GuidePedia

0
oleh Lisa Epriani

"Kamu sudah yakin mau berjilbab, Nak?" tanya Ibu ketika nonton tv.

"Iya Bu, niat ini sudah bulat...Bismillah."

Pertanyaan sekitar lima belas tahun ini tak pernah aku lupa, karena ini awal aku memantapkan hati untuk menggapai hidayah-Nya. Ibu sempat melarang karena khawatir aku labil, hingga tak bertahan lama memakai pakaian takwa ini. Walaupun tak setuju Ibu tetap membelikanku beberapa pakaian juga jilbab. Jilbab yang Ibu berikan masih aku simpan dan sesekali aku kenakan.

Ujian itu datang, setengah tahun setelah aku memantapkan hati untuk berjilbab. Allah memanggil Ibuku dalam proses persalinan. Ibu syahid dalam berjuang melahirkan adik keduaku, di usia 38 tahun. Bukan hanya Ibu tapi calon adikku belum sempat lagi melihat dunia.

Ujian ini membuatku hampir saja melepas kembali pakaian takwa ini. Aku menyebutnya ujian kemantapan hati. Aku merasa Allah tak adil, di saat aku bersungguh-sungguh tapi justru dikoyak oleh ujian ini. Tapi perkataan dan nasehat-nasehat Ibu kembali terngiang, bahwa Allah sesungguhnya memberi ujian sepaket dengan solusinya. Tapi apalah daya terpuruk tetap saja aku dan adikku rasakan, kami ditinggal Ibu masih dalam keadaan labil. Begitulah, aku memutuskan untuk tetap mengenakan jilbab dan terus berproses memperbaiki diri, mengenakan jilbab yang lebih sesuai syariat. Aku yang terbiasa berpakaian menyerupai laki-laki mulai berproses mengenakan gamis, rok dan jilbab yang lebih panjang menutupi dada.

Jika aku melepas jilbab, justru aku kalah dalam melewati ujian ini. Aku yakin Allah Maha Baik dan tak pernah membiarkan hambanya sendirian, selalu dijaga dan dilindungi. Alhamdulillah setelah kepergian Ibunda sekitar empat belas tahun lalu hingga sekarang akupun tetap istiqomah dengan jilbabku, begitupun adikku yang sudah menikah dan memiliki dua orang anak laki-laki sekarang juga telah menggunakan pakaian takwa. Yaa Rabb jaga kami agar senantiasa istiqomah, jangan Kau lepaskan hidayah ini dari kami. Aamiin.

Keyakinan Berhijab

Aku memakai hijab saat kuliah semester dua, berteman dengan orang-orang shalih dan shalihah membuatku terus belajar tentang Islam dan mengetahui mengapa seorang muslimah berhijab dan bahwa sesungguhnhya Allah menyayangi muslimah dengan hijab.

Perintah Allah seperti yang dituangkan dalam Al-Qur'an surat An-Nur (24) ayat 31 yang artinya: 

"Dan katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra meraka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."

Begitupula perintah Allah yang ada dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab (33) ayat 59 yang artinya: 

"Wahai Nabi Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutup jilbabnya (jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah dan dada) ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak digangu. Dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang."

Dua ayat tersebut adalah panduan yang melekat mengapa seorang muslimah dan khususnya aku mengapa menggunakan jilbab. Jadi tidak hanya melaksanakan tanpa ilmu.

“Kecupan Terakhir untuk Ibu”

Awal 2003, aku wisuda, masuk jadi salah satu lulusan terbaik dengan IPK 3,53. Janganlah pernah ragu akan pertolongan Allah. Jika kita senantiasa berdakwah dalam mensyiarkan agama-Nya, maka urusan dunia semoga dimudahkan-Nya. Dan aku membuktikannya, di tengah keterpurukan saat ditinggal Ibu. Kondisi keuangan yang tidak baik, hidup mandiri berdua dengan adik di Ibukota, karena setahun setelah Ibu meninggal ayah kembali ke kampung halamannya. Tak ada yang sulit jika Allah menghendaki.

Akhirnya bisa punya notebook sendiri di tahun 2012, menyalurkan hobi dan meraih impian semoga lebih dimudahkan. Selama ini aku sering ikut lomba menulis, pernah kirim naskah pakai mesin tik manual atau ke rental komputer, walau sering kali naskah tak dimuat. Tapi seperti itulah kegagalan bukan menjadi penghalang untuk berhenti berkarya.

Salah satu anggota di group WA (WhatsApp) ternyata penggemar aktris cantik berjilbab Oki Setiana Dewi (OSD).

"Ada lomba menulis di blog OSD, temanya tentang kepergian orang-orang tercinta, deadline satu minggu lagi, ikutan yuk." Begitu salah satu isi chat Dewi.

"Wah, makasih infonya Dewi." Ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan buatku.

Tema kepergian aku tulis dalam sebuah cerpen, tulisan tentang kepergian Ibu. Hampir saja aku tak jadi mengirimkan cerpen ini. Karena hampir tak selesai mengerjakannya, penuh kenangan dan diiringi oleh basah di pipi dalam menulisnya. Tapi adikku yang juga membaca hasilnya, turut menyemangati.

"Ayo selesaikan kak, kamu bisa. Kisah kita pasti bisa jadi pelajaran  dan semoga bermanfaat, menang atau kalah belakangan," ujar Hanum menyemangatiku.

Naskah selesai dan terkirim dua jam sebelum lomba ditutup, kebiasaan ide mengalir di akhir deadline.

Ternyata seminggu kemudian diumumkan di blog OSD sebagai 40 kisah terbaik, tidak menyangka. Hingga terakhir bisa juara dengan tiga yang terbaik. Cerpen yang aku beri judul "Kecupan Terakhir untuk Ibu" dan inspirasi dari kisah Ibuku sendiri ternyata bisa menggugah, Alhamdulillah.

Terima kasih Ibu, engkau telah menjadi inspirasiku.

Ilustrasi: Istimewa.

Post a Comment

 
Top