GuidePedia

0
MEDAN (31/12) - Demi menurunkan angka kematian Ibu hamil maupun melahirkan, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara melalui Dinas Kesehatan terus berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan dengan mengoptimalkan sejumlah sarana dan prasarana kesehatan yang ada. Berbagai macam cara dilakukan, diantaranya dengan mengoperasikan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebanyak 154 unit rawat inap dan 416 non rawat inap, 206 rumah sakit, serta penyediaan tenaga ahli kesehatan di 6.113 desa se-Sumatra Utara yang terdiri dari 977 dokter umum, 10723 bidan desa, 353 dokter spesialis anak, dan 291 dokter spesialis kandungan.

Alhasil angka kematian ibu hamil maupun melahirkan di Sumatra Utara mengalami tren penurunan sejak tahun 2012 – 2014. Pada tahun 2012 sebanyak 274 Ibu hamil meninggal dunia, kemudian pada tahun 2013 menurun menjadi 249 jiwa, dan terus menurun menjadi 152 jiwa per Oktober 2014. Keberhasilan tersebut merupakan upaya Pemerintah Sumatra Utara untuk memenuhi pencapaian program Millenium Deveopment Goals (MDG’s) pada tahun 2015.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatra Utara, RR Siti Hartati Surjantini mengatakan hingga Oktober 2014, sebanyak 152 bayi lahir selamat dari total 206.990 bayi yang lahir di Sumatra Utara. Dari 33 kabupaten/kota di Sumatra Utara, Kabupaten Asahan menjadi penyumbang angka kematian ibu terbanyak dengan jumlah 14 orang. “Adapun penyebab terbesar kematian tersebut akibat pendarahan sebanyak 50 orang, eklampsia 43 orang, infeksi 10 orang, partus macet 5 orang, abortus 3 orang, dan lain-lainnyak 41 orang,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (30/12).

Sementara itu,  untuk angka kematian neonatal, bayi dan balita di Provinsi Sumatra Utara  juga menunjukkan grafik menurun dua tahun terakhir.  Pada 2013 misalnya, kematian neonatal sebanyak 951 jiwa, bayi 1.183 dan balita 1.317 jiwa, sedangkan pada tahun 2014 sebanyak 828 neonatal meninggal dunia, bayi 1.012 dan balita 1.122 jiwa. Atas prestasi itu, Provinsi Sumatra Utara dianugerahi Penghargaan Manggala Karya Bakti Husada Kartika oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada November 2014 yang lalu.

Post a Comment

 
Top