GuidePedia

0
Semarang (14/1) – Kondisi kelangkaan gas elpiji 3 kg semakin tidak terkendali. Harga yg melambung dan silitnya mendapatkan barang sudah berlangsung selama dua pekan terakhir. Hal itu disampaikan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Riyono.
Dikatakan Riyono, kondisi ini membuat rakyat semakin sulit dan terbebani oleh kenaikan gas elpiji ini. "Kondisi kelangkaan dan naiknya harga gas epliji belum di sikapi oleh dinas dan pertamina" kata Riyono saat rapat dengar pendapat dengan disperindag dan komisi B, Selasa (13/1/2015).
Berdasarkan data yang ditemukan Riyono, harga gas elpiji di limbangan boja sdh 22.000, di banyumanik bahkan pernah 25.000. “Problem saat ini dalam hal pengawasan ternyata Disperindag propinsi tidak mampu mengawasi sampai ke penerima gas bersubsidi ini,” tandas politisi PKS Jateng ini.
Data yang ada, kata Anggota DPRD dari Daerah Pemilihan (DP) X ini adalah bahwa alokasi gas elpiji 3 kg saat ini sekitar 2489 metrik ton per hari atau 900.000 tabung. “Sementara, janji pertamina akan menambah 9% alokasi sampai hari ini belum jelas,” tegasnya.
Rencananya, berdasarkan informasi kadis perdagangan pertamina dan esdm baru akan rapat hari jumat 15 Januari 2015 mendatang. Sementara, persoalan lain yang muncul adalah penentuan harga yang dilakukan oleh kabupaten dan kota melalui peraturan Bupati atau Peraturan Walikota.

“Kondisi ini berbahaya karena barang bersubsidi harusnya distribusi dilakukan secara ketat dan terbatas, saat ini gas subsidi 3 kg sdh menjadi barang bebas dan jelas menyalahi peraturan,” pungkasnya.
Sumber: Humas PKS Jateng

Post a Comment

 
Top