GuidePedia

0
Jakarta (12/12) – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Ma’mur Hasanuddin, meminta pemerintah untuk memberikan perhatian khusus kepada beras dan garam, yang menurutnya merupakan komoditas strategis dengan potensi swasembada sangat besar. Demikian disampaikan Ma'mur di Jakarta, Jum'at (12/12).
Menurut Ma’mur, beras sudah memiliki sejarah berulang bahwa negara kita pernah swasembada. Tinggal kemauan pemerintah untuk fokus dalam kerjanya untuk mencapai swasembada tersebut. Di era Soeharto, pada tahun 1984 Indonesia dinyatakan mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras atau mencapai swasembada pangan. Organisasi Pangan Dunia, Food and Agriculture Organization (FAO) pun mengundang Soeharto untuk menerima penghargaan atas prestasinya.
Setelah 24 tahun sejak tahun 1984, di era Presiden SBY Indonesia kembali swasembada beras. Namun, swasembada beras 2008 tidak bertahan lama, hanya sekitar satu tahun.
“Swasembada beras tahun 2008 itu hanya bersifat semu karena menjelang Pemilu 2009. Terbukti beberapa pejabat saling klaim atas jasa swasembada beras tahun 2008 ini. Namun, apapun sifat swasembada itu, terbukti bahwa tahun 2008 Indonesia berhasil swasembada beras,” kata Ma’mur.
Untuk garam, lanjut Ma’mur, Indonesia baru mampu swasembada pada kebutuhan konsumsi rumah tangga, itu pun dengan tingkat kekeringan yang minim. Sedangkan untuk garam yang digunakan untuk industri, dimana garam yang diperlukan memiliki kekeringan yang tinggi, hingga saat ini masih impor dan bentuk swasembadanya baru sebatas roadmap.
“Dua komoditas strategis beras dan garam ini sangat berpotensi untuk tercapai swasembada. Tinggal Pak Menteri Amran dan Bu Menteri Susi serius dalam mengawal tujuan program swasembada ini. Jika perlu, Presiden secara rutin melakukan Rakortas (Rapat Koordinasi Terbatas) dengan kementerian terkait dalam pencapaian swasembada komoditas,” kata Ma'mur.

Post a Comment

 
Top