GuidePedia

0
Anak-anak menonton film tentang PKS, sementara orangtuanya melihat-lihat bazar berbagai macam produk

Perth (22/3)- Tak ingin ketinggalan gegap gempita pesta demokrasi di Tanah Air, para kader dan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bermukim di Perth, Western Australia, membuat acara meriah tentang PKS ala mereka. Bertepatan dengan memudarnya hawa panas dan hadirnya semilir angin musim gugur, tajuk acara ini disesuaikan dengan nama musim yang sedang mereka nikmati, yaitu "Autumn Festival".

Sabtu (22/3) pukul 10.00 waktu setempat, panitia sudah sibuk hilir mudik mengatur setting ruangan Harry Turner Hall di Queens Park, Perth. Mereka mendekorasi ruangan dengan beberapa atribut partai berwarna hitam, kuning dan putih. Meja-meja yang diperuntukkan untuk peserta bazaar makanan dan baju ditata sedemikian rupa agar memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.

Contact Person Pusat Pelayanan dan Informasi PKS Western Australia Anton Faizal, dalam sambutannya mengatakan bahwa tujuan acara ini bukan hanya untuk memperkenalkan PKS kepada masyarakat Indonesia, namun juga dimaksudkan sebagai ajakan untuk selalu peduli pada situasi Tanah Air lewat partisipasi warga Indonesia di luar negeri.

"Salah satu bentuk kepedulian itu tentunya adalah melalui peran serta mereka dalam memilih wakil rakyat di ajang Pemilihan Umum. Peran serta ini penting, sebab meski tinggal jauh di ranah perantauan, masih ada kebijakan Pemerintah Indonesia yang berpengaruh pada rakyat Indonesia di luar negeri, misalnya tentang status kewarganegaraan, jaminan perlindungan buruh migran, serta solusi bagi berbagai permasalahan mahasiswa," ungkap Anton.

Peserta berdiri saat mendengarkan lagu kebangsaan "Indonesia Raya"

Anton juga mengungkapkan acara ini dimaksudkan untuk membantu Pemerintah Indonesia dalam melakukan sosialisasi tentang Pemilu 2014 bagi warga negara Indonesia (WNI) di Perth, terutama terkait informasi tentang tanggal pemungutan suara. "Berbeda dengan di Indonesia, pemungutan suara di luar negeri dilaksanakan lebih awal. Pemungutan suara di Perth dilaksanakan tanggal 6 April. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) tentu perlu dibantu dalam sosialisasi tentang Pemilu ini, agar warga Indonesia di Western Australia makin antusias dalam menggunakan hak pilihnya," ungkap Anton.

Acara ini dimeriahkan sekitar dua ratus pengunjung. Sebagian besar pengunjung datang bersama pasangan atau keluarga masing-masing. Di antara mereka tampak beberapa warga negara Australia yang didampingi pasangan mereka yang berwarga negara Indonesia.

Autumn Festival ini menjadikan bazar acara utama. Ada banyak stan yang menjual masakan khas Indonesia yang ternyata paling laris di antara stan lainnya. Beberapa menu jajanan seperti bubur ayam, mie ayam, lontong sayur, bakwan Malang, soto Banjar, nasi pecel, nasi liwet, pempek, serta aneka gorengan. Pengunjung dapat menyantap langsung berbagai makanan tersebut atau membawanya pulang.

Stan baju muslim, buku, aksesoris, serta suplemen herbal tak kalah meriahnya. Ada juga stan barang bekas yang dipajang di dekat pintu masuk, sempat menjadi perhatian beberapa pengunjung karena barang-barangnya masih berkualitas.

Beberapa orangtua membawa anak mereka dalam festival ini, namun PKS Western Australia sudah mempersiapkan kemungkinan tersebut. Mereka menyediakan stan face painting bagi anak-anak. Karena mereka tertarik untuk wajahnya digambar, orangtua mereka dapat menitipkan mereka di sana.

Seorang ayah melihat wajah anaknya dihias
Respon pengunjung terhadap kegiatan ini cukup positif. Beberapa ibu-ibu, seperti Ibu Ertha dan Ibu Yuan yang mengaku kurang memperoleh informasi tentang Pemilu 2014 menjadi tercerahkan, setelah mengikuti acara ini. Mereka pun bertekad untuk menyalurkan aspirasi politiknya dengan ikut memilih wakil-wakil rakyat yang amanah. Ada juga respon positif dan peserta laki-laki. Marco, seorang warga Australia yang menikah dengan wanita Indonesia, begitu antusias menceritakan kesannya. "Acaranya bagus, keren, meriah, dan sangat menyenangkan bagi orang Indonesia maupun bagi non-Indonesia. Acara ini cukup mencerminkan budaya Indonesia secara umum dan budaya Islam Indonesia pada khususnya," ungkapnya.

Marco dan istrinya (paling kiri) beserta panitia
"Saya berpindah ke agama Islam di usia remaja,” papar Marco, “lalu banyak belajar Islam secara otodidak dari teman-teman muslim di sekitar saya. Terus terang, saya belajar Islam lebih dalam dengan bentuk yang moderat, ramah, dan inklusif melalui para ustadz di PKS. Saya harap dan percaya PKS kelak dapat mempresentasikan ajaran Islam ke seluruh masyarakat Indonesia yang heterogen melalui cara dakwahnya yang fleksibel." Di akhir acara, tanpa sungkan Marco mengajak panitia untuk berfoto bersama sambil mengacungkan tiga jarinya. [Vienna Alifa, Perth]

Post a Comment

 
Top