GuidePedia

0


Jakarta (4/2) - Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2015 yang diusulkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, program penanggulangan banjir perkotaan yang notabene sasarannya untuk kawasan perkotaan belum mendapatkan porsi yang memadai. Dengan rencana alokasi sekitar Rp7 Triliun, berarti tidak sampai 6 persen dari total anggaran kementerian tersebut yang berjumlah Rp117 Triliun dialokasikan untuk program penanggulangan banjir perkotaan.
Demikian disampaikan Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PKS, Sigit Sosiantomo dalam rapat kerja Komisi V DPR-RI dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (3/2).
“Program Penanggulangan Banjir Perkotaan menurut hemat saya belum proporsional. Berikan porsi yang lebih besar karena masalah itu tidak bisa ditangani oleh kota saja. Di Surabaya ada aliran Kali Brantas dan Bengawan Solo, dan itu ada lintas kota ada lintas provinsi,” kata Sigit.
Tahun 2012, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan telah mencapai 54 persen. Angka tersebut melambung tinggi dibandingkan hasil sensus penduduk 2010. Saat itu, sebanyak 49,8 persen dari 237,6 juta penduduk Indonesia tinggal di kota. Jika angka pertumbuhan linier saja, maka proporsi penduduk perkotaan tahun ini bisa mencapai 60%.
Masalah banjir di perkotaan memang semakin kompleks.Semakin banyak kota yang sebelumnya jarang dilanda banjir, tiba-tiba belakangan ini harus berjibaku dengan banjir. Dulu hanya dikenal Jakarta sebagai kota yang kerap banjir atau Semarang dengan langganan banjir akibat rob, kini Surabaya juga harus waspada. Contohnya ketika hujan deras mengguyur Surabaya pada tanggal 18 Desember 2014 dari sore hingga malam mengakibatkan banjir sesaat yang hampir merata di seluruh wilayah Kota Pahlawan itu.
Dampaknya sejumlah jalan protokol terendam air hujan seperti halnya di Jalan Basuki Rachmat, Jalan Ahmad Yani, Panglima Sudirman, Kertajaya, Gubernur Suryo, Darmahusada dan lainnya. Selain itu, sejumlah kawasan permukiman yang sebelumnya tidak pernah terendam banjir, akhirnya terendam, seperti halnya di kawasan permukiman Sutorejo, Petemon, Rungkut dan lainnya.
Sebelumnya pada tanggal 13 Maret 2014, Surabaya juga mengalami banjir setelah diguyur hujan selama 2 jam. Hampir di seluruh wilayah Surabaya digenangi banjir, bahkan Jl Ciliwung banjir mencapai setinggi dada orang dewasa. Sementara di wilayah Surabaya Barat, seperti Simo Gunung, Sukomanunggal, hingga Tandes justru makin parah dengan ketinggian banjir mencapai leher orang dewasa.
Dengan fenomena bertambahnya kota yang dilanda banjir, selain perlu anggaran penanggulangan banjir perkotaan yang proporsional juga dibutuhkan Peta Banjir Nasional. Peta ini akan menjadi basis data dalam mengambil kebijakan dan program penanggulangan banjir. “Dengan adanya Peta Banjir Nasional maka lokasi atau daerah yang sering dilanda banjir, akan lebih mudah dialokasikan anggarannya," pungkas legislator PKS daerah pemilihan Jawa Timur I yang meliputi Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya ini.

Post a Comment

 
Top