GuidePedia

0
Jakarta(29/1)-Menemani Rasulullah bisa dilakukan siapa saja yang bermujahadah dan dengan memperbanyak ibadah dan sujud (shalat). Itulah yang disampaikan oleh Iman Santos ketika mengisi kajian rutin pekanan Haditsul Khamis, di MD Building Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) pada Kamis (29/1).

Beliau melanjutkan materi pembahasan pada kajian Kamis (22/1) lalu, yaitu mengenai Mujahadah. pada kajian mujahadah kali ini hadits yang dikupas adalah hadits ke dua belas pada bab  Mujahadah. Hadits kedua belas adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Firas, yaitu Rabi'ah bin Ka'ab al-Aslami. Dia adalah salah satu pembantu Rasulullah.

Hadits ini menjelaskan tentang dialog antara Abu Firas sebagai pembantu dan Rasulullah sebagai majikan. Betapa hebat komunikasi dakwah Rasulullah bahkan kepada pembantunya sekalipun. Beliau berkata kepada Abu Firas agar meminta sesuatu darinya, namun Abu Firas meminta sesuatu yang luar biasa. Dia meminta agar bisa tetap menemani Rasulullah di surga. Lalu Rasulullah mengulangi pertanyaannya "Salni ya Abu Firas.." mintalah kepadaku Abu Firas, hingga tiga kali. tapi jawaban Abu Firas tetap sama. ingin menemani Rasulullah di surga.

Kemudian Rasulullah memberikan nasihat kepada Abu Firas apabila ingin menemaninya di surga maka harus memperbanyak sujud. Maksud sujud disini adalah memperbanyak sujud pada shalat. shalat yang dapat diperbanyak jumlah sujudnya adalah shalat sunnah. inilah salah satu bagian terpenting mujahadah. yaitu bermujhadah lewat sujud dalam shalat.

"Semangat para sahabat untuk bisa menemani Rosulullah di surga, Rabiah sudah bisa
menemani rasul di dunia sehingga ingin menemani beliau di surga. Begitu juga dengan 
sahabat lainnya. Tentu kita juga sebagai yang utama, karena kita belum pernah bertemu 
Rasulullah, maka keinginan dan kesungguhan kita harus lebih kuat. Terutama shalat isya dan 
shalat shubuh. Apabila kita masih berat melakukan kedua shalat tersebut maka masih ada 
bibit penyakit nifaq dalam hati kita dan harus dihilangkan." ujar Iman.

Iman juga menuturkan, para pejuang dakwah haruslah bisa mentarbiyah diri sendiri, keluarga bahkan pembantu yang dalam masyarakat termasuk dalam tingkat sosial yang rendah. Dengan begitu tidak ada jarak antara majikan dan pembantu, dalam hal dunia dan akhirat. Para kader wajib mentarbiyah pembantunya agar sama atau lebih tingkatan ruhiyahnya. Contohnya adalah dengan ikut mengajak shalat berjamaah. ini juga bagian penting mujahadah, seperti kisah Abu Firas dan Rasulullah.

"Kita harus mempunyai halaqah dan binaan karena itu karena itu adalah salah satu bentuk mujahadah. Karena satu orang yang mendapat hidayah dengan perantaraan kita maka itu lebih baik dari dunia dan seisinya dan motivasinya harus datang dari dalam diri kita sendiri, bukan merupakan ta’limat dari murabbi atau yang lain. Bila terjadi kebekuan dalam mujahadah kita maka itu merupakan suatu musibah untuk kita." pungkasnya.

Post a Comment

 
Top