GuidePedia

0
Sabtu (20/5) pemuda adalah masa depan sebuah bangsa. Secara usia pemuda adalah masa rentang usia 16-30 tahun. Generasi muda gampang sekali dipengaruhi pikirannya. Terutama terkait paham radikalisme dan komunisme. Demikian yang disampaikan oleh Ferinando Rad Bonay (Kepala Kesbang dan Politik Kabupaten Kendal) dalam acara Seminar Kebangsaan Menangkal Bahaya Radikalisme dan Komunisme dalam menjaga Keutuhan NKRI.

Lebih Lanjut Ferinando menyampaikan bahwa penyebaran paham radikalisme dan komunisme biasanya melalui media sosial. “Media sosial merupakan sarana efektif untuk perekrutan dan mempengaruhi pikiran” ujar Ferinando. Keberadaan media sosial merupakan media yang murah dan tidak terbatas aksesnya. Untuk itu para pelajar sebagai generasi melek media harus bisa menyaring informasi yang ada di sosial media. “pastikan sumber berita dari sumber akurat dan kalau perlu bertanya dan klarifikasi terhadap isu atau kabar yang berkembang” jelas Ferinando.

Selain itu untuk mencegah penyebaran radikalisme dan komunisme para pelajar harus beraktivitas dengan hal-hal positif. “Aktiflah di lingkungan dan ikut kegiatan positif baik di sekolah, rumah dan lingkungan sekitarnya” tutur Ferinando.
Sementara itu, H Ahmadi, SE (Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah) memaparkan saat ini NKRI merupakan negara yang kaya dan strategis. Kondisi ini selanjutnya membuat kepentingan asing mudah masuk dan menggerogoti bangsa Indonesia. Globalisasi menjadi salah satu perubahan pola dan bahaya laten komunis. Ada kemungkinan bahaya laten komunis untuk Indonesia di tahun yang akan datang berasal dari beberapa aspek terutama ekonomi dan sosial. Bahkan tidak dipungkiri bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan besar komunisme dunia.

Lebih lanjut Ahmadi yang juga Ketua Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI Jawa Tengah) menyampaikan bahwa radikalisme muncul dari salah satu  aliran politik di Britania Raya bukan dari ajaran agama tertentu. “saat ini ada kesalahpahaman dalam agama menimbulkan gerakan radikal” terang Ahmadi. “Bahkan dalam Islam melarang tindakan radikal dan kekerasan” jelas Ahmadi.”Bahkan terhadap binatang saja kita dilarang untuk menyiksa” tegas Ahmadi.

Untuk mencegah masuknya paham radikalisme dan komunisme perlu penekanan pendidikan dan pembinaan dan pembinaan agama kepada pelajar dan pemuda. “diharapkan dengan penekanan tersebut akan memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat sehingga dipengaruhi oleh pemahaman yang sesat” terang Ahmadi. Selain itu pemerintah harus terus menjaga kondisi agar tetap kondusif untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “lebih penting lagi pemerintah harus terus berupaya meminimalisir kesenjangan sosial yang ada di masyarakat” tegas Ahmadi.

Acara seminar ini merupakan rangkaian Milad PKS ke 19. Seminar ini merupakan kegiatan pendidikan politik bagi pelajar. Dengan mengambil tema Menangkal Bahaya Radikalime dan Komunisme untuk Menjaga Keutuhan NKRI, seminar ini bertujuan untuk menyikapi kondisi bangsa akhir-akhir ini yang rentan disintegrasi. “ Diharapkan dengan segmen pelajar melalui peran partai politik sebagai lembaga pendidikan politik bisa memberikan pendidikan politik sejak dini” tutur Sulistyo Aribowo. “Karena para pelajar adalah usia rentan pencarian jati diri. Kalau tidak dibentengi dengan nilai-nilai persatuan NKRI sejak dini maka mereka bisa saja terpengaruh ajaran radikal” jelas ari,  maka PKS sebagai lembaga politik yang salah satu fungsinya melakukan pendidikan politik merasa terpanggil untuk turut  menjaga keutuhan NKRI melalui seminar ini. Seminar ini menghadirkan pelajar se Kabupaten Kendal sebanyak 50 orang sebagai peserta dan Ferinando Rad Bonay (Kepala Kesbang Pol kab Kendl) serta H Ahmadi, SE (wakil ketua DPRD Jawa Tengah) sebagai pembicara. Sebagai bentuk komitmen menjaga keutuhan NKRI, maka para pelajar tersebut bersama Ketua DPD PKS Kendal H Sulistyo Aribowo, dan Kepala Kesbang politik Kab Kendal melakukan deklarasi Pelajar Kendal Jaga Keutuhan NKRI.
Pemuda Kendal Cinta Indonesia NKRI Harga Mati (AFH)

Post a Comment

 
Top