GuidePedia

0
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid pulang mengisi Khutbah Idul Adha di Masjid Al-Inabah (Dok. Khairuddin Safri)
KabarPKS.com - Jakarta - Hidayat Nur Wahid terpilih sebagai Wakil Ketua MPR RI Periode 2014-2019. Keterpilihan tersebut menjadi wujud konkret sekaligus kesempatan Hidayat untuk membuktikan kelayakannya atas Penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana yang pernah ia terima pada tahun 2009.

Dalam rangka Peringatan HUT ke 64 Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 2009, Hidayat menjadi salah satu penerima Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan tersebut diberikan kepada WNI atau seseorang yang memiliki integritas moral dan keteladanan, serta berjasa luar biasa di bidang yang bermanfaat bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kemakmuran bangsa. Penganugerahan tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian dan pengorbanan Hidayat di bidang sosial-politik diakui besar manfaatnya bagi bangsa dan negara, baik di tingkat nasional maupun internasional.


Setelah merampungkan pendidikan master dan doktor di Universitas Islam Madinah, Hidayat kembali ke tanah air dan aktif bergabung dalam berbagai organisasi dan kegiatan sosial-politik sejak awal periode 1990-an. Beberapa contoh diantaranya antara lain Yayasan Alumni Timur Tengah, penerbitan Jurnal Ma'rifat, dosen Pasca Sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah, serta Universitas Asy-Syafi'iyah, Jakarta. Hidayat juga pernah menjabat sebagai Ketua Koordinator Tim Agama di Forum Indonesia Damai (FID), organisasi yang dibentuk para tokoh lintas agama, atas permintaan dari Nurcholis Madjid, Emmy Hafidl, dan Imam B. Prasodjo.      


Hidayat mulai fokus menjalani karier politik sejak ikut mendeklarasikan Partai Keadilan (PK) pada Juli 1998, yang kemudian bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai politik menjadi alat perjuangan Hidayat berkontribusi membangun bangsa. Hidayat menyadari betul bahwa dengan sistem demokrasi, peran parpol sangat esensial. Baik dari sisi legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, sistem politik di Indonesia menempatkan parpol sebagai aktor politik strategis dalam mempengaruhi kebijakan.

Di internal partai, Hidayat pernah menjabat sebagai Presiden PKS periode 2000-2004. Kepemimpinan Hidayat diuji dengan gagalnya PKS lolos ke Senayan dari hasil Pemilu tahun 2000. Hidayat menyadari bahwa salah satu kelemahan partainya yang harus dievaluasi adalah karakter PK yang tersegmentasi. PK dianggap eksklusif karena konstituennya terbatas pada kalangan terpelajar muslim perkotaan. Di masa kepemimpinan Hidayat, PK bertransformasi menjadi PKS pada Juli 2003. Program kerja partai lebih inklusif dan latar belakang konstituen semakin beragam.


PKS pun mengejutkan publik sebagai parpol muda yang lolos ke Senayan dari hasil Pemilu 2004. Dalam waktu kurang dari satu tahun, PKS memperoleh suara 7,34% berhasil lolos parliamentary threshold dan meloloskan wakilnya ke Senayan. Hidayat ikut terpilih sebagai wakil rakyat serta memperoleh amanah sebagai Ketua MPR RI periode 2004-2009. Pada masa jabatan 2009-2014 Hidayat kembali menjabat sebagai legislator DPR RI dari Fraksi PKS.


Selama berkiprah di dunia politik, Hidayat Nur Wahid dikenal sebagai tokoh yang amanah dan merakyat. Baik di internal partai maupun atas nama Anggota DPR RI, Hidayat aktif mengajak masyarakat untuk sadar politik. Aksinya dikemas dalam berbagai kegiatan populis. Seperti bakti sosial ke perkampungan, terjun langsung memberi bantuan saat bencana, jaring aspirasi dengan makan bersama warga, ikut kerja bakti membersihkan tempat ibadah, dan sebagainya. Berbagai kegiatan tersebut dapat disimak melalui website http://www.hnwchannel.com.


Website personal Hidayat merupakan salah satu caranya untuk selalu dekat dengan masyarakat. Rakyat dapat mengetahui berbagai program dan kegiatan yang dilakukannya, serta berinteraksi langsung melalui akun media sosial, seperti twitter dan instragram. Hidayat ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa politik dapat dipahami dalam pengertian yang lebih luas, tidak terbatas pada dinamika pusat atau kepentingan elit tertentu. Rakyat juga dapat berpartisipasi politik dengan ikut menyuarakan aspirasinya melalui media-media sosial yang ia miliki.


Sepekan dilantik sebagai Wakil Ketua MPR RI, Hidayat langsung diutus sebagai salah satu Delegasi RI dalam pembahasan mata acara khusus (Emergency Item) Sidang Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-131 di Jenewa, Swiss, Selasa (14/10). Dalam acara yang bertajuk “the role of parliaments in supporting an immediate an robust international response to the Ebola epidemic” itu Hidayat mengatakan bahaya yang ditimbulkan oleh penyebaran virus Ebola merupakan ancaman nyata terhadap masyarakat internasional.


Dengan statusnya yang terpilih kembali sebagai Pimpinan MPR RI untuk periode 2014-2019, Hidayat mengemban amanah besar dalam perjuangannya di bidang sosial-politik. Meskipun ia terpilih dalam situasi politik yang terfragmentasi, namun Hidayat memilih untuk tidak membuat hal tersebut sebagai masalah besar.


Di awal pengumuman tentang terpilihnya Hidayat sebagai pimpinan MPR RI, ia langsung mengajak semua stakeholder kembali merapatkan barisan, "Mari, sudah saatnya para legislator fokus membangun kemitraan berorientasi rakyat!"


Post a Comment

 
Top