GuidePedia

0

Jakarta (6/11)- Hadi Mulyadi diamanahkan Fraksinya di komisi yang membidangi energi, sumber daya mineral, riset, teknologi, serta lingkungan hidup. Ia memandang Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan. Misalnya, masalah pemenuhan kebutuhan dasar serta eksploitasi SDA (Sumber Daya Alam) yang belum menyejahterakan rakyat.

Sebagai wakil rakyat dari Kalimantan Timur, Hadi memiliki target dan harapan tersendiri memperjuangkan aspirasi serta kepentingan daerahnya. Terutama dalam hal pemenuhan infrastruktur dan kebutuhan dasar. “Akhir-akhir ini persoalan DAU (Dana Alokasi Umum) santer diberitakan di berbagai media lokal Kaltim. Kalau melihat dana DAU ini, Aceh dan Papua yang mendapat otonomi khusus memperoleh DAU. Riau pun yang katanya sebagai provinsi penyumbang APBN terbesar juga masih dapat DAU. Persoalan ini ingin saya perjuangkan hingga bisa menjadi perhatian Kementerian Keuangan untuk kemudian dikoreksi,” tegas Hadi.

Kaltim sebagai penyumbang devisa terbesar, menurutnya tidak mendapatkan keuntungan balik yang memadai. Ia menyoroti kebutuhan dasar seperti listrik, air, sandang, pangan dan papan masyarakat Kaltim yang belum terpenuhi secara merata. “Ada sekitar 25% masyarakat kaltim di bawah garis kemiskinan. Padahal SDA kita begitu melimpah. Tidak hanya itu, eksploitasi SDA dilakukan dimana-mana tapi tidak menyejahterakan rakyat, akibatnya muncul ketidakadilan,” ujar pria yang pada periode 2009-2014 adalah Wakil Ketua DPRD Provinsi Kaltim ini.

Ia mensinyalir warga Kaltim merasakan betul adanya ketimpangan. Ia menunjuk segi infrastruktur yang jauh tertinggal dari Sumatera, apalagi di Jawa. Dalam sorotannya, bahkan masih ada daerah-daerah yang sulit air, semisal di Kecamatan Long Apare, Kabupaten Mahakam, perbatasan Kalimantan Timur. “Disana (Long Apare) tingkat kesejahteraan rakyatnya rendah, bahkan bisa dibilang warganya cenderung lebih dekat dengan Malaysia,” kata pria yang menyelesaikan studi S1 dan S2 di Universitas Hasanuddin, Makassar tersebut.

Hadi menambahkan bahwa persoalan keamanan di berbagai daerah serta pembangunan ekonomi yang belum mandiri, juga masih menjadi masalah krusial Ibu Pertiwi. Ia mengkhawatirkan kasus pencurian dan perampokan yang kerap terjadi di Kaltim.

Banyak yang menjadi pekerjaan rumah seorang Hadi Mulyadi. Ia melihat persoalan utama bangsa ini juga masih terletak pada pembangunan ekonomi yang belum mandiri. “Kita masih terikat dengan bantuan asing atau donor. Ini yang harus segera dibenahi, kita harus benar-benar bisa lebih mandiri,” pungkas Hadi yang juga Anggota Majelis Syuro PKS itu.
Baca juga: 

Hadi Mulyadi, Putra Samarinda Pejuang Kepentingan Kaltim di Senayan (Bagian 1)

Post a Comment

 
Top