GuidePedia

0


Layaknya sebuah iklan minuman teh kemasan, pria ini sepertinya pantas mendapatkan jargon serupa. Siapapun ketuanya, Ahmadi sekretarisnya.
Ya, pribadi yang sekilas terlihat kalem, kadang dingin, namun murah senyum, serta kadang kocak, sebenarnya adalah sosok yang cukup berperan menyumbang kesuksesan dakwah di Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jawa Tengah. Namanya singkat, Ahmadi. Pria Kelahiran Demak, Jawa Tengah ini memulai karir politik serta jenjang dakwahnya setelah mendapatkan amanah sebagai Sekretaris Umum Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Kota Semarang pada 1998 sampai 1999.
Terlibat bertahun-tahun dalam berbagai aktivitas yang membutuhkan kerapian administrasi dalam sebuah organisasi dakwah, menjadikan Ahmadi pakar di dalamnya. Pada tahun 2000, dirinya kembali diberi amanah sebagai Wakil Sekretaris Umum DPW PKS Jawa Tengah. Menjelang periode tahun 2003 akhir, Ahmadi kembali menjadi sekretaris Umum DPD PKS Kota Semarang sampai tahun 2005.
Berbekal pengalamannya beberapa waktu menjadi Sekum DPD, ia pun akhirnya ‘naik pangkat’ menjadi sekretaris Umum DPW PKS Jateng sampai tahun 2006. Pada Tahun 2007, dia sempat mundur karena merasa belum siap untuk mengemban amanah berat sebagai seorang sekum. Akan tetapi, Ahmadi kembali mendapatkan amanah di DPW sebagai Koordinator Wilayah Jawa Tengah 1 yang meliputi Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal dan Kota Salatiga.
Seakan telah berjodoh dengan amanah kesekretariatan, tahun 2010, lewat Musyawarah Wilayah DPW, Ahmadi kembali dipilih oleh majelis syuro sebagai Sekretaris Umum untuk periode 5 tahun mendatang, 2010-2015. Dan kali ini Ahmadi tidak bisa menolak amanah tersebut. Ia resmi menjadi Sekretaris Umum DPW PKS Jawa tengah atau menjadi wakil dari Ketua DPW PKS Jawa Tengah saat ini, Abdul Fikri Faqih.
Dengan amanahnya sebagai Sekum untuk kesekian kalinya, maka dapat dikatakan Ahmadi memiliki rekor baru di dalam kepartaian, yakni menjabat sebagai Sekretaris Umum terlama sepanjang sejarah, terhitung sejak Partai Keadilan (PK) berdiri tahun 1998 sampai tahun 2015, atau sekitar 17 tahun.
Pengonsep Pendidikan Gratis
Pada pemilihan umum tahun 2004, Ahmadi terpilih menjadi anggota legislatif DPRD Kota Semarang untuk periode 2004-2009. Pada periode pertama Ahmadi menjabat sebagai wakil rakyat, ia mendapatkan amanah di komisi D, yang membidangi wilayah kesejahteraan rakyat (kesra). Banyak hal yang ia dapatkan selama periode pertama kiprahnya sebagai anggota dewan ini.
Satu hal yang tidak bisa dilupakan oleh pria yang sekarang berdomisili di Mijen, Semarang ini adalah ketika berhasil membuat kebijakan atau menggolkan kebijakan terkait pendidikan gratis sekolah swasta. Pada saat itu, ia menganggap seharusnya tidak ada perbedaan perlakukan antara SD negeri dengan swasta sebagaimana amanat dari UU yang mengaturnya.
Selain itu, Ahmadi juga pernah melakukan advokasi bantuan sosial kepada beberapa elemen masyarakat di Kota Semarang yang terkait dengan kesejahteraan rakyat. Advokasi tersebut diantaranya adalah advokasi terkait bantuan sosial kepada para pengajar TPQ, madrasah diniyah, dan juga modin. Karena seperti diketahui, sebelum Ahmadi menggolkan kebijakan ini, tingkat kesejahteraan para pengajar TPQ dan Diniyah tersebut jauh di bawah UMR Kota Semarang. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan Ahmadi untuk memperjuangkan kesejahteraan para pendidik tersebut.
Hal yang menarik lainnya yang pernah dialami oleh Ahmadi adalah ketika dirinya 6 kali dipanggil oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tentu bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai saksi kasus korupsi yang melibatkan pejabat di Wilayah Kota Semarang, termasuk yang terakhir adalah kasus Korupsi Walikota Semarang, Soemarmo. Hal ini pun menjadi rekor tersendiri bagi Ahmadi, menjadi saksi terbanyak untuk kasus korupsi. Selain kasus yang menimpa Soemarmo, Ahmadi juga terlibat menjadi saksi di berbagai kasus yang menimpa beberapa aleg DPRD Kota Semarang dari fraksi lain.
Sentuhan Embun Tarbiyah
Seperti kita ketahui, dalam beberapa tahun terakhir, memang banyak kasus korupsi yang menjerat pejabat—baik pejabat eksekutif maupun legislatif—di kota Semarang. Ahmadi sangat bersyukur, karena hal tersebut tidak terjadi di fraksi PKS. Mereka tetap berkomitmen untuk tidak korupsi, dan menjadikan kerja mereka sebagai bagian dari perjuangan dakwah.
Komitmen itu bukannya tanpa ujian, karena godaan untuk melakukan penyelewengan saling berseliweran. Akan tetapi, sentuhan embun tarbiyah, yakni mekanisme pengkaderan yang baik di tubuh PKS, telah berhasil menjadi imunitas baginya.
Seperti halnya para kader PKS lainnya, keberadaan Ahmadi sebagai salah satu penggerak dakwah di Jawa Tengah juga tidak lepas dari peran para penggerak dakwah di Jawa Tengah, seperti Ustadz Zuber Safawi maupun Darni Imanudin, murobbi pertama Ahmadi.
Ahmadi mulai tertarik dengan kajian keislaman sejak SMP, saat mulai membaca majalah Al-Muslimun yang diterbitkan PERSIS, Bangil. Pada tahun 1989, Ahmadi diminta oleh kakaknya, Ahmadun, untuk mengikuti sebuah dauroh (traning) keislaman di Tegal. Siapa sangka begitu sampai dalam dauroh tersebut, ternyata yang mengisi adalah kakaknya sendiri. Ini adalah awal mula ketergabungan Ahmadi dengan gerakan tarbiyah.
Sejak itu, Ahmadi mulai merasakan kenyamanan mengikuti halaqoh setiap pekannya selama di SMA 1 Tegal. Ahmadi ikut liqo dengan salah satu tokoh dakwah Jawa Tengah, yakni Darni Imanudin, yang sekarang sebagai anggota DPRD Kota Tegal, pada tahun 1991. Bahkan walaupun hujan menghadang, semangat untuk mengikuti liqo tak pernah surut, inilah yang membuatnya merasa nyaman bersama tarbiyah.
Ada satu kisah menarik ketika Ahmadi mendapatkan skors saat ikut olahraga di SMA. Ia diskors karena menolak untuk mengenakan celana pendek saat ikut pelajaran olahraga di sekolah. Sikapnya yang keras kepala ini membuahkan hasil ketika akhirnya SMA membolehkan dirinya dan teman-temannya untuk memakai celana panjang saat olahraga.
Pasca menyelesaikan studinya di SMA 1 Tegal, Ahmadi melanjutkan studinya di Politeknik Undip pada tahun 1994-1997. Semasa kuliah di Poltek Undip, Ahmadi masih aktif sebagai pengurus rohis sehingga dia diaulat sebagai Ketua Umum Rohis Politeknik Undip pada tahun 1995-1996, dan menyelesaikan kuliahnya di D3 Politeknik Undip 1997.
Tahun 1998, saat Deklarasi Partai Keadilan, Ahmadi juga menjadi salah satu kader yang sepakat bahwa aktivitas dakwah ini harus masuk merambah ke ranah partai. Ia pun menjadi salah satu peserta deklarasi di Gedung Berlian pada Agustus 1998. Setelah menyelesaikan studi di Politeknik, Ahmadi dihadapkan pada pilihan yang sungguh tidak mudah; memilih untuk mengembangkan karirnya di Jakarta dengan kerja, atau memilih tinggal di Semarang. Waktu itu memang Zuber Safawi yang merupakan massayikh dakwah Jawa Tengah meminta Ahmadi untuk tidak pindah dari Semarang. Ia berpendapat agar Ahmadi menetap di Semarang supaya tetap fokus membina dan berdakwah.
Akhirnya Ahmadi pun mengambil keputusan untuk tinggal di Semarang, sementara untuk ma’isyah (penghasilan), ia menjadi Kepala Cabang Yayasan Nurul Fikri sampai pada tahun 2003. Ia kemudian menikah dengan salah satu akhwat Semarang pada 19 November 2000. Sejak itu, ia pun begitu menikmati tarbiyah, menikmati dakwah ini dengan sepenuh hati. Karena bagi dirinya, satu hal yang terpenting adalah bahwa kader dakwah harus selalu istiqomah untuk berdakwah, dimanapun, kapanpun, dan bersama siapapun. Bagi Ahmadi, mengalir bersama tarbiyah adalah hal terindah, maka mengalirlah bersama dakwah dan tarbiyah.
Kini, Ahmadi terpilih menjadi satu diantara 10 aleg PKS di Jateng yang siap memberikan kotribusi terbaiknya menjadi wakil rakyat di Daerah pemilihan I Jateng. Kita nantikan kiprah sang inisiator pendidikan gratis kota Semarang itu.
( Ped )
Sumber: www.pksjateng.or.id

Post a Comment

 
Top