GuidePedia

0


Pendidikan politik pertama saya didapat dari Bapak. Doktrin yang selalu Bapak berikan adalah doktrin apatis, yaitu memprotes berbagai kerusakan bangsa. Ibaratnya, Indonesia sudah rusak sekaset, jadi kalau mau benar, ganti kaset baru. Semuanya  harus generasi baru.

Tapi, Bapak belum pernah mendiskusikan solusi nyata atas semua protesnya. Kesimpulannya ada di satu kata: golput. Untuk apa memilih? Tidak ada perubahan nasib. Proklamasi Bapak, beliau tidak akan milih sampai mati. Ekstrim, kan?

Saya sangat memahami pola pikir orangtua saya. Satu dari sekian banyak kasus golput sebagai pilihan di Tanah Air. Beberapa faktor memengaruhi sikap demikian, termasuk sepinya pendidikan politik yang benar dan santun.

Karena saya kenal karakter Bapak, akan sia-sia jika mendebatkan bahwa Pemilu sejatinya berhubungan dengan harga cabe, jumlah pengangguran, kebajiran, korupsi, dan semua nasib bangsa, maka dari itu, kita perlu lakukan sesuatu. Kita ganti "kasetnya" dengan anggota dewan dan pemimpin yang amanah. Mewujudkan kecintaan pada Allah dengan melakukan yang terbaik bagi Bangsanya, bukan hanya melakukan golput dan berorasi yang menghujat.

Untuk sementara, status saya dan Bapak adalah seperti "Bagi saya sikap saya, bagi Bapak, sikap Bapak". Bapak tidak akan ikut saya dan saya tidak akan ikut Bapak. Tapi, kami saling menghormati. Lucunya…

Sejak 2004, Pemilu pertama yang saya ikuti, saya pilih PKS dan langsung menjadi saksi TPS. Mengawal suara hingga ke PPK, padahal ketika itu, saya masih sangat baru mengenal Tarbiyah, bahkan masih  mempertayakan banyak hal di Tarbiyah.

Pesan murobbi saya menjelang jihad siyassi, PKS hanyalah nama. Dan, nama bisa apa saja. Maka, seorang aktivis dakwah bisa dan boleh mengusung berbagai nama untuk misi dakwahnya. Bisa dan boleh masuk ke berbagai lini kehidupan. Tidak ada pengecualian termasuk ke ranah politik. Kebetulan Keadilan dan Sejahtera disepakati sebagai nama dari gerakan dakwah Tarbiyah di politik.

Kalau yang saya bela PKS, maka bisa jadi PKS mati, seperti Partai Keadilan yang dipaksa mati oleh ketentuan parliamentary treshold. Tapi, yang kita bela adalah dakwah yang diusung PKS. Dan, dakwah tidak akan pernah mati.

Ketika berkesempatan membuka Facebook, ada perdebatan cukup panjang atas status seseorang yang dulunya aktivis dakwah sekolah. Salah satu komentarnya berbunyi, “Kalau masih ada PK, saya pilih PK, nggak pake S. Sayang, PK sudah tamat riwayatnya.” Saya  hanya ngomong sendiri, “Mbak ini belain namanya.

Kalau yang saya bela PKS, saya kemungkinan besar putus hubungan dengan banyak saudara seiman yang  mati-matian bilang demokrasi tidak sesuai syariah Islam, mereka yang sengit menulis komentar Islam hanya bisa diperjuangkan dengan cara yang diajarkan Rasulullah. Dan, sistem partai dalam Pemilu adalah sistem kapitalis.

Sudah cukup saya harus menahan diri untuk tidak menyahut berbagai komentar tersebut. Paling maksimal, saya curhat ke suami, menumpahkan kegeregetan tersebut. Rasanya mau teriak, sadar nggak sih, kalau musuh Islam sengaja mau mengadu domba kita, agar banyak orang Islam nggak milih, agar Indonesia dikuasai orang kafir, agar Islam di Indonesia musnah. Meski begitu, saya cuma neriakin suami. Kalau saya teriak di soc-med, saya khawatir khilaf.

Kalau yang saya bela PKS, dimana nurani keibuaan saya? Anak berusia 11 bulan dalam kondisi demam, saya ajak pergi seharian. Ada baksos Dapil 1, saya naik motor dengan lama perjalanan lebih dari satu jam, pergi di terik matahari dan pulang di kala senja menutup hari. Tetapi, dengan bismillah, saya tetap ikut "membantu" baksos, meski di sana saya hanya mengurusi Si Kecil, tak apalah. Belum lagi tatapan iba atau protes dari banyak orang yang melihat, ketika saya mengurus Si Kecil.

Kalau yang saya bela PKS, saya akan stres di saat media ramai mengumumkan PKS hanya menduduki posisi ketujuh atau kedelapan dari 15 parpol peserta Pemilu, bukan tiga besar yang selalu diteriakkan. Seolah kerja-kerja sepanjang tahun harus pupus oleh Pemilu satu hari.

Kalau yang saya bela PKS, saya kian tertekan mental dengan sikap orang tua saya. Sementara saya ‘jungkir balik’ mengenalkan PKS, melakukan pendidikan politik yang Islami. Mirisnya, orang terdekat saya justru antipati. Syukurnya, Bapak tidak pernah menghalangi saya aktif di partai.

Doa saya, semoga kerja dakwah kami turut dirasakan Bapak. Sindiran kecil dari Bapak, kini terasa biasa. “Katanya anti korupsi. Presidennya kena tahan KPK! Enjoy aja, saya kan nggak belain PKS.

Maaf, terlalu murah harga yang harus dibayar untuk semua perjuangan para aktivis dakwah jika hanya atas nama PKS. Maka, saudara-saudara sebangsa setanah air, ingat, nggak penting belain PKS! 

Ditulis oleh Umi Laila Sari, Pengurus Humas DPC PKS Kemuning Kota Palembang

Post a Comment

 
Top