GuidePedia

0




Ada pola yang hampir sama terjadi di tengah masyarakat ( Indonesia khususnya)  , setiap kali Ramadhan dan syawal datang .
Salah seorang kawan, menganalisa adanya siklus berurutan sebagai berikut :

pekan pertama Ramadhan,  masjid mushola, langgar, surau penuh, bahkan sebagiannya sengaja mendirikan tenda tambahan untuk jamaah sholat taraweh

pekan kedua, kepadatan itu bergeser, kabarnya ke rumah rumah makan dan ruang2 pertemuan. lho kenapa?  karena banyak yang kemudian beramai ramai mulai menyelenggarakan bukber,  buka puasa bersama, mulai bukber tingkat RT RW, bukber dengan teman SD,SMP,SMA, kuliah, teman kerja, teman satu organisasi dan sebagainya, tentu dan tak  ketinggalan dengan teman2 orang tua murid semua anak2nya, walhasil,  dapur mulai tak terlihat asapnya, bukan karena tak ada yang bisa dimasak, tapi karena dapurnya pindah ke rumah rumah makan atau ke pengusaha catering .

Di pekan ketiganya,  yang mulai penuh adalah tempat2 belanja, pasar , baik yang tradisional atau yang modern, bahkan ada yang sengaja memperpanjang jam operasionalnya.muka muka manusia mulai terlihat tajam perbedaanya, satu sisi ber "seri" karena bisa memborong apa saja,  wajah lain bingung, karena semua itu tak bisa dibeli dengan daun, apalagi dengan bungkus permen, seperti alat tukar jual beli dulu ketika kami masih kanak2 .

Berikutnya, di pekan ke empat,  mulailah sesak penuh terminal bis,  stasiun, bandara, pelabuhan, pintu pintu tol dan jalan raya, sebagiannya bahkan barus menginap di tempat2 tersebut,  menunggu bisa mendapatkan tiket dan tempat duduk yang nyaman.
Yang sering membuat sedih,  dan semoga tidak banyak lagi di tahun ini dan tahun berikutnya, adalah banyaknya berita2 korban kecelakaan yang menghiasi media.

Lebaran datang, kumpul dan silaturahim bersama keluarga adalah kebahagiaan yang berkah,  maka tempat tempat wisata kemudian menjadi tempat penuh di pekan kelima.

Suasana kegembiraan dengan aneka panganan,  seringkali membuat kita lupa untuk bisa melanjutkan apa yang sudah kita biasakan di ramadhan dengan mengendalikan diri terhadap makanan, pencernaan kembali diforsir dan mengalami kekagaten,  tak ayal, pekan pekan ini mungkin suasana penuh sesak akan pindah ke puskesmas puskesmas,  me ruang ruang praktek dokter dan ke rumah sakit sebagiannya. Seorang teman yang berprofesi dokter, mengakui bahwa di bulan ramadhan relatif sepi kunjungan pasien,  dan di bulan syawal paasien banyak yang berkunjung..

Tentu tidak semua kegiatan kegiatan tersebut adalah salah, tergantung niat serta bagaimana kita memanaj agar lebih banyak maslahatnya.
Maka tugas kita bersama,  agar pola siklus seperti diuraikan di atas, bisa kita atur dengan penuh kesadaran dan penuh bijak.

Selamat mengubah Ramadhan sebagai  siklus kebaikan .


Bukit Cimanggu City,



@Sri Kusnaeni
14 Ramadhan 1438 H

Post a Comment

 
Top