GuidePedia

0
Jakarta (6/3) – Pada kegiatan pekanan “Haditsul Khamis” edisi Kamis (5/3) di Gedung MD Building DPP PKS, Jakarta Selatan, Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim juga membahas mengenai pentingnya melibatkan berbagai golongan dalam suatu syuro.

Ustadz Musyaffa mengisahkan tentang masa kekhalifahan Umar bin Khattab yang dimulai setelah Abu Bakar As Sidiq meninggal dunia. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, terdapat pergantian anggota Dewan Pertimbangan (Penasihat). Khalifah Umar membentuk Dewan Pertimbangan dalam sebuah tim yang berisi kelompok Asyia Fu Badri, yang beranggotakan sahabat-sahabat senior veteran Perang Badar.

Namun, saat itu ada suatu hal yang membuat Asyia Fu Badri tercengang. Mereka terkejut ketika Umar bin Khattab memasukkan seorang pemuda dalam susunan Dewan Penasihatnya. Hal ini mengundang banyak pertanyaan. Asyia Fu Badri pun, lanjut Ustadz Musyaffa, “komplain” kepada Umar bin Khattab. 

Menjawab komplain para sahabat, Khalifah Umar mengatakan bahwa ia mengetahui kompetensi pemuda yang bernama Ibnu Abbas tersebut. Menurut Umar, Ibnu Abbas memiliki kapasitas dan pengetahuan yang tidak jauh berbeda dengan para Asyia Fu Badri.

“Untuk menunjukkan kompetensi Ibnu Abbas, Khalifah Umar memanggil Ibnu Abbas ketika para Asyia Fu Badri berkumpul. Setelah Ibnu Abbas tiba, Umar bin Khattab langsung memberikan pertanyaan kepada mereka. Umar bertanya mengenai makna dari QS. An Nasr,” tutur Ustadz Musyaffa.

Menurut Asyia Fu Badri, kata Ustadz Musyaffa, makna dari surat An Nasr adalah supaya kaum muslimin banyak-banyak membaca tahmid, istighfar, dan tasbih. Usai mendengar jawaban para veteran, Umar bin Khattab pun melontarkan pertanyaan yang sama kepada Ibnu Abbas. Ia menjawab bahwa  jawaban Asyia Fu Badri tidak salah, namun juga tidak semata mata itu.

Surat An Nasr, kata Ibnu Abbas sebagaimana disampaikan Ustadz Musyaffa, merupakan isyarat ajal Rasullulah SAW telah dekat. Oleh karena itu, Allah SWT menyuruh Nabi untuk meningkatkan dan memperbanyak kebaikan serta taubat, beberapa diantaranya dengan meningkatkan bertahmid, ber-istighfar, dan  ber-tasbih. Umar pun menanggapi, “Yang saya tahu juga begitu Ibnu Abbas,” tegasnya.

“Dalam Hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memimpin haruslah seimbang. Salah satunya dalam hal penempatan golongan. Janganlah hanya mengambil golongan yang tua saja, atau yang muda saja. Namun, harus ada keseimbangan yaitu mencampurkan kedua golongan tersebut menjadi satu,” kata Ustadz Musyaffa.

Hal ini disebabkan, lanjut Ustadz Musyaffa, memunculkan yang muda saat ada anggota tua (senior) akan lebih baik untuk proses regenerasi. Hal ini juga lebih optimal demi penurunan nilai-nilai.
“Selain itu yang harus digarisbawahi adalah dalam pemilihan golongan muda pun juga tidak asal-asalan, yaitu harus memiliki kriteria yang berkompetensi dan berkapasitas, seperti Ibnu Abbas,” tutup Ustadz Musyaffa.


Post a Comment

 
Top