GuidePedia

0
JAKARTA (3/12) - Aktif menulis di berbagai media, seperti “Mindset Ekspansi” dan “Adu Kuat Legislatif-Eksekutif” – keduanya dirilis Harian Republika edisi Oktober 2014 – Sukamta dikenal sebagai anggota dewan yang cerdas dengan pemikiran kritis mengenai Indonesia. Sukamta memiliki pandangan tersendiri terhadap kondisi Indonesia dewasa ini, terutama dalam bidang ekonomi dan bonus demografi.
Di bidang ekonomi, menurut mantan Ketua Pusat Informasi dan Pelayanan (PIP) PKS Inggris ini, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi besar. Ekonomi bangsa terus tumbuh di tengah resesi dunia. Dibandingkan negara lain yang perekonomiannya cenderung menurun atau bahkan tidak tumbuh sama sekali. “Kita harus bersyukur perekonomian Indonesia di atas lima persen selama sepuluh tahun terakhir,” katanya.
Sedangkan perihal bonus demografi, Sukamta berpandangan bahwa dengan kondisi jumlah penduduk usia produktif lebih dari 70 persen, Indonesia memiliki struktur masyarakat yang sangat potensial menopang ekonomi bangsa. Namun realitanya, justru negara masih lebih sering menjual bahan mentah. Sedangkan hasil produksi dari komoditas barang olahan belum dominan.
“Ini yang menjadi tantangan kita saat ini. Bagaimana caranya agar pertumbuhan ekonomi kita didasarkan pada hasil ekspor bahan-bahan added value, yang sudah tentu diolah tenaga Indonesia sendiri. Sehingga kedepannya, tidak hanya mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan kita sebagai konsumen, tetapi juga produsen,” jelas Dosen Institut Sains dan Teknologi (ISTA) Yogyakarta tersebut.
Tidak hanya dari segi ekonomi dan bonus demografi, Sukamta juga berpendapat mengenai masalah krusial sosial-politik yang dihadapi ibu pertiwi. Sukamta mengatakan dari segi sosial, Indonesia sedang memasuki masa transisi, yaitu terjadi perubahan orientasi masa lalu pada masyarakat. Ibarat perubahan teknologi dari era analog menjadi digital, masyarakat pun telah berubah dari yang dulu lebih tradisional, sekarang sudah banyak yang longgar.
Dalam menghadapi perubahan orientasi masyarakat, menurut Sukamta, Indonesia membutuhkan leadership(kepemimpinan) yang kuat. “Leadership sangat penting guna menjadi panutan dan memberi contoh ke masyarakat. Sehingga ketika kita maju, kita tidak kehilangan jati diri,” tuturnya.
Sukamta menambahkan, kehadiran leadership yang kuat juga menjadi kunci transisi politik Indonesia. “Leadershipyang kuat akan memiliki keyakinan untuk membuat sistem politik yang bagus. Sebaliknya, apabila kita dipimpin oleh leadership yang lemah justru tidak ada keberanian untuk membangun sistem politik yang kuat tersebut, karena akan berusaha melegitimasi kepentingannya sendiri,” tegas Sukamta. Ia berpandangan bahwa kepemimpinan yang lemah justru memperkuat pihak-pihak tertentu menggunakan negara untuk menyelamatkan posisinya sendiri.

Post a Comment

 
Top