GuidePedia

0
TEBING TINGGI (25/11) - Persoalan banjir tahunan di Tebing Tinggi dan kekeringan irigasi seluas 7.558 ha di Serdang Bedagai akan segera teratasi dengan dibangunnya Bendungan Sei Padang. Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Gatot Pujo Nugroho, melakukan peletakan batu pertama (ground breaking)pembangunan bendungan sistem gerak yang diperkirakan selesai pada Juli 2017.
Gubsu didampingi Wakil Gubsu, Erry Nuradi; Walikota Tebing Tinggi, Umar Zunaidi Hasibuan; dan Bupati Serdang Bedagai, Soekirman; meresmikan pembangunan bendungan di Jalan Pandan Ujung Lingkungan III Kelurahan Tambangan, Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebing Tinggi. Hadir pula Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provsu, Dinsyah Sitompul; Kepala Dinas Pertanian, H. M. Roem; Kadis Kehutanan, Halen Purba; Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A); Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A); Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Serdang Bedagai dan Kota Tebing Tinggi; serta masyarakat setempat.
Bendungan Gerak Sei Padang dirancang untuk dapat mengairi Daerah Irigasi (DI) Bajayu seluas 4.000 ha, DI Payalombang 1.558 ha, dan DI Langau 2.000 ha. Pembangunan dilaksanakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah II. Bendungan yang letaknya berdekatan dengan Bendungan Bajayu itu menelan biaya sebesar Rp 220.524.211.600 (220,5 milyar) dengan waktu pelaksanaan 1.260 hari kerja. Pembangunan bendungan diperkirakan selesai pada Juli 2017.
Sementara itu pada saat yang sama, BWS Wilayah II juga melaksanakan pembangunan bendungan dan peningkatan jaringan irigasi Belutu yang menelan biaya Rp 155.221.303.600 (155,2 milyar) dengan waktu pelaksanaan 1.058 hari kerja, dan ditargetkan selesai pada Desember 2016.
Gubsu dalam sambutannya mengatakan bahwa ia sudah memaparkan proyek pembangunan bendungan yang diistilahkannya Bajayu (Batak, Jawa dan Melayu) kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada saat pertemuan presiden dengan gubernur se-Indonesia di Istana Bogor, Senin (24/11). Gubsu juga menyampaikan apresiasi kepada P3A, GP3A, IP3A, dan masyarakat setempat yang sudah mendeklarasikan dukungan atas pembangunan bendungan.
“Mari kita bersama mendukung pembangunan bendungan ini. Karena ini adalah mimpi masyarakat Tebing dan Sergai sejak tahun 2000. Dengan sukses pembangunan ini, maka semoga di tahun 2017 persoalan banjir di Tebing Tinggi dan persoalan kekeringan air di Serdang Bedagai dapat terselesaikan,” kata Gubsu.
Gubsu menjelaskan bahwa Sumut menempati ranking kelima penyumbang surplus beras nasional. Sumut surplus 240 ribu ton yang memberikan sumbangan untuk pencapaian target 10 juta surplus nasional per tahun.
“Itu kontribusi ketika kondisi irigasi kita kupak kapik. Kalau beberapa bendungan sudah selesai dibangun, maka Sumut akan memberikan kontribusi lebih besar lagi,” ujarnya.
Kepala BWS Wilayah II, Pardomuan Gultom, mengatakan dengan dibangunnya kedua bendungan itu, yaitu Bajayu dan Belutu, maka akan bermanfaat bagi daerah irigasi seluas 19.330 ha di Kabupaten Serdang Bedagai. Pardomuan juga menjelaskan bahwa bendungan sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi areal persawahan di Serdang Bedagai. Jika diasumsikan 1 ha sawah menghasilkan 7 ton, dengan harga 1 kg gabah Rp 4.000, maka bila dikalikan dua kali masa tanam setahun, total areal yang terairi itu akan menghasilkan Rp 1,064 triliyun per tahun.
“Alokasi anggaran yang digunakan untuk membangun kedua bendungan sebesar Rp 375,7 milyar dapat dibayarkan oleh hasil persawahan Sergai tidak sampai setahun,” ujarnya.
Sementara itu Walikota Tebing Tinggi, Umar Zunaidi Hasibuan, mengungkapkan rasa syukurnya bahwa rencana pembangunan bendungan yang menjadi solusi banjir tahunan di Kota Tebing Tinggi akhirnya dapat terwujud.
“INi program kami, namun baru setelah tahun pemerintahan kami berjalan, perjuangan ini akhirnya terwujud. Semoga 2017 tidak ada lagi banjir yang disebabkan Sei Padang,” katanya.
Di sisi lain Bupati Serdang Bedagai, Soekirman, mengatakan pembangunan bendungan sudah diidamkan sejak tahun 2000 ketika Gubernur Sumut dijabat oleh T. Rizal Nurdin. “Ini adalah anugerah yang sudah kita idamkan sejak tahun 2000-an. Rupanya ditangan Pak Gatot proyek ini baru terealisasi,” ujarnya.
 Soekirman mengingatkan bahwa bendungan tidak ada artinya apabila hutan di wilayah hulu dalam hal ini Simalungun tidak terjaga. Dia mengusulkan pembentukan Otoria DAS (Daerah Aliran Sungai) Sumut untuk mendukung ketersediaan air dan menghambat deforestasi.
Sumber: http://www.gatotpujonugroho.co

Post a Comment

 
Top