GuidePedia

0
JAKARTA (3/12) - Pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Sukamta berpendapat bahwa Indonesia sedang mengalami dinamika politik baru. Di satu sisi terdapat sekelompok partai berada dalam pemerintahan, sedangkan di legislatif dipimpin koalisi partai di luar pemerintahan.
“Saya berharap dengan pengalaman baru ini semakin mendewasakan diri bangsa dalam berpolitik. Karena selama ini baik eksekutif maupun legislatif cenderung dikuasai oleh partai pemenang pemilu,” ujarnya.
Pendewasaan politik, menurut Sukamta, merupakan kondisi dimana pemerintahan bisa berjalan dinamis dan mendatangkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Eksekutif menetapkan program yang kemudian diajukan ke DPR. Di DPR program tersebut dibahas dengan lebih tajam dan kuat untuk kepentingan rakyat.
“Kalau eksekutif dan legislatif berasal dari satu kelompok yang sama, boleh jadi yang diuntungkan bukan masyarakat, tetapi justru kepentingan kelompoknya,” jelas Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS DI Yogyakarta itu.  
Oleh karena itu, dalam mengemban amanah sebagai wakil rakyat dan mengawal jalannya pemerintahan, Sukamta telah menetapkan target-target yang hendak dicapai hingga tahun 2019. Ada beberapa isu yang menjadi fokus Sukamta, meskipun ia paham bahwa target yang ditetapkan tersebut juga bergantung pada dinamika politik eksekutif dan legislatif.
“Misalnya isu energi, menurut saya itu kebutuhan masyarakat yang wajar. Saya berharap sekali energi tidak lagi menjadi komoditas politik. Begitu pula pangan dan sandang, seharusnya menjadi komoditas murah bagi masyarakat. Meski murah, petani pun harus bisa makmur. Oleh karena itu, sangat diperlukan intervensi negara,” papar Pembina Yayasan dan Ketua Litbang Sekolah Internasional Lukman al-Hakiem, Kotagede, Yogyakarta tersebut.
Sukamta kemudian menambahkan isu lingkungan serta politik luar negeri Indonesia sebagai isu yang menjadi fokusnya. Sukamta berkata, “Kondisi lingkungan hidup saat ini sedang kocar-kacir. Minyak habis, ganti hutan. Hutan habis, ganti batu bara. Begitu seterusnya. Bisa-bisa nanti 20 tahun lagi negara kita bisa seperti Gurun Sahara.”
Sedangkan mengenai isu luar negeri, Sukamta berharap dalam perkembangan bangsa kedepan, Indonesia tidak lagi hanya mengurus urusan dalam negeri, melainkan lebih berperan aktif dalam persoalan luar negeri.
“Kita tidak hanya menunggu untuk bebas aktif, seolah seperti penjaga gawang saja. Tapi betul-betul aktif. Kita konkretkan isi UUD 1945 yang menegaskan ‘penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.’ Nah, konteks ini harus benar-benar diperankan.”
Sukamta memberi contoh mengenai peran negara dalam kemerdekaan Palestina. Ia mendesak politik luar negeri Indonesia harus dibenahi dengan benar. “Saya ingin melihat Indonesia yang lebih baik dari hari ini, lebih berbudaya, lebih sejahtera, dan lebih aman,” pungkasnya.

Post a Comment

 
Top