GuidePedia

0

Dikutip dari Kompasiana Dodi Mawardi

Zlatan Ibrahimovic menahan bola sejenak, lalu dengan sekali hentak bola meluncur deras dari kakinya. Gol! Suporter Paris Saint German (PSG) bersorak gembira. Gol demi gol dari Ibrakadabra – demikian sebutan buat penyerang asal Swedia itu – menjadi jaminan buat PSG merajai liga Prancis. Ibra berturut-turut selama bertahun-tahun menjadi raja gol di liga tersebut. Kualitas Ibra tak dapat diragukan.

Namun apa yang terjadi satu dekade silam? Ibra muda dengan kemampuan hebatnya, terdepak dari klub terbaik dunia, Barcelona. Dengan kehebatan semacam itu, Ibra tidak dapat menyatukan dirinya dengan pelatih Barca saat itu, Joseph ‘Pep’ Guardiola. Mereka sering berbeda pendapat. Bagaimana pun, dalam sebuah klub profesional di Eropa, posisi pelatih jauh lebih utama dibanding pemain. Ketika pemain tidak mau mengikuti arahan pelatih, selesai sudah kiprahnya di klub tersebut. Ibra pun demikian. Dia didepak dan pindah ke klub lain, dan Guardiola memimpin Barcelona memasuki masa keemasan.

Dalam kancah politik Indonesia dalam 5 tahun terakhir, nama Fahri Hamzah amat nyaring terdengar. Dia vokal, terlihat cerdas, menguasai banyak masalah, dan berani. PKS, partai tempatnya bernaung, awalnya beruntung memiliki politikus sekelas Fahri. Dia berulang kali mampu menjadi benteng yang amat tangguh buat partai tersebut. Ibarat striker dalam klub sepakbola, Fahri sering mencetak gol dan bahkan menjadi top skorer di partainya selama bertahun-tahun. Tak salah jika kemudian dia didapuk menjadi salah satu pimpinan DPR.

Namun irama PKS dinamis sama halnya seperti parpol lainnya. Ibarati sebuah klub sepakbola, pelatih seringkali berganti. Apalagi parpol punya sistem dan mekanisme tentang suksesi kepemimpinan yang terpola. Ketika pucuk pimpinan berubah, berganti pula sejumlah kebijakan. Fahri dengan gaya khasnya masih tetap seperti semula.

Bahkan dalam beberapa kesempatan justru menjadi musuh publik. Sebuah hal yang amat dihindari oleh parpol. Misal ketika KPK menggeledah ruang anggota DPR yang terkena kasus korupsi, Fahri berdiri paling depan dan vokal menolak KPK. Meski alasannya mungkin benar, tapi cara politikus asal NTB ini mendapatkan respon amat neggatif dari publik. Apalagi kita tahu, KPK masih menjadi lembaga “kesayangan” publik.

Seperti sebuah klub sepakbola, partai politik harus pandai berstrategi dan memainkan peran. Mereka harus punya penjaga gawang, pemain belakang, pemain tengah, gelandang bertahan dan menyerang, sayap kanan dan kiri serta pencetak gol (striker). Strategi tersebut harus benar-benar tepat ketika pertandingan sudah dimulai. Misal pada saat pilkada atau pemilu legislatif dan pemilu presiden.

Dari kacamata komunikasi politik, partai Golkar merupakan salah satu yang terbaik untuk urusan berstrategi di hadapan publik (sebelum partai tersebut melempem akibat dualisme kepemimpinan yang sempat berlarut-larut). Mereka punya penjaga gawang dan sederet pemain bertahan yang hebat. Sosok yang teduh, bijaksana, dan piawai berpolitik. Tapi Golkar juga memiliki gelandang perusak dan penyerang murni. Dalam banyak kesempatan, Golkar memainkan irama serta strateginya. Tidak ada yang terlalu menonjol, karena semua menyelaraskan diri dengan strategi pimpinan. Media massa pun dengan senang hati mengikuti irama tersebut.

Partai lain tidak demikian. Memang belakangan mulai muncul sejumlah partai yang “meniru” Golkar dalam berpolitik. Tapi belum seberhasil partai geringin gemuk itu.

Nah, dalam konteks ini, Fahri sepertinya memang keluar dari strategi partai. Atau minimal dianggap keluar dari strategi partai. Bukan sekadar gaya bicaranya, melainkan juga pandangan dan pendiriannya yang kerap dilontarkan ke publik. Pimpinan mau bertahan dan memainkan ‘ball posession’ ala Van Gaal, dia malah terus menyerang. Bahkan ketika pimpinan menerapkan strategi ‘parkir bus’ ala Mourinho, Fahri tetap keukeuh pakai “total football’-nya Johan Cruyff. Tidak klop. Fahri seolah mau tampil sendiri dan membangun personal brand-nya sendiri. Bukan brand partai.

Sebuah pelajaran penting buat siapapun yang mau menjadi politikus sejati. Dalam sepakbola, sehebat apapun seorang pemain, klub tetap lebih penting. Dalam politik, sehebat apapun seorang politikus, partai politik tetap lebih penting. Jika mau loyal terhadap sebuah parpol, maka taati dan ikuti keputusan pimpinan parpol yang sedang berkuasa. Kalau tidak, diam saja atau tinggalkan parpol tersebut atau bahkan jangan menjadi politikus. Karena seorang politikus memang harus terikat dan seiring sejalan dengan kebijakan parpolnya.

Lihatlah Basuki Cahaya Purnama (Ahok), yang mengaku memang susah diatur. Itulah sebabnya, dia bukan politikus dan tidak akan pernah menjadi politikus karena sulit selalu sejalan dengan partai politik yang diikutinya.

Lihatlah Akbar Tanjung, seburuk dan seberbeda apapun pendapatnya dengan kebijakan pimpinan Golkar, dia tetap di situ. Dia bisa saja bikin parpol baru, tapi tidak dilakukannya. Tokoh kawakan Orde Baru itu adalah politikus sejati.

Jangan lihat para politikus yang tikus loncat, eh kutu loncat… tak perlu disebut, karena jumlahnya sangat banyak!

Akhirnya, terima kasih bung Fahri sudah memberi pelajaran!

Post a Comment

 
Top