GuidePedia

0
Jakarta (6/11) – Kalimantan Timur (Kaltim) mengirimkan putra terbaiknya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2014-2019. Hadi Mulyadi, pria kelahiran Samarinda, 9 Mei 1968, menjadi Anggota Komisi VII DPRRI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS). Sebelum mencapai kursi Senayan, Hadi merupakan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) selama dua periode. Ia juga dikenal masyarakat sebagai pendiri Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Cordova, Samarinda, serta aktif sebagai pengajar di beberapa majelis ta’lim. Latar belakang tersebut menjadi modal Hadi maju dan dipercaya masyarakat Kaltim menjadi wakil mereka di tingkat pusat.
Meskipun telah lama berkiprah di dunia politik, Hadi mengaku menghadapi tantangan besar dalam Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2014. ”Kaltim itu sangat luas, sekitar satu setengah kali Pulau Jawa ditambah Madura. Disana ada 15 kabupaten/kota dan saya harus keliling ke semua daerah,” ujar Hadi menyebut satu tantangan itu. Tantangan kedua, menurutnya adalah yaitu sistem pemilihan yang menggunakan sistem proporsional terbuka. Kompetisi yang terjadi menurutnya tidak hanya antarpartai tetapi juga antarcaleg.
Ia mendengar, butuh Rp 10 Milyar per caleg untuk maju ke Senayan. “Kalau saya, dengan izin Allah, maju bermodalkan pendekatan ke masyarakat. Menyampaikan program yang baik, tulus, dan berpihak kepada rakyat. Dengan bantuan kader, simpatisan, dan relawan semua Alhamdulillah saya terhitung masuk kursi ke-lima dari delapan kursi wakil Kaltim, tanpa menggunakan biaya sebesar yang dikabarkan,” jelas Hadi yang juga Ketua DPP PKS Bidang Wilayah Dakwah Kalimantan ini.
Masuk ke DPR dalam iklim yang berbeda dari sebelumnya, yaitu terjadinya pembelahan kekuatan yang frontal antara partai-partai pemerintah dan partai-partai penyeimbang, Hadi menyatakan hal tersebut adalah hl biasa saja. Menurutnya sistem pemerintahan Indonesia yang berbentuk presidensial, peran sebagai kekuatan penyeimbang bertujuan menjaga pemerintahan tetap di jalur yang benar (on the track). “Saya mendukung (posisi PKS sebagai penyeimbang), apalagi kalau kita jadi kekuatan penyeimbang yang konstruktif, positif, dan dikelola dengan baik,” jelas pria yang sebelumnya menjadi Dosen Politeknik Negeri Samarinda tersebut.
Bersambung ke : 

Hadi Mulyadi Perjuangkan Sumberdaya Alam untuk Kesejahteraan Rakyat (Bagian 2 -Habis)

Post a Comment

 
Top