GuidePedia

0
Uweng yang bernama asli Maman dulu seorang preman Pasar Rangkas, Kabupaten Lebak yang ditakuti para pedagang maupun masyarakat setempat. Sehari-hari dia menagih setoran dari anak buahnya yang mengambil pungutan liar kepada para pedagang pasar. "Jatah preman" istilahnya, dia gunakan untuk berfoya-foya bersama anak buahnya. Tidak jarang masyarakat merasa resah dengan perilaku mereka. Namun masyarakat tidak mampu berbuat apa-apa.
Pada suatu hari ia melihat sebuah kegiatan sosial yang dilakukan oleh salah satu partai politik. Ia kemudian memperhatikan kegiatan sosial itu tidak hanya sekali-dua kali, tapi dilakukan berkali-kali. Uweng heran, ada partai politik (parpol) masih mau melayani masyarakat, padahal dia melihat partai politik secara umum hanya mengadakan kegiatan saat mendekati kampanye. Setiap malam ia memikirkan mengapa partai tersebut mau melayani masyarakat saat bukan masa kampanye. Fenomena ini mengganggu hatinya, sehingga ia memutuskan untuk bertanyakepada salah satu pengurus parpol tersebut di sekitar tempat tinggalnya.

Akhirnya, Uweng bertanya kegiatan sosial yang sering dilakukan oleh partai tersebut. Uweng ingat, jawaban dari pertanyaannya, “Ini memang tugas kami untuk melayani masyarakat. Parpol kan tidak hanya sebagai media untuk belajar politik, tapi tempat untuk melayani masyarakat." Uweng kemudian bertanya, mengapa partai ini mendatangi masyarakat tidak di masa kampanye. "Setiap orang punya prioritas, dan prioritas PKS adalah melayani masyarakat,” ungkap Uweng saat menirukan jawaban pertanyaannya.

Dari percakapan yang terjadi antara uweng dengan pengurus PKS, membawa perubahan dikehidupan uweng sendiri. Ia begitu rajin mengikuti kelompok pengajian yang digagas oleh kader PKS dan meninggalkan pekerjaannya yang dahulu. Anak buahnya pun merasa heran dengan perubahan yang terjadi pada uweng. Namun mereka tidak cukup berani menanyakan penyebabnya. Kini Uweng membuka bengkel yang dimodali dari hasil patungan kader pks di cabangnya. Setelah itu, ia dicarikan seorang istri solehah sebagai pendamping hidupnya.

Uweng bahagia dengan segala yang ia dapatkan. tak lupa ia meminta maaf kepada masyarakat dan menjadi teman yang baik bagi mereka. Masyarakat pun sudah tidak menganggap Uweng sebagai preman pasar yang garang, melainkan sebagai tukang bengkel yang baik dan mau menolong pada sesama.

Selama proses memperbaiki diri. Ia melihat kondisi didaerahnya yang tidak kunjung berubah. Pembangunan yang tidak merata. Hal ini membuatnya semakin resah. Ditambah selama ia menjadi preman sangat faham betul dengan kondisi didaerahnya. Melihat keresahan serta keseriusannya untuk membangun daerah tempat Uweng tinggal. PKS mencalonkannya sebagai Caleg DPRD kab. Lebak. Pada saat itu, ia sempat ragu, karena biasanya untuk menjadi Caleg perlu modal yang besar. Namun ia diyakinkan oleh rekan-rekannya untuk menerima amanah dari PKS. Akhirnya ia pun menerimanya.

            Bermodalkan usaha dari bengkel serta dorongan dari rekan-rekannya membuat Uweng begitu serius melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Bila caleg lain hanya datang kepada masyarakat bila menjelang pemilu, Uweng sudah sering berinteraksi dengan masyarakat. Sehingga tidak terlalu sulit ketika mensosialisasikan dirinya. Berkat kegigihan serta keyakinan yang kuat, Uweng diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk mewakili mereka di legislative. Tentu ini bukanlah sebuah kebanggaan tapi tanggung jawab yang berat. Sehingga ia akan betul-betul menjalankan amanah ini dengan segala kemampuan yang dimiliki dengan tidak meninggalkan masyarakat yang sudah mempercayainya. “Ini amanah, saya harus menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Sekaligus memberikan manfaat bagi mereka yang sudah lama merindukan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.” Begitu tuturnya.

Post a Comment

 
Top