GuidePedia

0
MEDAN (30/4) – Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nuroho melakukan zikir bersama umat Muslim di Masjid Ar-Rivai, Jalan Sisingamangaraja No. 5 Medan, usai Shalat Isya berjamaah di lokasi sama, Kamis malam (30/4).

Dalam kesempatan ini Gatot mengapresiasi kegiatan zikir dan doa ini. Kegiatan ini sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas apa yang diperoleh dan dihasilkan Taman Pendidikan Islam (TPI) hingga usianya ke 65 dalam bidang pendidikan untuk masyarakat Provinsi Sumatera Utara.

"Atas nama pemerintah dan masyarakat saya mengucapkan terimakasih kepada para pendiri para pejuang Taman Pendidikan Islam," ujar Gatot.

Sebagaimana diketahui, dalam lintas sejarah, lanjut Gatot, ruh dari kehadiran Taman Penddidikan Islam adalah untuk mengentaskan kebodohan di masyarakat perkebunan pada waktu itu.

Gatot juga mengatakan bahwa dari informasi yang diterimanya, bahwa  lembaga pendidikan keagamaan yang ada hari  ini sungguh sangat memperihatinkan, baik fasilitas sarana prasara maupun dari minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah keagamaan.

"Hari ini kita hadir di sini dalam rangka milad Taman Pendidikan Islam yang ke 65 tahun dan memang baru pertama kali ini saya masuk ke lokasi ini dan Insya Allah lokasi ini memiliki sarana prasarana sangat baik," ujarnya.


Gatot juga menjelaskan bahwa jihad merupakan  sesuatu yang asing bagi umat Islam saat ini. Padahal jihad adalah puncak kejayaan Islam. Jadi kalau ruh tidak ada maka Islam tidak ada kejayaannya. Maka sudah tidak ada lagi mahkota itu pada umat Islam kalau jihad menjadi sesuatu yang asing. Namun, lanjut Gatot sering kali jihad disalahartikan seperi faham ISIS.

"Jihad adalah amal dan menurut yang saya fahami, Islam memerintahkan untuk beramal dan keislaman kita. Jihad dimakna sama dengan amal tapi amal yang berkesinambungan yang disertai kesungguhan," paparnya.

Jadi kalau dikaitkan dengan momentum Peringatan Taman Pendididikan Islam yakni amal yang terus-menerus dengan kesungguhan yakni mengembalikan umat ini pada pendidikan Islam.

"Rasanya sudah saatnya kita kembalikan kejayan Islam dengan cara mengembalikan ummat ini pada pendidikan Islam, maka jihad seperti ini akan bangkit kembali pendidikan agama salah satunya Taman Pendidikan Islam," tegas Gatot.

Sementara itu Ketua Pimpinan Pusat Taman Pendidikan Islam, Ismet Danial Nasution dalam sambutannya mengungkapkan penghargaan dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak baik pemerintah, swasta, dan masyarakat yang telah memberikan perhatian, bantuan dan kerjasamanya kepada Taman Pendidika Islam sejak didirikan pada tanggal 1 Mei 1950 sampai saat ini.

"Kami menyadari bahwa eksistensi TPI selama 65 tahun ini adalah berkat kerjasama yang baik di antara kita semuaya," ujarnya.

Memperingati hari jadi bagi warga TPI, khususnya di usianya yang ke-65 tahun ini merupakan momentum yang sarat arti dan nilai khususnya kepada generasi penerus TPI untuk mampu mengevaluasi dan menganalisis eksistensi TPI di tengah-tengah masyarakat bangsa dan negara Indonesia sebagaimana landasan filosofis cita-cita dan program perjuangan TPI yang telah diikrarkan oleh para pendiri dan pejuang TPI yaitu Tri Azimah Karya, Tri Program Karya, dan Tri Bakti Karya.

"Bagi TPI, era glogalisasi saat ini merupakan tantangan positif untuk mempertajam landasan Tri Azimah Karya yakni mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang Ilmiawan Amaliawan, serta maaliawan," tutupnya.

Ketua panitia HUT Ke-65 TPI, Ikrom Helmi Nasution dalam laporannya menyampaikan sekilas berdirinya Taman Pendidikan Islam yakni mulai 1 Mei 1950 hinga 1 Mei 2015 yang telah berusia 65 tahun maka patut disyukuri oleh segenap keluarga besar Taman Pendidikan Islam sebagai salah satu institusi pendidikan yang tertua di Provinsi Sumut khususnya di Kota Medan dan sampai saat ini masih tetap eksis melaksanakan pendidikan dari berbagai jenjang pendidikan yang diasuhnya dan telah memberikan kontribusi kepada negara Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

"TPI yang lahir setelah diproklamirkannya kemerdekan RI 17 Agustus 1945 mengambil basis perjuangannya pertama dan utama di daerah perkebunan Sumut dan Aceh guna mendidik masyarakat perkebunan pada waktu itu di bidang pendidikan agama agar mereka dapat menjalankan syari'at agama Islam sesuai Al-Qur'an dan Hadist," ujarnya.




Sumber: Humas Kantor Gubernur Sumatera Utara

Post a Comment

 
Top