GuidePedia

0

Sebagian kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) - dengan naluri manusiawinya - mungkin kecewa, atau geregetan, manakala di penghujung Januari lalu Majelis Syuro (MS) PKS tak kunjung mendeklarasikan seorang calon presiden definitif untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Alih-alih, Majelis Syuro malah menetapkan lagi tiga kandidat capres setelah sebelumnya menggelar pemira internal yang menghasilkan lima besar nama tokoh internal yang diinginkan kader.

Bagi sebagian kader, kejelasan satu nama yang akan diusung sebagai capres sangat membantu agar bisa fokus menjual partai ini saat mereka berkunjung ke rumah-rumah warga. Penetapan satu nama membuat mereka bisa fokus mengeksplorasi prestasi dan daya jual dari tokoh itu. Kader PKS yang banyak diisi oleh orang kreatif akan lebih terarah memproduksi konten-konten menarik.

Sedangkan penetapan tiga nama, menurut mereka membuat masyarakat bingung dan menilai PKS tak tegas. Ada juga masyarakat yang resisten pada salah satu dari tiga nama itu. Akhirnya mereka malah menolak semuanya.

Faktor Elektabilitas
Beberapa survey memperlihatkan bahwa salah satu alasan para pemilih menentukan pilihannya pada partai politik pada pemilu legislatif mendatang adalah berdasarkan tokoh yang diusung sebagai capres. Jarang masyarakat yang memperhatikan program atau visi misi partai. Pengaruh individu masih dominan pada masyarakat kita.

Karena itu, sudah sewajibnya PKS menawarkan sosok yang layak diangkat menjadi capres kepada masyarakat. Segala bentuk alasan pilihan harus dijajaki dan disediakan agar masyarakat berbondong-bondong memilih PKS dari jalan alasan manapun.

Ada pengalaman menarik dari salah seorang pelaku direct selling Partai Keadilan (PK) yang kemudian menjadi PKS ini. Pada masa itu, tahun 1999, saat mendekati pemilu pertama setelah Reformasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indoensia (FK UI) menyelenggarakan debat calon presiden di Salemba, yang dihadiri oleh Amin Rais, Sri Bintang Pamungkas, Yusril Ihza Mahendra, dan calon dari PK, Didin Hafidhuddin. Dalam debat itu terjadi sedikit keributan antara Yusril dan Amin Rais, yang kemudian Kiai Didin (panggilan Didin Hafidhuddin) menengahi perselisihan tersebut dengan kata-katanya yang bijak.

Rupanya hal itu terekam dalam ingatan masyarakat. Ketika kader PK datang ke rumah-rumah warga, mereka menjelaskan bahwa Kiai Didin yang diusung oleh PK hadir pada debat capres kemarin. Sambutan warga rupanya positif. “Wah, kalau dia keliatannya bijak. Bagus itu orangnya.” Itu salah satu komentar warga. Masyarakat menjadi simpatik, sehingga closing pun mudah.

Berbekal pengalaman 1999 lalu, rasanya masyarakat bisa digugah melalui rentetan 130 penghargaan kang Aher, atau testimony kekaguman tokoh nasional kepada Hidayat Nur Wahid, atau video orasi Anis Matta yang membahana. Kader PKS bisa membuat masyarakat percaya, PKS punya capres yang mumpuni, sehingga mereka akan mempertimbangkan memilih PKS.

Sisi Positif Penetapan Tiga Calon
Mungkin saja kader PKS yang kecewa karena penetapan tiga capres itu belum memahami ada sisi positifnya. Penetapan tiga calon ini sebenarnya bisa berdampak baik pada elektabilitas PKS asalkan dikelola dengan baik. Bagaimana mengelolanya?

Sebenarnya tiga capres yang ditawarkan PKS memiliki kelebihan masing-masing. Ada yang menyandangkan jargon Cinta-Kerja-Harmoni pada karakter masing-masing capres. Anis Matta yang telah menulis buku “Biar Kuntumnya Mekar”, yang berisi nasihat rumah tangga, diidentikkan dengan karakter “cinta”. Hidayat Nur Wahid, yang sosoknya diterima oleh berbagai kalangan umat beragama karena kesantunannya, diidentikkan dengan karakter “harmoni”. Dan, Ahmad Heryawan yang gemar mengoleksi berbagai penghargaan diidentikkan dengan karakter “kerja”. Semuanya pas.

Anis Matta kita kenal jago berorasi. Beliau memiliki kemampuan retorika yang memukau. Hidayat Nur Wahid dikenal sebagai sosok yang santun dan diterima oleh banyak kalangan. Beliau berpengalaman memimpin lembaga tinggi negara yang merupakan modal menjadi presiden. Dan Ahmad Heryawan, adalah sosok yang sangat mudah ditampilkan dengan karya nyatanya.

Setiap capres ini memiliki pendukung fanatiknya di tubuh PKS.  Dan, PKS memiliki stok kader kreatif yang melimpah. Tampaknya, sebaran kader-kader kreatif yang menjadi pendukung setiap calon cukup merata. Mereka bisa saling berkompetisi memaksimalkan daya kreatifitasnya untuk mempopulerkan capres pilihan.
Jika ada masyarakat yang resisten dengan salah satu capres, tawarkanlah capres yang sesuai dengan kecenderungannya. Perkenalkan kelebihan-kelebihan capres yang sesuai, sehingga orang itu tertarik. Seperti kader PKS, masyarakat juga punya pilihan sendiri kepada capres PKS. Untuk warga Jawa Barat, tentu lebih dekat dengan Kang Aher. Kepada masyarakat dari suku Jawa, tawarkan saja Hidayat Nur Wahid. Dan, untuk kalangan intelektual, ide-ide Anis Matta bisa dijual.

Majelis Syuro (MS) PKS sengaja membuat kompetisi antar mereka. MS telah mengamanahkan agar setiap capres bekerja dalam meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya. Kompetisi ini seperti sebuah pesta kecil yang bisa membuat orang menoleh – begitu yang diistilahkan Anis Matta. Saat masyarakat menoleh, masyarakat akan menyadari PKS memiliki stok kader berkapasitas pemimpin nasional.

Permasalahan PKS adalah ketokohan dan itu seharusnya disadari oleh para kadernya. Selama ini kader-kader PKS lebih suka menjual nama partai dibanding nama tokoh. Tetapi, toh masyarakat belum bisa memisahkan individu dan institusi. Ketika ada individu yang bermasalah, tetap saja partai yang kena getahnya. Jadi, tokoh itu sangat menentukan. Popularitas seorang tokoh bisa mengangkat atau menurunkan institusi. Oleh karena itu, dengan cara mengajukan tiga capres, PKS dan kadernya mulai membiasakan diri menjual nama tokoh-tokohnya. Toh, yang dijual adalah orang-orang berkapabilitas dan berintegritas, bahkan sekali jual, langsung tiga nama.


Ditulis oleh Zico Alviandri, seorang karyawan swasta, suami dari Eva Nafisyah, dan ayah dari dua anak. Saat ini tinggal di Pekapuran, Depok. 

Twitter penulis: @zicoalviandri

Post a Comment

 
Top