peran negara dengan regulasinya yang juga tak kalah penting," ujar anggota dewan yang juga kader PKS itu.
Salah satu Tokoh Perempuan dari TKI Overstayer perempuan di Jeddah, Liana menyampaikan uneg-unegnya terkait nasib anak-anak dan TKW Indonesia di Jeddah yang sampai saat ini beberapa masih tinggal di tenda-tenda sementara dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Liana berpendapat, anak-anak dan perempuan di luar negri tetaplah warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah. "Fakta bahwa tidak sedikit tenaga kerja Indonesia yang tinggal di Jeddah memiliki anak-anak kadang luput dari perhatian pemerintah, terutama nasib pendidikan mereka," tuturnya.
Tokoh perempuan Jeddah lainnya yang juga turut hadir, yaitu Elly Warti Maliki mengatakan pendidikan yang layak bagi anak-anak para TKI perlu, karena dikhawatirkan anak-anak yang terbengkalai pendidikannya kelak tidak dapat berkesempatan mendapatkan taraf hidup yang lebih baik dari orang tuanya. Bahkan Elly berinisiatif mendirikan Sekolah Islam Terpadu Darul Ulum, karena keprihatinan beliau terhadap nasib pendidikan anak bangsa khususnya yang tinggal di Jeddah.
Elly menuturkan bahwa perjuangannya mendirikan Sekolah Islam Terpadu masih terkendala dengan perijinan dan fasilitas. Dia berharap aspirasinya dapat tersampaikan dengan hadirnya anggota dewan dalam acara dialog itu.

"Semoga acara ini bisa menjembatani aspirasi warga negara Indonesia yang tinggal di Jeddah, khususnya tentang permasalahan anak-anak dan perempuan. Sehingga kedepannya, kita bisa menemukan solusi yang bermanfaat, untuk mewujudkan generasi bangsa yang lebih baik," pungkasnya.

Post a Comment

 
Top