GuidePedia

0
JAKARTA (14/1) - Rencana Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) menganti buku pegangan siswa dengan teknologi E-Sabak bagi sekolah-sekolah di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) mendapat tanggapan dari Anggota Komisi X DPR RI, Surahman Hidayat.
Menurut Surahman, saat dihubungi pewarta sebelum memimpin rapat Pimpinan MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) di Gedung DPR RI Jakarta pada Rabu (14/1), Kemendikbud perlu untuk menganalisa secara matang rencana penggunaan E-Sabak tersebut.
“Menurut saya pribadi, E-Sabak sebaiknya dijadikan sebagai back up (penunjang) bukan pengganti buku. E-Sabak adalah sarana pendukung yang membantu proses akselerasi peningkatan mutu pendidikan. E-Sabak lebih baik dijadikan sebagai sarana tambahan bukan utama, sarana kertas tetap dibutuhkan dalam proses pendidikan," tegas Surahman.

Selama ini, lanjut Surahman, kebijakan yang dibuat Pemerintah seringkali dilakukan dengan terburu-buru, sehingga menghasilkan kebijakan yang tambal sulam.
"Kemendikbud harus melakukan kajian yang mendalam terhadap rencana itu, agar dapat dipastikan dalam proses pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan tepat," tutup Surahman.

E-sabak merupakan inovasi baru dunia pendidikan Indonesia untuk mengganti buku pelajaran yang selama ini memakai kertas menjadi electronic book (e-book). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memprioritaskan daerah terluar Indonesia menjadi lokasi distribusi utama.

Post a Comment

 
Top