GuidePedia

0
SOLO (5/3) – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Abdul Kharis Almasyhari mengatakan DPR sudah mengusulkan kepada pemerintah untuk memperkuat peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) agar rakyat tidak menjadi korban pasar bebas. Hal ini dikatakan Kharis dalam merespon keluhan masyarakat terkait naiknya kebutuhan bahan pokok dalam acara serap aspirasi di Joyotakan – Serengan, Solo, Jawa Tengah, pada Rabu (4/3) malam.
"Kami sudah usulkan ke pemerintah untuk perkuat peran TPID agar masyarakat tidak jadi korban pasar bebas. Sementara itu mengenai raskin, kami juga sudah usulkan untuk perbaikan kualitasnya. Kami juga meminta untuk mengganti istilah raskin dengan rasidi atau beras bersubsidi," kata Kharis.
Salah seorang warga, Asih, mengeluhkan kualitas beras raskin yang beredar di masyarakat untuk mengatasi naiknya harga beras sangat rendah. Sementara itu warga lain, Sutono, juga mengeluhkan naiknya berbagai kebutuhan bahan pokok, namun tidak diimbangi dengan besarnya penghasilan.
"Masyarakat sangat terbebani dengan kenaikan harga sembako, sedangkan penghasilan sehari-hari belum bisa bertambah," keluh Sutono.
Di lain topik, warga bernama Musmualim mengeluhkan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang dirasa berat. Musmualim mengungkapkan iuran BPJS dibebankan kepada masing-masing anggota keluarga.
"Banyak warga yang mengeluhkan tentang iuran BPJS yang dirasa berat karena bila dalam satu keluarga ada 7 orang, maka total iurannya akan banyak. Belum lagi ada isu iuran itu akan naik pada 2016 kelak,” ungkap Musmualim.
Menanggapi beratnya iuran BPJS, Kharis berjanji akan menekan pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk menurunkan tarif iuran per bulan.
"Kami akan berusaha menekan pemerintah agar menurunkan tarif bulanan, bahkan kami juga akan menolak rencana kenaikannya. Harusnya penghapusan subsidi BBM kemarin bisa dialihkan untuk subsidi sebagian ke kesehatan," ujarnya.
Acara serap aspirasi Abdul Kharis bersama masyarakat Joyotakan merupakan salah satu agenda reses anggota dewan pada masa Sidang II DPR RI. Kegiatan kali itu tampak istimewa dengan hadirnya satu gerobak Hidangan Istimewa Kampung (HIK) lengkap dengan isinya di sebelum pintu masuk ruangan reses. Gerobak HIK yang disediakan Kharis berisi nasi kucing, gorengan, dan berbagai menu minuman.
"Ada sebuah ungkapan, ke Solo tanpa nge-HIK ibarat mendengarkan lagu tapi tidak selesai. Konsep itulah yang saya bawa ke Joyotakan dalam rangka menyerap aspirasi mereka. Kita wedhangan sambil diskusi santai," ujar Kharis.
Sumber: Humas PKS Solo

Post a Comment

 
Top