GuidePedia

0


SAMARINDA (27/2) - Sambutan hangat diberikan Zaenal kala Kaltim Post menyambangi kediamannya di Perum Sempaja Lestari Indah, Jalan KH Wahid Hasyim, Samarinda Utara, Selasa (24/2) lalu. Ia terlihat antusias, karena ini adalah wawancara pertama kalinya dengan media cetak maupun elektronik, sejak berhenti sebagai Anggota DPRD Kaltim dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2004 lalu, Zaenal terpilih lewat daerah pemilihan (dapil) Bontang, Kutai Timur dan Berau. Lima tahun kemudian (2009), ia kembali maju dari dapil yang sama dan lagi-lagi lolos. Namun Pemilu 2014 langkahnya terhenti. “Dulu sebenarnya orangtua ingin saya jadi guru,” ucap ketua DPW PKS Kaltara itu.
Namun, dinamika kehidupan telah membawanya ke dunia politik. Tapi satu hal yang membuat Zaenal tak berkecil hati, sepanjang bisa mengabdikan diri untuk masyarakat tak ada kata sesal. “Walaupun tidak jadi guru, saya tetap bisa mengabdi ke masyarakat sebagai anggota DPRD. Itu adalah bentuk pelayanan,” jelasnya.
Berangkat dari niat berkontribusi maksimal bagi masyarakat, membuatnya tak kaku ketika tak lagi sebagai Anggota DPRD. Sepuluh tahun menjelajahi wilayah Kaltim dan Kaltara, adalah modal besar baginya untuk mengetahui potensi tiap daerah. Hasilnya, kini di Bulungan (Kaltara) Zaenal sedang menggarap salah satu komoditas unggulan yang belum maksimal dikembangkan, yakni berkebun lada.
“Selama ini petani-petani kita cenderung tradisional. Jadi, beberapa kelompok pertanian dan penyuluh pertanian lapangan saya ajak bergabung berkebun lada,” tuturnya.
Suami Mulyanti itu menjelaskan mengapa ia memilih berkebun lada. Hal itu dimulai kala ia berangkat ke Istambul, Turki beberapa waktu lalu. Di salah-satu pusat perbelanjaan yang ia sambangi, ternyata rempah-rempah yang dijual mayoritas dari Indonesia.
Kebutuhan lada di luar negeri sangat besar dan kualitasnya disenangi. Tapi permasalahannya sedikit yang bisa tembus ke pasar internasional. “Cuma memang sistem ekspor-impor kita belum bagus. Jadi petani kita dirugikan. Produk kita jadi primadona di luar negeri, tapi sulit didapat. Jadi saya berpikir, kalau ini (lada) dikembangkan sangat bagus,” terangnya.
Perlahan, usaha yang dikembangkan pun mulai menanjak. Petani yang dulunya hanya mampu menjual lada berkualitas dengan harga Rp 60 ribu per kilogram, kini dijual Rp 200 ribu per kilogram.
“Ini baru empat bulan terakhir saya mengakomodasi petani. Menjembatani petani dan pedagang. Masalahnya sebenarnya ada di marketing. Lada sekarang sudah mulai bergairah,” sebut laki-laki kelahiran Pinrang (Sulsel), 23 Juni 1971 itu.
Agar produksi semakin meningkat, lahan yang sebelumnya 1,5 hektare dikembangkan menjadi 100 hektare. Lokasinya masih di Bulungan. Kelompok tani yang bergabung jumlahnya 20 unit. Menurut anak ketiga dari enam bersaudara itu, ketika panen, satu hektare tanaman lada bisa menghasilkan 2,4 ton per tahun.
Adapun panen raya dilakukan dua kali dalam setahun. “Kami sedang menginventarisasi lahan-lahan dataran tinggi di Bulungan. Dengan area yang besar, kebutuhan lada kita akan ter-cover. Saya bangga, tak jadi anggota DPRD tapi dipertemukan petani-petani berkualitas,” tutur alumnus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu dengan semangat.
Sumber: http://www.kaltimpost.co.id

Post a Comment

 
Top