GuidePedia

0
Setiap mahasiswa pasti punya impian kelak ke mana setelah lulus. Begitu pula bagi Dina Ahsan, jebolan salah satu Akademi Bahasa di Bandung ini tidak menyangka jika akhirnya akan blusukan dari Posyandu ke Posyandu, bergilir untuk 74 Pos Pelayanan Terpadu di Kecamatan Regol, Kota Bandung.
Selama hampir 1 jam bincang bincang, tak menyiratkan penyesalan bahkan semangat dan bahagia yang tersirat dari setiap ucapan kata. Siapa sebenarnya dia? Ibu dari 7 putra putri dengan anak sulung yang baru kelas 1 SMP ini adalah istri dari Drg. Ocky Pranata, Sp BM. Hari-harinya tak pernah sepi dari melayani meski tak digaji layaknya seorang karyawati, karena memang tak bekerja di perusahaan atau instansi.
Dina bersama ibu-ibu di timnya dalam kesehariannya antara pukul 9 sampai dengan pukul 12 siang, memanfaatkan jam kosong tak ada anak suami dirumah, mengalokasikan waktunya untuk mengadvokasi Posyandu di lingkungan dimana dia tinggal. Baginya punya kepuasan tersendiri dapat ambil peran dalam Pendampingan Kader Posyandu (PKP). PKP ini program yang digulirkan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan sejak tiga tahun lalu dan Netty Prasetyani sebagai istri gubernur yang memonitor langsung pelaksanaannya di lapangan.
Dina melanjutkan, selain mengadvokasi kader Posyandu, berdiskusi dengan Sekretaris Camat sebagai Pokjanal Posyandu, berkoordinasi dengan Lurah, jalin hubungan dengan Puskesmas sebagai Pembina Posyandu di wilayah kerjanya, sehingga waktu benar-benar harus cermat dibagi, antara aktivitas di rumah, fasilitator Kampung Berkebun dan konselor PKP. Sebagai warga dan tentunya yang tak boleh lupa mengurus anak dan melayani suami. Wouw....kebayang hebohnya. Capai badan tentu, hilang waktu pasti, tapi manakala kebun yang ditanam sayur warga tumbuh subur, Dina sebagai pendamping fasilitator Kampung Berkebun bersyukur, karena berarti penunjang kegiatan Posyandu bertelur, sehingga tak perlu keluar dana buat sediakan bubur anak balita. Juga punya kepuasan tersendiri manakala dana yang dikucurkan Gubernur untuk bantuan operasional dan penyediaan sarana & prasarana Posyandu yang dikawal PKP jatuh ke tangan pengelola secara utuh berwujud sarana dan prasarana yang langsung bisa dinikmati warga.
Tak selamanya program advokasi berjalan mulus, kadang terbentur tembok dulu baru bisa dipahami. Seperti dicontohkan, ketika salah satu Kader Posyandu yang sempat dipecat dari kepengurusan bisa kembali masuk ke Pengurusan dan direhab nama baiknya, setelah menghadirkan tokoh yang terkait dan pembahasan panjang, bahwa Dana Bantuan Gubernur untuk Posyandu harus dibukukan dan dipertanggung jawabkan tersendiri tanpa harus melalui PKK RW.
Disingggung kepuasan, Dina nampak bersemangat menceriterakan ketika baru baru ini deal dengan PT Inti dalam mengajukan proposal untuk menyumpang 5 Posyandu sekaligus. 
"Ini merupakan kepuasan yang tak bisa dinilai dengan uang, meski saya pribadi tak mendapat sepeserpun," kata Dina.
Ini salah satu kepuasan lahiriah dari banyak capaian keberhasilan kerja yang semua berlandaskan undang-undang yang mengatur sepak terjang PKP. Untuk kepuasan ruhani ketika nilai nilai yang berlandaskan ajaran agama ditularkan lalu diikuti dan dilaksanakan.
Karena memang tak hanya segi fisik yang diadvokasi tapi penanaman nilai nilai juga jadi bagian Moto saya sederhana.
"Terus bergerak seperti air yang mengalir, jangan sampai terhenti dan menggenang," ujar Dina ketika penulis menanyakan motonya. Rupanya ini yang membakar semangatnya bahwa sesulit apapun medan di lapangan, tapi program harus sampai kesasaran. Dua jempol untuk Dina, Srikandi dari Balong Gede, kota Bandung.
Penulis: Frieda (Kader PKS Kota Bandung)
Sumber: www.pksbandungkota.com

Post a Comment

 
Top