GuidePedia

0

KabarPKS.com - Jakarta (2/5) - Kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak di lingkungan sekolah mengguncang dunia pendidikan sekaligus membuka mata publik bahwa perkembangan dunia pendidikan di Indonesia ternyata tengah menghadapi berbagai ancaman serius.
Wakil Ketua Komisi VIII yang juga kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ledia Hanifa Amaliah memaparkan, bahwa seiring proses penyidikan yang tengah dilangsungkan, banyak hal harus ikut dibenahi agar masalah yang mengancam tumbuh kembang anak Indonesia di masa datang dapat dicegah dan dihilangkan.
“Kita banyak mendapat pelajaran dari kasus kekerasan anak di sekolah ini. Kita melihat betapa jumlah sekolah terus bertambah setiap tahun dengan kualitas yang semakin baik, fasilitas sekolah di banyak sekolah juga semakin lengkap dan berbagai program pun dikreasikan dengan harapan anak didik yang dihasilkan menjadi semakin cemerlang di usia yang semakin dini. Tetapi sayangnya nampak pula ketimpangan yang semakin mencolok dari hari ke hari,” papar anggota dewan asal Fraksi PKS ini.
Pertama, jelas Ledia, peran pendidikan anak yang semestinya menjadi satu lingkaran kesinambungan antara rumah dan sekolah, orangtua dan guru kini cenderung terputus. Banyak orangtua tanpa disadari seolah telah menyelesaikan tugas pendidikan anak dengan mencari dan memasukkan anak ke sekolah-sekolah yang dianggap terbaik, termegah dengan fasilitas terlengkap.
“Hubungan orangtua dengan dunia pendidikan anaknya menjadi minimalis. Kalau sekolah sendiri tidak memiliki program yang melibatkan peran orangtua, dan kemudian orangtua pun tidak proaktif, maka banyak momen dalam masa tumbuh kembang anak yang tidak terpantau orangtua. Ibaratnya hubungan orangtua dan sekolah hanya terbatas saat membayar iuran,” ujarnya.
Kedua, pendidikan berbasis keteladanan yang paling efektif diserap dan menjadi pengokoh karakter anak di masa dewasa semakin langka. “Orangtua harus menjadi teladan utama dan pertama bagi anak di rumah. Sementara di lingkungan sekolah, kepala sekolah,staf pengajar dan staf pendukung lainnya harus menjadi ujung tombak dalam hal memberi keteladanan sikap, perilaku serta nilai moral atau akhlak.Jangan sampai anak diajari hal-hal baik tetapi tidak melihat praktek hal-hal baik itu," tegasnya.
Ketiga, pendidikan yang didapat anak di luar sekolah dalam hal ini lingkungan bermain, lingkungan rumah dan lingkungan masyarakat memiliki pengaruh sangat besar, terutama yang diajarkan lewat tayangan televisi serta internet. “Apa artinya guru berusah payah mengajarkan kebaikan pada anak bila tayangan televisi secara intens menayangkan betapa ‘enteng’ dan ‘biasa’ bila dalam pergaulan kita mudah melecehkan, menghina, menghasut, dan melakukan kekerasan pada orang lain," tambahnya.
Karena itu Ledia menghimbau semua pihak untuk bisa bersama-sama melakukan perbaikan demi melindungi anak dan menyiapkan masa depan generasi penerus bangsa yang lebih baik.
Dalam hal ini orangtua dan guru perlu bersama-sama mengemban tugas pendidikan anak secara aktif. Memiliki semacam buku penghubung atau buku pemantau, juga secara bergiliran melibatkan orangtua dalam beberapa program sekolah bisa menjadi alternatif. Sementara pemerintah harus secara tegas mengatur tayangan televisi agar tidak lagi dipenuhi berbagai “inspirasi” negatif.
Secara khusus, Ledia juga meminta aparat penegak hukum untuk tidak ragu dan terganggu dengan campur tangan pihak manapun dalam menyelidiki lapis demi lapis kasus kekerasan pada anak ini.

“Usut tuntas kasus ini sebagai pembelajaran dan pencegahan atas kasus serupa di masa datang. Kepentingan anak sebagai korban dan masa depan anak Indonesia adalah hal utama yang menjadi konsern kita bersama. Bahwa ada nama besar lembaga pendidikan yang terkait, atau jaring internasional yang terlibat tak perlu menyurutkan langkah para penyidik untuk menegakkan hukum di negeri kita," pungkasnya.

Post a Comment

 
Top