GuidePedia

0
Aher Pembicara Kunci Diskusi Putra Terbaik JabarKabarPKS.com - Bandung - Sesepuh dan tokoh masyarakat lintas elemen, serta kalangan akademisi Jawa Barat sepakat untuk mendorong penokohan putra terbaik provinsi ini ke pentas kepemimpinan nasional.
Komitmen itu perlu dilanjutkan melalui langkah bersama secara simultan. Kesatuan ini penting karena tampilnya putra terbaik Jabar di tampuk kepemimpinan nasional juga demi kemajuan dan kesejahteraan warga provinsi terpadat di Indonesia ini.
Demikian salah satu kesimpulan Diskusi Publik "Mencari Putra Terbaik Jabar Untuk Capres" yang digelar Harian Tribun Jabar di Hotel Horison, Kota Bandung, Kamis, 17 April 2015.
Tampil sebagai pembicara kunci Gubernur Jawa Barat Ahmad  Heryawan (Aher), serta pembahas Prof. Dr. Idrus Affandi (Universitas Pendidikan Indonesia) dan Prof. Dr. Dede Mariana (Universitas Padjadjaran).
Hadir di tengah peserta berbagai kalangan organisasi masyarakat (ormas) kepemudaan, profesi, dan agama, sesepuh Jawa Barat antara lain Didi Turmudzi, Tjetje Hidayat Padmadinata, Uu Rukmana, Entang Sastraatmadja. Selain ini juga hadir beberapa pengusaha yang juga pengurus Kadin Jawa Barat.
Gubernur Heryawan yang berbicara mengawali diskusi terbuka menegaskan keprihatinannya terhadap praktik demokrasi. Mengambil contoh pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2014, Aher menyinggung rasionalitas masyarakat yang masih rendah dalam menentukan pilihan politik.
"Banyak caleg (calon legislatif) yang bekerja bertahun-tahun di tengah masyarakat tapi kalah oleh caleg yang hanya bekerja tiga hari menjelang hari pencoblosan," ungkap Aher, yang menyinggung caleg atau partai yang menghalalkan politik uang.
Karena kondisi tersebut, menurut Aher, sangat terbuka peluang pemimpin yang terpilih melalui Pemilu bukan figur yang terbaik.
Mengapa hal itu terjadi? Gubernur Heryawan menandaskan, akibat masih rendahnya pendidikan sebagai masyarakat. "Di kalangan buruh pabrik, misalnya, sebagian besar pendidikannya di bawah SLTA. Mereka itu kemungkinan memilih caleg/partai yang bekerja tiga hari saja tadi," ujar Aher lagi.
Prof. Dede sependapat dengan Aher. Gurubesar Ilmu Pemerintahan ini mengatakan, kondisi dimaksud sebagai penyakit demokrasi. "Itu memang penyakit demokrasi di manapun. Sosok jelek boleh memenangkan pemilu, sementara tokoh terbaik justru kalah," tukasnya.
Menurut Prof. Dede, fakta dimaksud sungguh memprihatinkan sebab terjadi ketika persaingan antarnegara di era globalisasi sangat ketat. "Kita-kita ini juga perlu mendesak partai politik agar menerapkan rekrutmen tokoh yang benar," papar Prof. Dede.
Sementara Prof. Idrus menekankan pada karya sang tokoh sebagai landasan bagi seluruh komponen Jawa Barat mendukung putra terbaik ke Jakarta. Dan, katanya, banyak tokoh provinsi besar ini yang memenuhi syarat.
Uu Rukmana, anggota DPRD Jawa Barat dan tokoh Paguyuban Pasundan, menandaskan bahwa bukan lagi waktunya mencari sang putra terbaik sebab tokohnya sudah ada. Menurut Uu, sosok Gubernur Ahmad Heryawan adalah putra terbaik yang tepat digadang-gadang mewakili Jawa Barat di arena nasional.
"Hingga sekarang hanya Kang Aher yang berani tampil dan berjuang dalam pentas calon presiden atau calon wakil presiden. Jadi, bagi kita warga Jawa Barat, kalau tidak ada calon asal Jawa Barat dalam pemilu, ya tidak perlu mencoblos," tegas Uu Rukmana, yang disambut aplaus hadirin.

Post a Comment

 
Top