GuidePedia

0
Padang Panjang (11/11) – Delegasi silat dari berbagai aliran Minangkabau dan Sunda berkumpul di Padang Panjang, Sumatera Barat. Delegasi Silat Minangkabau ada sembilan aliran minang (Silat Kurambi, Sungai Patai, Pauh, Kumango, Sitaralak, Tuo, Batumandi, Paingan, dan Sunua). Sedangkan delegasi Silat Sunda ada empat perguruan pencak (Cimande, Bela, Sang Saka Buana, dan Panglipur). Mereka berkumpul di Rumah Budaya Fadli Zon, Aia Angek Cottage, Selasa (11/11).
Acara yang berlangsung di Jalan Raya Padang Panjang-Bukittinggi KM 6 tersebut diselenggarakan atas prakarsa Fadli Zon (budayawan), Mak Katik (tokoh silat minang), serta Ki Jatnika (tokoh silat sunda). Tampak hadir pada acara tersebut Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno; Bupati Agam, Indra Catri; serta Walikota Payakumbuh, Reza Palevi.
Indra Catri dalam sambutannya menyampaikan bahwa pertemuan tersebut mempertemukan dua akar dari perkembangan silat di Indonesia. Melalui pertemuan ini diharapkan akan lahir dan terbentuk peradaban serta akar persilatan yang harus tetap dipertahankan. "Acara seperti ini diharapkan menjadikan titik mula kebangkitan silat, dan sudah saat nya untuk membangkitkan kembali silat yang selama ini dikatakan mati suri,” ungkap Bupati Agam tersebut. 
Ki Jatmika dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada penyelenggara karena acara tersebut sekaligus menjadi ajang mempererat persahabatan antara Minang dan Sunda. Ki Jatmika juga menjelaskan sekilas tentang perkembangan silat di Sunda, terutama Silat Cimande yang merupakan silat tertua di Sunda. "Saya berharap acara seperti ini tidak hanya untuk kali ini saja. Namun terus dilanjutkan sehingga bisa mengangkat budaya kita,” harapnya. 
Sementara Fadli Zon, sebagai penggagas dan tuan rumah, menyampaikan bahwa silat bukan hanya sekedar beladiri, namun juga bisa menjadi sarana pembangunan karakter. "Character building (pembangunan karakter) hanya bisa didapat pada budaya dan sejarah. Apabila ingin mengembangkan diri, maka kita harus mampu membentuk character building tersebut. Apalagi dengan menghadapi era globalisasi, silat dapat menjadi salah satu benteng dalam menghadapi hal tersebut,” ungkap budayawan yang juga Wakil Ketua DPR RI itu. 
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, menyampaikan kemungkinan adanya kesamaan antara Silat Minang dengan Silat Sunda. “Ini terlihat dari gerakan dan jurus yang ditampilkan dari kedua daerah. Acara seperti ini merupakan salah satu langkah dalam memelihara dan melestarikan kebudayaan bangsa, khususnya bagi Silat Minang sendiri,” ujarnya.    
Gubernur juga mengimbau kepada Bupati/ Walikota untuk mendorong anak-anak dan kaum muda agar tertarik dan mau mempelajari silat dengan sungguh-sungguh. "Sama-sama kita ketahui, saat sekarang anak-anak dan kaum muda Minang sudah jarang untuk mengetahui tentang silat. Yang menggeluti silat tersebut hanya orang-orang tua saja. Jadi apabila nanti saat orang-orang tua sudah tidak ada, maka ilmu silat tersebut pun akan ikut punah. Karena ilmu silat tersebut tidak tertulis dan itu merupakan sebuah kerugian bagi Minangkabau sendiri,” kata Irwan.
Sumber: Humas Sumbar

Post a Comment

 
Top