GuidePedia

0
Makassar (26/2) - Awal tahun 1980 datang seorang anak kecil bersama pamannya ke Pesantren Darul Arqam untuk mendaftarkan diri sebagai santri. Anak bertubuh kurus itu menjadi santri paling kecil diantara ratusan santri lainnya. Demikian penuturan seorang guru di Pondok Pesantren Darul Arqam, Ustadz Abdul Djalil Thahir ketika bincang-bincang santai bersama tim media Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulawesi Selatan (Sulsel) baru-baru ini.

"Santri kecil itu bernama Anis Matta, bocah bertubuh kecil tapi pemberani," katanya dalam rilis yang diterima Humas DPP PKS, Rabu (26/2).

Abdul Djalil melanjutkan ceritanya bagaimana Anis Matta dalam usia 11 tahun mampu menjadi santri yang melebihi santri-santri lainnya. "Awalnya banyak santri yang tidak memperhitungkan Anis Matta, namun dengan berjalannya waktu, anak itu memperlihatkan kemampuannya, kecerdasannya dan kepiawaiannya dalam berkata-kata membuatnya diakui oleh semua santri Darul Arqam," tuturnya.

Sosok Cerdas dan Disiplin

"Di Pesantren ini, kalian harus siap "dipalu", "digergaji", kalian memang tidak merasakan manfaatnya saat ini, tapi kalian akan merasakan manfaatnya saat keluar nanti," demikian nasihat yang seringkali dilontarkan Abdul Djalil kepada ratusan santrinya. Abdul Djalil yang merupakan guru bahasa arab di Darul Arqam mengatakan bahwa Anis Matta sosok santri yang disiplin, Anis diakuinya tidak pernah terlambat datang ke kelas.

“Saya sangat tegas jika mengajar, santri yang terlambat boleh mengikuti pelajaran tapi dengan syarat berdiri sampai pelajaran usai. Anis Matta tidak pernah terlambat mengikuti pelajaran, dia anak yang rajin.” Ungkap lelaki kelahiran 1945 ini.

Di Pesantren, lanjut Djalil, Anis Matta adalah sosok yang ramah, dia tidak punya musuh dan tidak pernah bertengkar. "Dia disukai banyak orang karena kecerdasan dan kebaikannya," ungkapnya.

Nasi Kecap yang Membuatnya Jadi Orang Besar

Anis Matta pernah menceritakan dalam orasi-orasinya ketika melakukan konsolidasi dengan kader di daerah bahwa menu sarapan paginya hanyalah seporsi nasi kecap. Namun dari nasi kecap itulah ia kelak akan menjadi orang besar, begitulah guru-gurunya sering menasehatinya.

Selain nasi kecap, sumur tempat para santri mandi pun jauh dari dari pondok, berjarak 1 kilometer dan dikelilingi kubangan kerbau, membuat air sumur tersebut bau.

"Yah, nasi kecap dan air bau itulah yang membuat Anis menjadi orang besar dan berkarakter," ujar Abdul Djalal. Apa yang dinasehatkan para gurunya ternyata benar adanya.

Dan kini ada dua santri cerdas luluan Darul Arqam, Anis Matta yang kini menjadi Presiden PKS dan Shamsi Ali yang kini menjadi Imam Besar di Amerika Serikat.

Sosok yang Kritis

"Kalau kamu tidak bisa melawan dan memgalahkan saya, berarti kamu bukan murid saya" itulah kalimat yang pernah terlontarkan dari Abdul Djalil kepada Anis semasa berpondok di Darul Arqam.

Salah satu karakter Anis Matta yang disukai oleh Abdul Djalil adalah sikap kritisnya. Dalam usia masih belasan tahun, Anis berani menyampaikan kritikannya jika merasa tidak sesuai dengan pendapatnya. Menurut Abdul Djalil itu adalah karakter pemimpin. Ayah dari delapan anak ini menceritakan sikap kritis Anis Matta yang tidak bisa dia lupakan.

“Saat itu Anis Matta kelas 6 (Tiga Aliyah), kebijakan di pesantren, santri aliyah dimasukkan ke jurusan IPA, Anis dan teman-temannya tidak setuju, karena harusnya mereka di jurusan syariah dan tarbiyah, tapi karena saat itu saya lagi di luar kota mengikuti pendidikan selama 3 bulan maka dia belum sempat protes,” Kenang Abdul Djalil.

Menurutnya, Anis tidak bisa menahan gejolak ketidak setujuannya, maka dia mendatangi rumah Abdul Djalil dan bertemu dengan istri Sang Guru, Khaeriah Abdul Jabbar.

“Bu, tolong berikan alamatnya ustad, kami mau kirim surat, kami tidak mau seperti ini,” protes Anis di depan istri Abdul Djalil.

Khaeriah tidak memberi dan mengijinkan Anis untu mengirimkan surat protesnya. “Tidak bisa, kamu tidak boleh mengganggu suami saya yang sedang ikut pendidikan, kalau mau protes nanti saja ketika dia sudah pulang,” tegas Khaeriyah menolak permintaan Anis, maka Anis pun menahan keinginannya hingga Sang Guru kembali ke pesantren.

Saat kembali dari pendidikan, Abdul Djalil melihat gejolak dan sikap kritis di mata Anis, maka dia menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan kebijakan pesantren.

“Kenapa kalian tidak mau belajar IPA? Padahal dalam Al-quran itu isinya tentang alam dan cara mengatur alam,” kata Abdul Djalil menjelaskan panjang lebar di depan ratusan santri, Anis mendengarkan dengan seksama.

Setelah itu tidak ada penentangan, Suami dari Khaeriyah Abdul Djabbar itu sangat paham bahwa Anis memang kritis jika tidak ada hal yang sesuai dengan pemikirannya, namun setelah mendapat penjelasan dan masuk akal maka dia akan menjadi orang yang sangat patuh.

Sosok Cinta Membaca dan Menulis

Siapa yang tidak mengenal Anis Matta dengan buku Serial Cinta nya. Ternyata Putra kelahiran Bone itu telah memulai karir menulisnya saat dia masih di Pesantren Darul Arqam, tulisan sastra berupa puisi pernah dimuat di koran lokal, dan tulisannya juga sering menghiasi buletin iqro, buletin yang diterbitkan oleh Pesantren Darul Arqam.

Anis adalah sosok yang selalu menggunakan waktunya dengan baik, tidak ada waktu yang dibiarkan terbuang percuma, dia selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca.

“Makanya kalau dia berbicara, dia bisa menyambungkan peristiwa-peristiwa, itu semua didapat dari membaca.” Ungkap lelaki pendiri Pesantren Darul Aman itu.

Menjadi Sekretaris Sejak Aliyah

Abdukl Djalil pernah mengatakan bahwa jika ingin menjadi ketua yang sukses, jadilah sekretaris yang sukses. Hal ini diterapkan dengan baik oleh Anis Matta dalam sepak terjanganya di dunia organisasi.

Sebelum menjadi presiden Partai Keadilan Sejahtera, Anis Matta adalah Sekretaris Jenderal sejak Partai Keadilan terbentuk pada tahun 1998. Pengalaman menjadi sekretaris ternyata sudah dijalani oleh bintang Darul Arqam itu sejak kelas 5 (2 Aliyah). Saat itu Anis menjadi sekretaris OSIS yang diketuai oleh Thalabuddin Welete.

Abdul Djalil yang juga pembina OSIS sengaja menempatkan Anis sebagai sekretaris karena dia melihat ada karakter kepemimpinan dalam dirinya.

“Sekretaris yang sukses bisa menjadi ketua yang sukses, sedang ketua yang sukses belum tentu menjadi sekretaris yang sukses,” kata Abdul Djalil kepada Anis Matta saat itu.

Anis menjalankan tugasnya sebagai sekretaris OSIS selama satu tahun, Abdul Djalil menganggap bahwa dia sukses menjadi sekretaris saat itu.

Bintang di Dalam dan Luar Pesantren

Jika Anis menjadi presiden RI, maka Shamsi Ali jadi menteri luar negerinya. Demikian dikatakan Abdul Djalil dalam wawancaranya kepada tim media PKS Sulsel. 

Anis Matta menyelesaikan pendidikan di Darul Arqam pada tahun 1986 sebagai lulusan terbaik. Dia menjadi bintang di Darul Arqam, tidak ada yang bisa menggeser Anis dari posisi pertama hingga kelulusannya. Abdul Djalil menuturkan bahwa salah satu santri yang sama cerdasnya dengan Anis Matta adalah Shamsi Ali, santri dari Kajang Bulukumba yang saat ini menjadi Imam Besar di Amerika Serikat. Shamsi Ali adalah Junior Anis Matta.

“Anis angkatan 1986 sedang Shamsi Ali angkatan 1987. Mereka sama-sama cerdas," ungkap salah satu pendiri Yayasan Pembina Dakwah Islamiyah itu.

Lelaki yang juga perintis Pesantren Darul Istiqamah ini menyatakan bahwa Jika Anis Matta menjadi Presiden RI maka Shamsi Ali layak menjadi menteri luar negeri.

“Mereka adalah sosok yang cerdas, sahabat akrab, jiwa leadership ada pada diri mereka," lanjut sosok yang juga menjadi calon DPD RI nomor urut 4 ini.

Bintang Darul Araam itu serasa tidak pernah redup, setelah kelulusannya daripesantren, Anis melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta. Kecerdasannya terus bersinar hingga ia ditawarkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di Saudi Arabia. Namun Anis menolaknya, ia lebih memilih keasyikannya dalam tarbiyah di bumi pertiwi.

Keputusan Anis sempat merisaukan sang Guru. Namun Abdul Djalil meyakini bahwa Anis sudah menimbang-nimbang keputusannya.

"Saya lebih memilih untuk dalam tarbiyah disini ustadz (di Indonesia. red)," ujar Anis saat itu. Anis menjelaskan alasannya bahwa ia lebih memilih gerakan tarbiyah yang kini menjadi cikal bakal berdirinya Partai Keadilan yang saat ini telah berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

“Lihatlah, itu adalah keputusan yang tepat, dia memang cerdas dan penuh pertimbangan. Gerakan tarbiyah yang dia pilih menjadikannya dikenal seperti sekarang," kata Abdul Djalil sembari tersenyum mengisahkan Anis Matta.

Dengan kesibukannya yang sangat padat sebagai presiden PKS dan salah satu kader yang dijadikan calon presiden dari PKS, Anis tidak sendiri dalam menjalani tugasnya. Ahmad Sahal, anak ke-4 dari gurunya menjadi sekretaris pribadinya. 

Ahmad Sahal sendiri adalah seorang penghafal Al-qur’an sejak usianya masih belasan tahun, dia menghafal Al-quran di Pakistan saat mengikuti ayahnya yang sedang kuliah di Universitas Internasional Islamabad. Sahal adalah orang asing pertama yang menghafal Al-quran 30 juz di Islamabad. Dari Ahmad Sahal inilah Sang Guru mendapatkan informasi tentang keseharian Anis Matta.

Pesan Sang Guru untuk Sang Presiden

Abdul Djalil tidak meragukan kemampuan murid terbaiknya itu. Menurutnya, Anis memang layak menjadi Presiden RI.

"Niat untuk menjadi RI-1 harus dipermantap, karena kamu memenuhi persyaratan untuk itu," pungkasnya.

Post a Comment

 
Top