GuidePedia

0
JAKARTA (24/4) – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriatna digadang-gadang berpeluang kuat menduduki jabatan Panglima TNI menggantikan Jenderal Moeldoko yang akan memasuki masa pensiun pada Juli mendatang. Hal tersebut dengan pertimbangan siklus rotasi bergilir antara KSAU, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Namun demikian, Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq mengatakan, ketiga Kepala Staf Angkatan baik KSAU, KSAL, dan KSAD mempunyai peluang yang sama kuat sebagai calon pengganti Panglima TNI. Pasalnya, semua kandidat sama-sama cakap dan mempunyai pengalaman karir yang panjang, punya kapasitas intelektual yang bagus.

"Menurut saya tiga kepala staf itu merupakan calon kuat ke depan, tapi dengan mempertimbangkan pergiliran, saya pikir sekarang memang mestinya siklusnya Angkatan Udara (AU) meskipun, Presiden punya hak prerogatif untuk menetapkan siapa calon Panglima," kata Mahfudz, di Jakarta, Jumat 24 April 2015.

Politisi dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai, pemilihan calon Panglima TNI ke depan harus tetap mempertimbangkan rotasi antar angkatan. Walaupun tidak diatur dalam undang-undang, kata Mahfudz, tapi hal itu sudah menjadi konsensus politik yang cukup baik dan ini tetap harus diperhatikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Saya pikir dari ketiga angkatan memang memiliki sumber daya manusia yang cakap dan baik, tapi faktor rotasi atau giliran ini tetap harus dipertimbangkan," ucapnya.

Sebelumnya, Panglima TNI berasal dari Angkatan Laut (AL) dijabat oleh Laksamana Agus Suhartono, kemudian digantikan oleh Jenderal TNI Moeldoko yang berasal dari Angkatan Darat (AD).

"Kalau kita disiplin dan konsisten dengan rotasi tentu ke depan mestinya berasal dari Angkatan Udara. Juli beliau (Moeldoko) pensiun, satu bulan sebelumnya nama itu sudah harus masuk ke DPR untuk mengikuti fit and proper test. Ya kurang lebih Juni," ucap Mahfudz.

Menurut Mahfudz, ke depan Indonesia membutuhkan sosok Panglima TNI yang lebih mampu merespons kepentingan Indonesia dalam kacah global, mengingat tantangan TNI ke depan sangat kompleks.

"Kita berharap sosok Panglima TNI ke depan bukan hanya mampu mendorong peningkatan kinerja pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat seperti yang dilakukan Panglima TNI saat ini. Tapi juga mampu menampilkan peran-peran diplomasi internasional, untuk mengangkat posisi Indonesia di kancah regional dan global," jelasnya.

Mahfudz juga menambahkan bahwa sosok Panglima TNI yang baru pun harus menangani tugas secara internal seperti menuntaskan rencana strategi (renstra), kemudian menuntaskan reformasi TNI, menyelesaikan renstra modernisasi alutsista. Termasuk menjalankan renstra kesejahteraan prajurit TNI. Terakhir adalah peningkatan peran diplomasi TNI dalam kancah bilateral, regional, dan global.

"Kalau peran internasional sudah diambil dengan mengirimkan pasukan perdamaian dunia tapi Indonesia dengan kapasitas TNI nya mampu memainkan peran yang lebih besar," pungkasnya.



Sumber: cdn.sindonews.net

Post a Comment

 
Top