GuidePedia

0

Oleh: Rika Januarita Haryati

Satu partai yang menarik perhatian saya sejak SMA adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS unik dan energik. Unik karena berbasis Islam modern. Kehadirannya mengingatkan kita pada Masyumi yang digawangi Muhammad Natsir  di era Orde Lama. Enegik karena digerakkan oleh orang-orang muda dan atau yang berjiwa muda.  Memang sempat ada cemas, karena yang namanya pemuda biasanya suka euphoria semangat di awal. Ibarat api yang berkorbar, lama-lama padam ketika semua kayu habis terbakar. Tapi ternyata PKS ini tetap melaju hingga hari ini, meski sempat tersandung Electoral Threshold (ET) yang sebesar 2%, sehingga mengubah namanya yang dulunya adalah Partai Keadilan (PK) menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Dulu juga pernah ada PRD yang digerakkan oleh kaum muda, tapi sekarang tinggal dalam kenangan. Para elitnya sudah merapat ke partai yang telah mapan dan besar.

Tentu, sebagai anak SMA di tahun 2004, saya masih ingat dengan perkataan Anis Matta yaitu jika di tahun berikutnya PKS mengalami kegagalan elektoral lagi, maka PKS akan mengubah namanya menjadi Partai Keadilan Sejahtera dan Perjuangan dan Persaudaraan dan Kerakyatan, dst.

Tentu saja kita mafhum, jangankan PKS, PDI yang para elitnya adalah orang-orang yang notabene mapan dalam  politik, uang, dan massa pun juga pernah mengalami kegagalan kan? Sehingga sekarang menjadi PDIP.

September kali ini menjadi ajang perhelatan bagi PKS untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa PKS akan mengukuhkan konsistensinya dalam melayani rakyat. Di medio bulan September 2015, internal PKS akan melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 pada 14 dan 15 September 2015 di Depok, Jawa Barat. Tema besar yang diusung kali ini adalah Berkhidmat untuk Rakyat. 

Sebagai anak muda, saya melihat PKS memiliki cita-cita besar untuk Indonesia. Bukan sekedar kendaraan politik. PKS adalah dakwah. Meskipun aral halangan menghadang, PKS akan terus berdakwah. Kader-kadernya adalah dai sebelum ia menjadi apapun. Jika PKS kalah, lihatlah, dakwahnya tetap berjalan. 

Saya juga melihat bahwa PKS adalah satu-satunya partai yang mengkader. Kaderisasinya berjalan. Sehingga siapapun bisa menjadi pemimpin jika memenuhi kualifikasi kepemimpinan yang telah ditetapkan. Ini berbeda dengan partai lain yang mengandalkan popularitas dan uang. Karena, seperti kita ketahui bersama, bahwa yang dilihat masyarakat sebagai konstituen bukanlah kompetensi tapi dua hal tadi (popularitas dan uang). 

Pencapaian PKS di tahun 2014 meningkat terutama untuk DPRD, tapi yang terlihat seolah-olah PKS menurun. Ini dikarenakan PKS belum memiliki media yang menceritakan perkembangan perolehan suara di PKS. PKS masih bekerja dalam sunyi. Merevolusi dalam sunyi. Tanpa hingar bingar media. Sehingga mau kompetensi kader-kadernya lebih mumpuni sekalipun, masyarakat tidak akan melihatnya. Kita ambil contoh, jika berbicara pemimpin berprestasi, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), memiliki seabreg prestasi, tapi jarang tersorot kamera media. Bekerja banyak, pencapaiannya pun banyak, tapi media tidak meliputnya. 

Saya benar-benar ingin melihat mulai di tahun ini, media yang memiliki cita-cita besar untuk Indonesia. Tidak hanya sekedar memberitakan karena dibayar. Tapi memberitakan karena memang fakta. Agar  masyarakat melihat, partai mana yang benar-benar akan melayani mereka. 

Sampai sekarang, saya tetap salut dengan PKS. Di PKS, suksesi kepemimpinan selalu berjalan aman dan damai. Tanpa ricuh dan kisruh. Tidak ada money politic. Tapi, masyarakat tidak melihat ini. Padahal ini merupakan poin penting bahwa pemimpin yang dihasilkan dengan jalan damai biasanya akan membawa kedamaian. Salutnya lagi, citra PKS yang masih melekat hingga saat ini adalah bersih dan peduli. Menurut saya, partai yang lain belum punya citra ini.

Hal yang harus diingat, dalam memilih, masyarakat masih melihat partai mana yang memberi logistic paling besar dan partai mana yang memenangkan polling di media. Padahal, polling bisa direkayasa. Tinggal siapa yang paling besar bisa membayar mobilisasi untuk memenangkan polling tersebut. 

Maka, PR besar bagi PKS, dengan kepemimpinan yang baru ini, ada baiknya PKS mulai menggandeng media sebagai partner dalam bekerja. Saya yakin, masih ada media yang memiliki cita-cita yang sama besarnya dengan PKS untuk Indonesia. Saya juga yakin masih ada media yang juga siap Berkhidmat untuk Rakyat.

Selamat berkhidmah kepada para pemimpin baru PKS. Selamat berkarya kepada presiden PKS yang baru, Muhammad Sohibul Iman. Selamat bekerja kepada Ketua Majelis Syuro yang baru, Salim Segaf Al Jufri. Selamat Munas kepada PKS. Semoga tetap menjadi anugrah untuk Indonesia.

Post a Comment

 
Top